Membangun Konstruksi Ketahanan Keluarga sebagai Basis Ketahanan Nasional

Data di pada Subdit Kepenghuluan Kementerian Agama (Kemenag) pada akhir tahun 2014 menunjukkan statistik yang mengejutkan tentang perceraian:

Tahun

Jumlah Pernikahan

Jumlah Perceraian

%

2011

2.319.821

158.119

6,8

2012

2.291.265

372.577

16,2

2013

2.218.130

324.527

14,6

Dan per November 2014 data dari sumber yang sama menyebutkan telah terjadi 354 ribu perceraian. Ini artinya setiap menit ada satu pasangan yang bercerai. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari masalah ekonomi hingga perbedaan pilihan politik.  Fakta yang lebih memprihatinkan lagi, informasi dari BKKBN menyebutkan bahwa angka perceraian tersebut tertinggi se-Asia Pasifik.

Namun perceraian bukan satu-satunya permasalahan keluarga yang terjadi di Indonesia. Permasalahan lain yang muncul di ruang keluarga juga harus dicermati sebagai bentuk  kemuraman yang menyelimuti keluarga Indonesia. Kita melihat beragam kasus keluarga merebak luas: mulai dari fenomena broken home, aksi pembunuhan antar anggota keluarga, kasus anggota keluarga yang menggunaan narkoba, kekerasan pelajar dan lainnya.

Kondisi keluarga yang tidak harmonis ini kemudian menimbulkan akibat turunan pada pribadi anggota keluarga, khususnya pada anak. Rumah tangga tanpa ketahanan keluarga menghasilkan pribadi yang lemah, rentan terhadap ancaman kelabilan personal dan krisis sosial.  Pribadi yang lemah mudah membawa seorang anak yang berada dalam lingkungan keluarga tidak sehat akan mudah tergerus permasalahan: kenakalan remaja, pergaulan bebas, menurunnya prestasi akademik hingga ancaman yang terkait dengan penyelewangan ideologi.

Keadaan ini juga yang kemudian menjadikan anak ingin mendapatkan lingkungan baru. Sedikit demi sedikit terbawa arus budaya asing yang bertentangan norma-norma budaya lokal. Bahkan tidak menutup kemungkinan kalangan remaja mulai terbawa pada arus ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia: radikalisme, fundamentalisme hingga terjebak pada paham terorisme.

Pada titik ini kita patut bertanya apakah masih ada peran keluarga dalam menanggulangi krisis sosial ini? Apakah keluarga tak lagi seharmonis dulu, sehingga melahirkan beragam keprihatinan ini? Lebih luas lagi, apakah keluarga masih mungkin menjadi basis utama dalam pengokohan ketahanan suatu bangsa?

Ketahanan Keluarga sebagai Basis

Dalam tulisannya di website Lemhanas, Marsma TNI (Purn) H. A. Gani Jusuf, S.IP, salah seorang widyaiswara di Lembaga Ketahanan Nasional menyatakan bahwa implementasi konsepsi ketahanan nasional, pada hakekatnya terletak pada pembinaan, baik secara ”buttom up” maupun secara ”top down”.

Pembinaan ketahanan nasional secara buttom up dilaksanakan sejak dini, mulai dari pribadi, keluarga, lingkungan, daerah sampai pada tingkat nasional. Diharapkan melalui pembinaan ini, tercipta pemimpin pemimpin bangsa yang memiliki kematangan moral, intelektual, emosional dan kematangan sosial.

Disinilah keluarga memiliki peran paling penting dalam menciptakan pribadi-pribadi tangguh yang akan menjadi pemimpin bangsa. Dari keluargalah dibentuk kematangan seorang pemimpin.

Sedangkan pembinaan top down adalah kewenangan dan tugas pemerintah untuk melakukan pembinaan kepada warga negara akan pentingnya ketahanan nasional. Pelatihan, kursus, penataran dan pembinaan lain yang menjadi program pemerintah.

Definisi ketahanan nasional kerap dimaknakan sebagai kondisi dinamis suatu bangsa (Indonesia) yang meliputi segenap kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional.

Pengertian ketahanan pribadi dapat dilihat dari dua faktor yang aman yakni ke dalam dan keluar. Ketahanan pribadi yang ke dalam ialah suatu pola dari setiap individu tentang cara menyikapi terhadap keadaan negaranya dimana dirinya dituntut untuk menjaga fisik, mental dan fikirannya agar tetap terjaga sehingga apabila dibutuhkan oleh negara sewaktu-waktu dia siap untuk melakukan usaha-usaha pembelaan negara demi utuhnya ketahanan nasional negara kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan ketahanan pribadi yang keluar adalah cara pandang kita terhadap kondisi politik Indonesia baik di dalam negeri maupun negara-negara lain.

Banyaknya gangguan keamanan di dalam negara kesatuan Republik Indonesia dikarenakan faktor-faktor seperti kurangnya pengertian dari penduduk tentang wawasan nusantara, kurangnya kesadaran akan rasa persatuan dan kesatuan yang menjadi daya dukung, integritas, dan identitas bangsa dan negara. Hal tersebut disebabkan karena kekurangmengertian mereka akan makna ketahanan pribadi.

Konsep ketahanan pribadi dalam perannya untuk memantapkan ketahanan nasional memang tidak begitu populer ketimbang pembangunan ekonomi atau politik, padahal ia merupakan hal yang sangat mendasar yang menentukan kemajuan suatu bangsa.

Generasi muda adalah penentu masa depan bangsa dan negara, karena merekalah yang akan menggantikan generasi yang sekarang menjalankan peran dalam pembangunan. Seberapa besar peran yang akan dimainkan generasi muda sangat tergantung bagaimana pribadi-pribadi mempersiapkan diri melalui berbagai upaya, seperti menempa diri melalui pendidikan, pelatihan dan mengembangkan bakat/talenta sehingga benar-benar siap memasuki lapangan kerja yang penuh dengan kompetisi. Tanpa sikap disiplin, belajar dan bekerja keras tidak mungkin kita bisa bersaing dengan orang lain, daerah lain atau bangsa lain yang sudah lebih maju.

Ketahanan pribadi seseorang sangat tergantung dengan kualitas kepribadian seseorang yang meliputi vitalitas, karakter, bakat/talenta dan totalitas kepribadian. Vitalitas terkait dengan daya juang seseorang, karakter adalah ekspresi diri yang tercermin dalam perilakunya, bakat adalah potensi bawaan yang bisa menjadi kekuatan pendorongnya untuk meraih cita-cita dan totalitas kepribadian membawa seseorang menjadi manusia utuh yang memiliki kehidupan integral meliputi aspek intelektual, jasmani, spiritual dan sosial.

Ketahanan pribadi ditumbuhkan sebab adanya ketahanan keluarga, disini arti ketahanan keluarga adalah karena adanya pengaruh yang besar dalam ketahanan pribadi. Keluargalah yang memberitahu dan mengajari serta menunjukkan arti pentingnya pertahanan pribadi. Ketahanan pribadi mengokohkan ketahanan keluarga dan ketahanan keluarga memacu ketahanan nasional.

Dari keluarga kita berasal,
Diiringi kasih sayang kita berawal,
Tanpa budi dan akal,
Ketahanan diri tidak akan kekal
.

Keluarga Berkarakter sebagai Konstruksi Ketahanan Keluarga

Sebuah keluarga terbentuk dari pernikahan. Pernikahan inilah yang menjadi pintu gerbang dalam pembangunan keluarga. Akad nikah yang terkesan hanya sebuah rangkaian kata sederhana, mudah dan ringan diucapkan sebenarnya memiliki konsekuensi dan tanggungjawab yang sangat berat. Contohnya dalam Islam, sebuah akad pernikahan adalah salah satu jalan ibadah untuk cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat dan memelihara kesucian diri. Dari pernikahan juga diperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman, membuat keturunan, sebagai media pendidikan serta mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab.

Hal inilah kadangkala yang tidak disadari oleh orang yang melakukan pernikahan. Bahkan bisa jadi seseorang melangsungkan pernikahan dengan target utama hanya sekedar ingin mendapatkan seseorang sebagai suami atau isterinya. Padahal sebenarnya hal itu hanya target antara karena selanjutnya adalah bagaimana dari pernikahan itu terwujud rumah tangga yang baik, melahirkan generasi yang baik dan memberi manfaat kebaikan bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Oleh karena itu, terwujudnya ketahanan keluarga menjadi sesuatu yang amat penting agar perjalanan keluarga bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, baik harapan orang yang berusaha membangun kehidupan keluarga, keluarga besarnya maupun masyarakat sekitarnya, bahkan membangun bangsa dan negaranya.

Drs. H. Ahmad Yani,  Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah dalam sebuah tulisan di websitenya menyatakan bahwa ada 5 aspek ketahanan keluarga, yakni :

(1)   Memiliki kemandirian nilai. Sebuah rumahtangga yang membentuk keluarganya memiliki kekohonan nilai dan karakter dengan berbasis kepada ideologi dan keyakinan agamanya.

(2)   Memiliki kemandirian ekonomi. Setiap keluarga, khususnya bapak atau suami harus mampu mengembangkan keluarganya untuk memiliki kemandirian dibidang ekonomi. Dalam konteks ini, kepala keluarga harus memiliki etos dan kemampuan berusaha dengan cara yang halal, bukan menghalalkan segala cara agar martabat atau harga dirinya bisa dipertahankan

(3)   Tahan menghadapi guncangan keluarga. Kunci utama untuk memperkokoh ketahanan keluarga dalam situasi seperti ini adalah konsolidasi suami isteri. Ketika ada hal-hal yang kurang menyenangkan dari isteri atau sebaliknya isteri terhadap suami, maka seseorang harus berpikir dan belajar untuk tetap berinteraksi secara baik.

(4)   Keuletan dan ketangguhan dalam memainkan peran sosial. Keluarga seharusnya bisa memainkan peran sosial di masyarakat sehingga keberadaannya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak.

(5)   Mampu menyelesaikan persoalan agar kehidupan kita tidak ditekan oleh berbagai persoalan tapi kita yang mengendalikan persoalan itu sehingga kehidupan dapat berjalan sebagaimana seharusnya.

Namun dalam kenyataannya terjadi berbagai persoalan pada rumah tangga Indonesia. Permasalahan yang diurai di awal tulisan ini didasari melemahnya  ketahanan keluarga. Berbagai faktor menjadi penyebab melemahnya ketahanan keluarga yaitu: minimnya peran pemerintah dalam pembinaan keluarga, memudarnya keteladanan dan moralitas serta mengendurnya peran serta lingkungan (kerjasama sosial).

Peran Pemerintah

Tergerusnya nilai-nilai yang membentuk ketahanan keluarga belakangan ini tidak luput dari kurangnya perhatian pemerintah dalam mengedukasi dan mendorong optimalisasi masyarakat untuk mewujudkan keluarga berkarakter. Pemerintah memiliki berbagai institusi yang memiliki program pemberdayaan keluarga, mulai dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Pemberdayaan Perempuan, badan atau komisi khusus yang memiliki program terkait dengan keluarga hingga organisasi Dharma Wanita, PKK dan sejenisnya yang semuanya memiliki program pemberdayaan keluarga. Takterhitung jumlah LSM yang juga memiliki program sejenis.

BKKBN terlihat belum mampu mewujudkan sebuah tatanan dan model keluarga sehat dan sejahtera secara aplikatif. Sehingga target BKKBN selama ini juga amat kuantitatif dan belum menyentuh kepada akar permasalahan yakni bagaimana menciptakan ketahanan keluarga sehat dan sejahtera secara utuh.

Pemerintah seharusnya menyelaraskan lembaga-lembaga tersebut dengan membuat cetak biru keluarga di Indonesia. Sehingga kita dapat melihat dan mengukur berapa banyak populasi keluarga yang telah mandiri baik secara mental maupun materi.  Bukan hanya sekedar slogan jumlah anak yang didengung-dengungkan tanpa ada indicator keberhasilan yang bias diukur. Ini penting mengingat masalah ketahanan keluarga tidak hanya dikarenakan jumlah anak yang dimiliki saja, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana orang tua berperan dalam mengasuh, membina dan mendidik anggota keluarga secara optimal.

Pemerintah memang telah memiliki serangkaian program ketahanan dan pemberdayaan keluarga. Namun titik tekan dari program ini hanya pada ketahanan dan pemberdayaan ekonomi, kurang menyentuh pada aspek-aspek yang memfasilitasi dalam pembentkan keluarga yang berkarakter.

Untuk itu, pemerintah seharusnya mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

-          Melakukan reorientasi pembangunan keluarga dengan memperjelas cetak biru profil keluarga Indonesia berkarakter, yang memperhatikan keseimbangan antara faktor spiritual, mental ekonomi dan sosial. Keluarga yang sehat dan juga produktif. Hal ini menjadi penting karena rentannya disharmoni keluarga Indonesia tidak semata-mata disebabkan faktor ekonomi tetapi akibat dari problem-problem yang sangat kompleks. Dan pondasinya adalah kekokohan religius.

-          Memperjelas pembagian tugas, wewenang dan fungsi lembaga-lembaga terkait yang muara programnya pada pembangunan keluarga. Setiap lembaga boleh saja memiliki program, anggaran dan personal, namun yang tidak kalah penting adalah koordinasi antar lembaga tersebut. Seharusnya BKKBN atau salah satu kementerian ditunjuk sebagai koordinator untuk mengkoordinasikan program ini agar tidak terjadi tumpang tindih maupun saling lepas tangan dalam pelaksanaannya.

-          Memberikan otoritas kepada pemerintah daerah untuk  meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sumber daya lainnya sehingga diharapkan pelaksanaan otonomi daerah semakin meningkatkan kualitas dan stabilitas ketahanan keluarga. Pemerintah pusat harus  bisa meyakinkan pemerintah Daerah bahwa program ketahanan dan pemberdayaan keluarga adalah investasi jangka panjang yang strategis dan bernilai bagi kesejahteraan masyarakat di daerahnya.

Membangun konstruksi ketahanan keluarga ini kita harapkan menjadi isu nasional untuk membentuk keluarga Indonesia yang berkarakter. Keluarga yang penuh dengan kasih sayang, solidaritas, produktif dan religius ini diharapkan mampu menangkal ancaman, tantangan dan gangguan terhadap institusi keluarga sehingga dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Dengan peran aktif pemerintah ini, semua pihak mampu terlibat secara dinamis dan konstruktif sebagai upaya mewujudkan keluarga Indonesia yang lebih berkulitas dan maju.

Keteladan dan Moralitas

Setiap warga negara yang ingin berkeluarga, pasti mempunyai keinginan dan cita-cita agar keluarganya: (1) Bahagia, walaupun banyak orang yang tidak dapat mendefinisikan kebahagiannya karena arti bahagia terlalu relatif, (2) Harmonis, ini adalah turunan dari makna bahagia, karena  kebahagiaan akan menghasilkan keharmonisan, (3) Produktif,  yaitu keluarga yang mengelurkan produk kebaikan bagi masyarakat di sekelilingnya, dan (4) Keluarga yang utuh dan stabil, yang menerapkan nilai-nilai ideologis religius secara utuh sehingga menjadi stabil dalam setiap keadaan.

Namun dalam realitasnya, untuk mencapai keadaan ideal seperti tidak mudah. Bahkan terjadi ancaman dan hambatan yang kemudian menyebabkan memudarnya ketahanan keluarga, yakni melemahnya nilai-nilai keteladanan dan moralitas.

Faktor ini menyebabkan suasana keluarga tidak memberikan harapan positif bagi perilaku anggota keluarga. Faktor keteladanan dan moralitas ini menjadi penting karena faktanya meski sebuah keluarga secara ekonomi cukup mampu namun perilaku kehidupan anggota keluarganya ada yang mengalami disharmoni sosial yang akut. Begitu pula perubahan pola hidup, serbuan globalisasi dan efek media massa telah turut andil memperlemah ketahanan keluarga saat ini.

Memudarkan keteladan dan moralitas ini dapat dilihat dari tanda-tanda sebagai berikut:

-          Ketika seorang ayah gagal memerankan diri sebagai ‘ayah’. Kegagalan ini  disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktornya adalah kesibukan sang  ayah mencari dan memenuhi nafkah. Hal ini bias disebabkan karena ayah kurang ‘mapan’ dalam kemampuan atau pemanfaatn waktu sehingga kurang produkif dalam mencari nafkah. Atau bisa jadi ia terlalu sibuk dan dalam kemapanan pekerjaan, sehingga sebagian besar dari waktunya terpakai untuk mencari nafkah.

-          Ketika seorang ibu gagal memerankan fungsi ibu sebagai universitas utama keluarga karena minimnya landasan spiritual dan pengetahuan pendidikan keluarga atau bisa jadi karena terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan seorang ibu tentang bagaimana mendidik anak dan membentuk keluarga.

-          Masuknya budaya-budaya asing ke dalam rumah tangga, melalui kebebasan informasi yang langsung masuk ke dalam kamar-kamar keluarga. Tersebarnya informasi secara bebas melalui media sosial, internet, TV kabel dan sarana informasi lain yang secara langsung memasuki ruang-ruang memori, memasuki syaraf otak dan mempengaruhi kepribadian anggota keluarga secara langsung. Bahkan orangtua lebih larut dalam komunikasi jarak jauh dengan orang di seberang daripada dengan anggota keluarga yang ada di hadapannya.

 

Disinilah dibutuhkan komitmen kuat orangtua dalam lingkungan keluarga. Komitmen seorang ayah untuk menjadi kepala rumah tangga yang memiliki keteladan dan layak dijadikan contoh oleh anggota keluarga secara utuh, di segala aspek. Keteladan seorang ibu sebagai manajer rumah tangga sekaligus pendidik utama dalam keluarga. Komitmen seluruh ornagtua yang ada di dalam lingkup keluarga: kakek, nenek, paman dan juga asisten rumah tangga.

Tentu tidak mudah membentuk profil keluarga berkarakter dan memiliki kelima aspek ketahanan keluarga ditengah kondisi sosial dan tekanan ekonomi yang luar biasa. Keluarga berkarakter setidaknya dapat diwujudkan melalui interaksi keteladanan, moralitas, kepercayaaan dan komunikasi yang baik didalam maupun diluar lingkungan keluarga itu.

Kolaborasi Sosial

Faktor lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan konstruksi ketahanan keluarga. Anak-anak memiliki dunia dan komunitasnya sendiri. Disinilah dibutuhkan kerjasama antar keluarga dalam sebuah lingkungan masyarakat. Memudarnya nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan turut membawa dampak meluasnya permasalahan dalam rumah tangga menjadi masalah sosial. Tidak jarang kasus dalam keluarga menggelembung menjadi permasalahan kemasyarakatan.

Anak-anak korban KDRT atau yang ditinggalkan orangtuanya akibat perceraian, tidak jarang menjadi masalah baru di lingkungan. Demikian juga kasus narkoba, pelanggaran kesusilaan maupun tindak kriminal, tidak sedikit yang didasari kasus broken home dan pertikaian dalam rumah tangga. Sikap positif lingkungan akan berpengaruh terhadap permasalahan rumah tangga yang terjadi. Lingkungan yang baik akan ikut meredam setiap permasalahan, bukan sebaliknya.

Disinilah lingkungan menjadi penting untuk berpartisipasi dan turut serta membentuk ketahanan keluarga. Lingkungan masyarakat mempunyai peranan dalam mengembangkan perilaku dan kepribadian anak. Dalam masyarakat anak bergaul dengan teman sebayanya maupun yang lebih muda atau bahkan yang lebih tua. Dari pergaulan inilah anak akan mengetahui bagaimana orang lain berperilaku dan anak dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat serta anak dapat berpikir dan mencari penyelesaiannya.

Selain faktor lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat,  lingkungan sekolah juga berpengaruh dalam perkembangan anak. Sekolah mempunyai peranan dalam mengembangkan potensi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anak, menciptakan budi pekerti yang luhur, membangun solidaritas terhadap sesama yang tinggi, serta mengembangkan keimanan dan ketakwaan anak agar menjadi manusia yang beragama dan beramal kebajikan.

Dari sinilah dibutuhkan kolaborasi positif dalam lingkungan sosial antara keluarga dan lingkungan. Seorang ibu dalam satu keluarga mampu mengajarkan anaknya memasak, namun ibunya tidak mampu mengajarkan ketrampilan lainnya. Ibu di keluarga lain mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang baik, ibu yang lainnya kurang. Disinilah dilakukan kerjasama dan kolaborasi antar sesama keluarga untuk dapat mengoptimalkan potensi dan saling melengkapi.

Dengan adanya peran pemerintah dan sinergi antar lembaga, kuatnya keteladanan dan moralitas serta adanya kolaborasi sosial yang kokoh, maka akan terbangun konstruksi ketahanan keluarga yang kokoh dan mantap.

Intinya, keluarga ini mampu eksis dan memberikan pengaruh timbal balik bagi pembentukan karakter ideal anggota keluarga dan lingkungannya. Agama juga mengajarkan kita untuk menjadikan profil keluarga sebagai unit sosial yang dapat bermanfaat bagi anggota keluarga dan orang lain sehingga akan memunculkan wibawa dan peran keluarga dalam tatanan sosial masyarakat. Jika profil keluarga ideal ini diwujudkan oleh keluarga-keluarga inti maka fenomena penyakit sosial yang nampak di Indonesia sangat mungkin akan berkurang.

Epilog

Slogan ”baiti jannati” dalam ajaran agama Islam menjadi refleksi betapa rumah harus dijadikan arena positif untuk menumbuhkembangkan dan penyalurkan potensi setiap anggota keluarga. Interaksi keluarga dikelola sehingga melahirkan manajemen soliditas dan solidaritas yang kokoh sehingga mampu mengikis benih-benih keretakan keluarga.

Keluarga yang tangguh menjadikan semua aspek kebahagiaan menjadi kebutuhan integral yang menjadi sasaran bersama anggota keluarga dengan nahkoda penggeraknya kepala keluarga didampingi ibu sebagai pendidik utama dan didukung oleh lingkungan sekitar dan peran pemerintah.

Aspek-aspek yang menjadi indikator kebahagian dalam rumah tangga menurut penulis adalah: (1) Aspek Spiritual sebagai pondasi utama, (2) Aspek Finansial sebagai bahan bakar mesin kebahagiaan keluarga, (3) Aspek Pertumbuhan yang menjamin seluruh anggota keluarga bertambah pengetahuan dan kehidupannya senantiasa bertumbuh, (4) Aspek Kenyamanan sehingga kebutuhan primer dan sekunder bahkan tertiernya dapat dipenuhi dengan baik, misalnya kebutuhan tempat tinggal, rekreasi hingga healthy and safety. Dan (5) Aspek Kontribusi Sosial sebagai perwujudan keluarga yang produktif.

Tercapainya kebahagiaan keluarga akan menghasilkan pribadi-pribadi yang tangguh, kokoh kepribadiannya dan berkarakter. Dari sini tercipta manusia Indonesia yang memiliki ketahanan pribadi.

Sekali lagi, ketahanan pribadi ditumbuhkan sebab adanya ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga akan menjadi pondasi penting ketahanan nasional. []

–diikukan dalam Lomba Menulis Kebangsaan yang diselenggarakan Fraksi PKS DPR RI, tahun 2015

Posted in Politik & Budaya | Leave a comment

Outsourcing, Solusi Dunia Industri

Seperti kita tahu, tiap tanggal 1 Mei, yang dikenal sebagai May Day, hampir di semua kota besar di Indonesia diramaikan dengan demo buruh. Tuntutannya sama: agar pemerintah membuat kebijakan yang berpihak pada buruh. Salah satu yang menjadi tuntutan adalah dihapuskannya outsourcing. Apakah benar jika outsourcing  dihapuskan akan menjadikan nasib para butuh menjadi lebih baik?

Outsourcing adalah pengalihan aktivitas pekerjaan penunjang kepada pihak pengelola jasa pekerjaan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam menangani aktivitas pekerjaan tersebut, sebagai bentuk pendekatan efektifitas pengelolaan biaya personil. Pengalihan ini akan membantu perusahaan berkonsentrasi menangani core business, dengan demikian perusahaan tidak perlu lagi mempunyai organisasi yang besar dengan tenaga kerja yang jumlahnya banyak.  Selain itu juga untuk mengeliminir masalah ketenagakerjaan.

Pengelolaan aktivitas perusahaan yang rumit seperti: pemeliharaan aset dan lingkungan, kebersihan kantor, kendaraan, perselisihan hubungan industrial, pelayanan pengobatan pegawai serta pengurusan polis dan klaim asuransi. Perusahaan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menangani hal tersebut.

Pendekatan outsourcing menjadi solusi untuk mengurangi biaya overhead perusahaan. Biaya outsourcing menjadi lebih efisien dibandingkan apabila menggunakan staf untuk menangani fungsi-fungsi yang rumit tersebut.

Kenapa Outsourcing ditentang?

Praktik outsourcing di Indonesia hingga saat ini memang masih merupakan hal yang tidak disukai tapi masih dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia sehingga sering menimbulkan pro dan kontra. Terbatasnya sosialisasi tentang outsourcing, jarangnya seminar atau workshop tentang hal ini menjadikan outsourcing hanya sebagai kabar butuk dan pemandangan buruk bagi sistem ketenagakerjaan di Indonesia.

Diantara faktor-faktor yang menjadikan outsourcing ditentang di Indoensia adalah : (1) praktik outsourcing yang salah, baik kesalahan dalam memilih mitra, kesalahan dalam perjanjian, tidak adanya pelatihan hingga kecurangan dalam pengupahan pekerja/buruh outsource, (2) ketidakadilan dalam pengaturan waktu kerja, masa depan dan upah yang didapat oleh karyawna outsource yang jauh  berbeda dengan karyawan tetap, (3) praktik pemotongan upah yang merugikan pekerja kadang dilakukan oleh perusahaan alih daya yang ‘nakal’.

Ketika Outsourcing Jadi Pilihan

Banyak perusahaan alih daya yang bagus di negeri ini. Mereka menjalankan bisnisnya sesuai dengan regulasi. Mereka memberikan hak-hak karyawan alih daya sama dengan hak-hak karyawan biasa. Selain itu perusahaan alih daya tersebut secara berkala membina dan memberikan pelatihan bagi karyawannya, bahkan menumbuhkan sikap entrepreneurship kepada karyawannya.

Perusahaan alih daya yang bagus mempunyai izin usaha yang lengkap, dilekola oleh SDM yang professional, tidak memotong upah karyawannya diluar ketentuan yang berlaku, membayar hak-hak karyawan seperti gaji, jamsostek, kesehatan, dan lain-lainnya. Semua hak dan kewajiban itu dituangkan dalam bentuk kontrak kerja tertulis. Perusahaan alih daya yang baik juga selalu terbuka, mudah dihubungi atau memiliki domisili kantor yang jelas.

Pelaksanaan Outsourcing di Berbagai Industri

Berdasarkan pengamatan penulis, pelaksanaan outsourcing di beberapa sector industry belum juga semuanya patuh pada aturan yang ada. Permasalahan penentuan jenis pekerjaan core dan non core, peranan asosiasi usaha dan jenis kontrak yang tidak sesuai masih banyak ditemui.

Baru di industri perbankan yang melakukan pemilahan pekerjaan mana yang bisa dioutsource dan yang tidak (Surat Edaran BI No. 14 tanggal 27 Juni 2012). Beberapa pekerjaan yang di-outsource-kan adalah: collection, verifikasi data nasabah dan call center. Sedangkan pekerjaan yang terkait dengan customer service dan teller tidak boleh dioutsource kan.

Di Industri telekomunikasi penggunaaan outsourcing bisa ditemui untuk pekerjaan yang lebih luas. Call center, teknisi maintance (perbaikan sarana dan prasarana), bagian billing, sales, layanan pelanggan adalah contoh-contoh pekerjaan yang dialihkan ke pihak ketiga. Bahkan saat ini sudah menuju pada Business Process Outsourcing untuk pekerjaan teknikal maupun collection. Pada industri perhubungan jasa alih daya dimanfaatkan untuk  pekerjaan:  waiter lounge, teknisi, petugas pengamanan, kebersihan, pramugari darat, catering, transportasi darat, catering, dan lain-lain.

Rekomendasi Pelaksanaan Outsourcing

Pengusaha harus patuh pada regulasi. Melakukan penentuan core dan non core bisnis sebagai langkah pemilahan pekerjaan yang bisa di-outsource-kan.  Asosiasi usaha memiliki peran untuk menyatukan persepsi tentang pembagian jenbis pekerjaan ini. Dengan adanya pemilhan yang jelas, perusahaan alih daya juga akan bersiang meningkatkan profesionalisme kerjanya.

Outsourcing merupakan trend global. Mau tidak mau industri akan memanfaatkan sistem kerja ini. Pilihannya adalah menggunakan jasa alih daya atau mengganti pekerjaan dengan system dan perangkat untuk meminimalisir penggunaan tenaga kerja.

Untuk itu edukasi harus lebih banyak dilakukan. Pemahaman tentang outsourcing harus lebih digalakkan agar tidak lagi terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. Pemerintah harus tegas dapat memastikan bahwa semua regulasi dapat diimplementasikan bukan malah menimbulkan polemik di lapangan, apalagi mengadu domba pekerja dan pengusaha demi popularitas agar tetap terpilih.[]

Posted in Ideas @ Work | Leave a comment

DARE TO SPEAK UP : Effective Public Speaking and Presentation Skill

Kemampuan menyelesaikan masalah dan kemampuan berbicara di depan public (public speaking) adalah kemampuan utama yang dimiliki orang-orang sukses di dunia. Dalam bidang apapun!

Apapun profesi dan jabatan Anda, apakah seorang pejabat, kepala kantor, pimpinan organisasi, lembaga sosial, guru, dosen, aktivis, penceramah, trainer, manager, staf, mahasiswa, pelajar, anggota dewan, pimpinan instansi dan semua orang yang ingin bisa tampil penuh percaya diri wajib menguasai public speaking.

7 Alasan Mengapa Harus Menguasai Public Speaking, Sekkarang!

1. 18.000 kata sehari terucap.
2. Berbicara itu salah satu kunci kesuksesan.
3. Tuntutan Jabatan/Kedudukan.
4. Anda melakukannya setiap hari.
5. Membuat Anda terkenal.
6. Kekuatan 3 V (verbal, vokal, visual).
7. Nilai tambah diri/kualitas diri.

Ingin tahu lebih detail dan menguasai ketrampilan public speaking sebagai modal utama Anda untuk sukses?

Book your seat Now!
Pelatihan Sehari:
DARE TO SPEAK UP!
– Effective Public Speaking and Presentation Skill–
Sabtu, 15 Nov 14, Hotel Grasia Semarang.

Dalam pelatihan ini, ANDA akan MENDAPATKAN:
1) Mematahkan belenggu motivasi, berani tampil dan percaya diri
2) Merancang materi yang sistematis dan menarik
3) Melejitkan kualitas bicara agar menggugah dan mengubah
4) Kreasi Slide Presentasi yang atraktif dan inspiratif

Ingat!! Materi ini HANYA akan Anda dapatkan di pelatihan ini.

Segera daftarkan diri Anda SEKARANG!!!

Khusus untuk ANDA, kami kenakan harga PROMO Rp. 300.000,-  dari harga normal Rp. 450.000,-
Transfer ke Rek BCA 8360029663
An Rania Noor S

Daftarkan diri Anda segera, dgn sms format:
(Daftar#Dare2SpeakUp#Nama#NoHP#email)
Kirim ke nomor 08122 69 56778 (Rania)
—————————————-
INGAT!!! KURSI TERBATAS!!!

Presented by
Rania Enterprise -meeting organizer-
www.raniaenterprise.com

Posted in Event | Leave a comment

Menangkap Kupu-kupu

Sewaktu kecil, banyak diantara kita yang suka menangkap kupu-kupu, terutama anak perempuan. Apakah Anda pernah punya pengalaman juga dalam menangkap kupu-kupu?

Menangkap kupu-kupu bisa dilakukan dengan 2 cara. Yang pertama adalah menangkap langsung baik dengan jari-jari atau menggunakan jaring kupu-kupu. Meski sulit, banyak anak-anak yang suka mengejar kupu-kupu dan berusaha menangkap dengan ngincup menggunapakan jari-jarinya. Dan tentu saja butuh effort dan kesabaran dalam melakukannya.

Cara lain adalah menangkap dengan menggunakan jaring. Dengan alat khusus, penangkapan kupu-kupu bisa lebih mudah. Jangkauan juga bisa lebih tinggi. Dan kemungkinan mendapatkan kupu-kupu akan lebih besar.

Dengan cara pertama ini, apa yang terjadi? Kadang kita tidak sadar bahwa saking asyiknya mengejar kupu-kupu, semakin lama kita semakin jauh dari rumah. Kupu-kupu yang kita kejar, kabur menjauh, kita terus mengejarnya. Semakin jauh, semakin jauh, dan begitu sadar kita sudah berada jauh dari tempat tinggal.

Ternyata, dalam mencapai sukses baik sukses karir, bisnis atau dalam hal mengejar rejeki, kita seperti mengejar kupu-kupu. Semakin lama kita kejar, ke luar kota, ke luar negeri, bahkan sampai tempat yang begitu jauh. Kadang juga tidak sadar bahwa kita sudah terlalu jauh dari cita-cita awal kita. Jauh dari pegangan awal kita. Bukan cuma jauh secara fisik dari keluarga kita, kadang juga jauh secara hubungan emosional.

Semakin parah lagi, adalah ketika kita mengejar kupu-kupu sampai jauh, lalu kita berhasil menangkapnya, kupu-kupu itu kita masukkan botol, lalu kita bawa pulang, apa yang terjadi? Saking jauhnya, kupu-kupu sampai mati di tengah jalan. Tidak sampai ke rumah.

Saking jauhnya kita kejar rejeki, kita kejar karir, kita kejar bisnis, ternyata tidak banyak hasil yang bisa kita nikmati. Terlalu banyak ongkos yang kita keluarkan.

Ada cara lain dalam menangkap kupu-kupu. Kita buat taman di rumah, kita tanam bunga-bunga yang menarik, hingga kupu-kupu itu berdatangan ke rumah kita. Bukan cuma satu, namun mereka juga membawa teman-temannya. Banyak kupu-kupu yang berdatangan ke taman kita. Cara ini memang berat, perlu waktu, biaya, tenaga, upaya dan kesabaran. Namun hasilnya juga lebih baik, bukan?

Mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Berinvestasi untuk masa depan kita. Spare waktu, biaya, tenaga, upaya dan juga kesabaran untuk mendapatkan kesuksesan. Dalam bisnis, karir, maupun keberlimpahan rejeki.

tulisan ini dimuat juga di www.tentangkarir.com

Posted in Motivasi & Pengb. Diri | Leave a comment