Posted by jumadi on January 30, 2009 under Politik & Budaya |
Setelah tulisan saya Political Marketing (sebenarnya ada subjudulnya ‘cara cerdas menggaet pemilih’) dimuat di Nirmala Post beberapa hari lalu, saya mendapatkan banyak masukan, komentar dan pertanyaan dari para pembaca. Sebagian menunjukkan dukungan, konfirmasi lanjutan sampai permintaaan untuk membuat tulisan lanjutan yang mendetailkan konsep tersebut.
Sebenarnya konsep political marketing sudah banyak dibahas oleh beberapa ahli marketing di Indonesia. Tidak kurang Hermawan Kartajaya, Hendi Irawan sampai majalah Marketing juga mengulas hal tersebut. Demikian pula buku-buku yang membahas hal yang sama, salah satunya adalah The Political Campaigning Handbook yang ditulis Lionel Zetter berdasarkan pengalaman dan pengamatannya dalam pelaksanaan Pemilu Inggris selama beberapa dekade.
Ketika kita sudah memahami konsep tersebut, tahapan selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikannya di lapangan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, untuk mengkomunikasikan brand kita (Parpol atau Caleg) adalah melalui aktivitas promosi, iklan, pemasangan porster dan lain-lain. Namun dalam situasi yang crowd seperti ini diperlukan cara dan stratgei kampanye yang lebih kreatif.
Membangun Relationship dengan Pemilih
Salah satu hal penting agar brand kita selalu diingat dan menjadi top of mind dalam benak audiens, dalam hal ini pemilih, adalah dengan membangun hubungan yang terus menerus dengan audiens. Banyak media, sarana dan aktivitas yang bisa kita lakukan dalam mebangun hubungan antara lain:
Kantor Sekretariat/Posko
Semua parpol pasti memiliki kantor sekretariat sebagai pusat aktivitas mereka. Seharusnya kantor ini dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai sarana berkomunikasi dengan pemilih. Kegiatan temu kader, pelatihan, sarasehan, acara kepedulian, sampai pertemuan-pertemuan kecil bisa menjadi sarana untuk menggalang dukungan. Rumah caleg atau posko khusus yang disiapkan juga bisa menjadi sarana untuk itu.
Publikasi/Press Release/Talkshow
Parpol atau caleg juga bisa memanfaatkan media untuk publikasi kegiatannya dengan membuat release berita. Media apapun akan senang mendapatkan release berita. Dan jika apa yang Anda tulis informatif, dilengkapi foto yang berkualitas, acaranya juga sesuatu yang menarik, fenomenal atau tentang wacana baru (bahkan kontroversi) maka media akan memuat publikasi Anda. Hal ini lebih mudah dilakukan dan Anda tidak membutuhkan biaya untuk pasang iklan. Atau Anda bisa melakukan talkshow di radio demgan tema-tema yang tepat dan Anda kuasai. Melalui media on air dan off air Anda bisa melakukan publikasi dengan murah.
Saya tertartik dengan yang dilakukan Tung Desem Waringin ketika meluncurkan bukunya. Ia betul-betul pandai membuat publisitas. Masih ingat orang yang membagikan uang 100 juta melalui pesawat terbang? Itulah Tung ketika mempromosikan bukunya Marketing Revolution. Semua media nasional bahkan internasional memuat beritanya, bahkan menjadi headline. Jika dibanding publisitas di media, nilai 100 juta tentu menjadi tidak besar lagi. Demikian juga ketika ia naik kuda di jalan protokol Jakarta saat meluncurkan bukunya Financial Revolution.
Hubungan personal melalui surat pribadi
Agar lebih dekat dengan audiens, lakukanlah hal-hal yang sifatnya personal kepada para calon pemilih kita. Setiap orang akan senang jika diperlakukan secara personal. Caranya, berkunjunglah dari rumah ke rumah atau menyapa dengan menyebutkan namanya secara tepat. Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah mengirimkan surat secara pribadi (direct mail). Bandingkan dengan selebaran yang kita bagikan, alih-alih mendapatkan dukunga, selebaran, brosur, flyer dan sejenisnya hanya akan dibaca sekilas.
Coba anda kirim selembar surat yang Anda tandatangani sendiri, sampaikan salam, sebutkan secara singkat visi, pemikiran dan harapan Anda, lalu tunjukkan bahwa Anda membutuhkan dukungan yang bersangkutan.
Pesan Singkat/SMS
Hampir semua usia pemilih saat ini memiliki sarana komunikasi handphone. Anda bisa mendata nomor-nomor yang Anda kenal atau dari relawan Anda. Kirimkanlah pesan-pesan singkat yang berisi salam dan permintaan dukungan. Bayangkan jika Anda bisa mengirimkan SMS ke 100 orang setiap hari, dengan biaya yang ringan, berapa banyak orang yang akan mengenal Anda dan bukan tidak mungkin mereka akan memberikan pilihan untuk Anda.
Memanfaatkan Media Digital
Sekarang sudah eranya digital. Internet dan email sudah bukan barang baru. Pemilih pemula yang rata pelajar dan mahasiswa jumlahnya cukup signifikan. Dan bagi mereka internet sudah menjadi bagian dari kehidpannya sehari-hari. Bahkan di sekolah, sebagian mata pelajaran mempergunakan sarana internet untuk pembelajaran mereka. Belum lagi para pekerja di kantor dan instansi yang memiliki fasilitas internet, berapa banyak jumlahnya? Ladang suara yang menggiurkan bukan?
Nah, bagaimana meraih dukungan dari mereka? Mau tidak mau kita harus ikut masuk ke dalam ‘dunia’ maya ini. Disamping biaya yang murah, publisitas yang luas juga begitu mudahnya melakukan kampanye di dunia maya ini. Apa saja yang bisa kita lakukan?
Blog dan Email
Biasanya fasilitas internet yang digunakan hanya sebatas membuat website dan email. Memiliki situs di internet saja belum cukup. Karena disana hanya berisi informasi searah. Saat ini orang lebih senang bisa melakukan interaksi, meskipun hanya lewat internet. Blog adalah sarana yang tepat untuk menyampaikan pemikiran Anda. Penggunaannya sangat mudah dan biayanya sangat murah. Bahkan Anda bisa mendapatkan kases blog dengan gratis. Email juga menjadi sarana yang bisa digunakan untuk menjalin hubungan pribadi.
Facebook, Komunitas Online dan Mesin Pencari
Salah satu media yang sedang jadi favorit di media digital saat ini adalah facebook dan komunitas online lainnya seperti flickr, yahoo messanger dan sarana komunikasi lainnya. Melalui perangkat blackberry Anda bisa memanfaatkan semua fasilitas online melalui genggaman Anda. Mesin pencari juga sangat powerful saat ini. Jika sedang mengakses internet, coba ketikkan nama Anda atau partai anda di google, apakah muncul di peringkat atas informasi yang tampil aatau tidak, itulah salahsatu gambaran tingkat popularitas kita. Coba bayangkan jika ada pemilih yang bingung untuk menentukan pilihannya, lalu mencari informasi di internet, dan diketik disana: ‘caleg dapil 2’ di wilayah Anda, apakah tidak ingin nama Anda yang akan muncul disana?
Zaman sudah berubah, media informasi juga berubah. Maka kita juga harus merubah cara berkomunikasi dengan audiens dan masyarakat di sekitar kita. Jika untuk membuat poster, memasang iklan membutuhkan banyak dana, maka melalui kreativitas cara berberkomunikasi, kita bisa mengalokasikan dana untuk kegiatan lain. Dan bagi yang memiliki keterbatasan biaya, bisa tetap berlomba meraih dukungan tanpa harus bingung mencari tambahan dana. Maka kreatiflah dalam berkampanye.[js]
Posted by jumadi on January 23, 2009 under Politik & Budaya |
Kemenangan Barrack Obama dalam pemilihan presiden Amerika beberapa waktu lalu bukan hanya sekedar kepiawaian dalam negosiasi politik semata, namun juga karena Obama berhasil menjalankan pemasaran secara maksimal. Salah satu kunci keberhasilannya adalah karena ia dan timnya melakukan kampanye secara online secara optimal. Hughes, salah satu tim kampanyenya adalah seorang pendiri komunitas facebook. Melalui media ini Obama meraih banyak simpati massanya. Ia juga menjalankan kaidah pemasaran secara baik. Tim suksesnya membuat perencanaan P-D-B atau positioning, differentiating dan brand dengan seksama dan menjalankan program marketing dengan optimal.
Begitu juga dengan keberhasilan calon-calon gubernur, walikota dan bupati dalam banyak Pilkada yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir. Sebutlah misalnya, keberhasilan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Jawa Barat, Syamsul Arifin-Gatot Pujonugroho di Sumatera Utara adalah salah satu keberhasilan sosialisasi yang optimal. Atau sebelumnya kampanye politik based on research yang dilakukan Ismet Abdullah di Kepulauan Riau. Demikian juga kesuksesan gubernur Jateng Bibit Waluyo dan walikota Tegal Ikmal Jaya tidak terlepas dari aspek-aspek pemasaran yang dibangun sebelumnya.
Jika saat ini kita lihat ratusan gambar foto-foto caleg terpampang di hampir seluruh sudat jalan, mulai dari jalan protokol sampai gang-gang dan perkampungan, banyaknya iklan di media massa baik lokal maupun nasional, apakah itu salah satu bentuk political marketing?
Marketing untuk Partai Politik
Melihat aktivitas yang dilakukan parpol dan caleg akhir-akhir ini, kita tahu bahwa semua telah menyadari bahwa partai atau caleg juga butuh marketing. Namun belum banyak yang menjalankan secara sistematis dan tepat sasaran.
Pemilu saat ini berbeda dengan pemilu tahun 2004 lalu. Apalagi jika dibanding masa Orde Baru. Dari sisi pemilih, saat ini parpol juga menghadapi pemilih yang kritis, empowered, dan situasional. Dan yang paling penting persaingan antar parpol kini sudah tidak mengenal lagi yang namanya tekanan, paksaan, tipu daya dan sejenisnya. Semuanya dilakukan secara fair dengan aturan main yang jelas dan transparan. Kalau sudah demikian maka keunggulan bersaing parpol-lah yang akan menjadi faktor penentu kemenangan parpol.
Political marketing dan aspek-aspek pendukungnya
Bukan hanya sekedar iklan dan membangun pencitraan saja, tapi parpol juga harus secara tepat membangun diferensiasi yang akan menjadi pilar keunggulan berkompetisi. Pada saatnya yang tepat parpol harus melakukan aktivitas brand-building agar dipersepsi baik dan dapat menumbuhkan loyalitas di kalangan para pemilihnya. Intinya, seperti halnya perusahaan, parpol butuh strategi marketing yang tepat secara menyeluruh. Bagaimana menerapkannya dalam konteks pemilu?
Political marketing dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada pemilih. Tujuannya adalah membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, orientasi dan perilaku pemilih. Perilaku yang diharapkan adalah secara umum mendukung, dan khususnya memilih partai kita.
Saat ini pasar pemilih yang sudah sedemikian terfragmentasi dengan pemain yang begitu banyak, hampir dapat dipastikan tidak ada parpol yang akan menjadi single majority. Pasar pemilih pasti akan terbagi-bagi ke semua partai yang jumlahnya. Karena itu parpol harus secara tegas menetapkan target pasar pemilihnya.
Yang sudah memiliki basis yang kuat di massa pemilih, dengan mengelola secara optimal massa yang niche akan memberikan dukungan yang riil. Strategi targetting dengan baik dimainkan oleh PKS dan PDIP pada pemilu yang lalu. Dengan mengelola kadernya yang militan dan terget yang fokus, PKS meraih kemenangan di kota-kota besar. Dengan target wong cilik PDIP memiliki pemilih riil dan dukungan yang signifikan.
Setelah target pasar terpilih, jalankan aspek positioning. Melalui positioning inilah parpol menempatkan diri di benak massa pemilihnya. PAN menempatkan dirinya sebagai partai reformis dan universal. PDI perjuangan dengan pembelaan kepentingan rakyat kecil. Gerindra dengan bidikanya petani dan nelayan atau PKS yang mengambil posisi sebagai partai yang bersih, peduli dan profesional.
Positioning inilah yang kemudian harus dikomunikasikan ke seluruh stakeholder partai lewat aktivitas promosi baik melalui media release, TV, radio, media online, iklan di koran, baliho, flyer atau pengenalan langsung melalui direct-selling.
Agar positioning kuat, ia harus didukung oleh diferensiasi yang kokoh. Diferensiasi ini bermacam-macam, ada yang bentuknya SDM dan para pemikir partai yang handal, dengan konsep-konsep program yang realistis. Basis massa, struktur yang kuat hingga ke ranting-ranting, atau mungkin juga pemimpin yang mumpuni dan karismatis.
Diferensiasi harus didukung konten dan konteks nyata dari partai yang bersangkutan. Kredibilitas sangat penting dalam hal ini. Jika sebuah partai menyebut dirinya anti korupsi, tapi anggota dewannya dalam periode sebelumnya terlibat korupsi, tentu tidak menjadi diferensisasi. Jika sebuah partai menyebutkan dirinya sebagai partai berasas Islam, misalnya maka anggotanya harus memperlihatkan akhlakul karimah.
Untuk mendukung semua itu, parpol perlu melengkap komunikasi pemasaran dengan membangun hal-hal sebagai berikut: mengkomunikasikan pesan dan gagasan, mengembangkan identitas jatidiri, kredibilitas dan tranparansi, interaksi dan respons dengan komunitas internal dan eksternal dengan melakukan pencitraan partai, menyediakan pelatihan, mengolah dan menganalisis data untuk kepentingan kampanye, secara terus menerus mempengaruhi dan mendorong komunitas untuk mendukung partai.
Namun bukan hanya produk politik yang harus dijual, melainkan semua unit dalam sistem kinerja partai layak dan harus dijual. Antara lain yang sering dilupakan orang: kinerja institusi partai, anggota dan perilakunya, kinerja kandidat terpilih dalam pemilu sebelumnya, dll.
Jadi praktisi political marketing tidak hanya harus canggih dalam mengelola iklan, memperbanyak gambar partai atau foto kandidat sehingga memenuhi jalanan dan gang-gang saja, namun lebih daripada itu: menerapkan prinsip pemasaran secara tepat, mengelola basis pemilih, memperbaiki kinerja partai secara umum, menampilkan kandidat yang memiliki reputasi baik, melakukan komunikasi secara tepat dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menunjukkan peran yang signifikan dalam masyarakat.
Pemilih sudah cerdas. Bisa membandingkan mana partai yang telah menunjukkan kinerja yang baik, mana yang benar-benar peduli dan mana yang hanya slogan. Kandidat mana yang telah berbuat dan mana yang hanya berjanji. Karena itu partai dan caleg juga harus lebih cerdas dalam melakukan komunikasi, jika tidak ingin disebut hanya mengumbar janji.
Jumadi Subur adalah pengamat bidang marketing dan branding,
Saat ini mengabdi di Tegal sebagai Marketing Manager di INDOSAT.
Posted by jumadi on November 11, 2008 under Politik & Budaya |
Suatu hari di pelabuhan, seorang saudagar membawa barang-barang dagangannya dalam jumlah yang cukup banyak. Dia mencari-cari siapa yang bisa membantu membawa barang-barangnya ke tokonya. Setelah ada seorang yang mau menjadi kuli panggul maka iapun menyerahkan semua barangnya untuk diangkat sampai ke tokonya.
Sepanjang jalan saudagar tersebut heran kenapa orang-orang banyak melihatnya dengan pandangan yang aneh. Hingga sampai ditempatnya ia mengucapkan terima kasih dan membayar sang kuli panggul secukupnya. Ketika dia tanya ke orang-orang di sekitarnya kenapa orang-orang sepanjang jalan memandang dia dengan aneh, mereka malah kembali bertanya, “Kamu kenal tidak dengan orang yang membawa barang-barangmu tadi?”. Sang saudagar menggeleng tanda jawaban tidak. Orang-orang menjawab “Beliau adalah Gubernur kita.” (Gubernur Kuli Panggul, Chichi Sukardjo).
Kisah tersebut saya nukil dari sebuah buku mungil terbitan lama yang berjudul “Gubernur Kuli Panggul” yang berisi kisah-kisah renungan dan cerita inspirasi lainnya. Kisah ini pula yang menginspirasi saya membuat tulisan ini.
Pada buku yang lain ‘Belajar Dari Dua Umar’ yang disusun sahabat saya Hepi Andi Bastoni, saya menemukan kisah yang sungguh-sungguh menggetarkan hati.
Suatu hari Amirul Mukminin menerima kiriman makanan yang diberi nama habish. Sebuah makanan yang rasanya manis, jenis makanan paling enak di Azerbaijan, yang dikirim oleh gubernur disana. Merasakan nikmatnya makanan itu Sang Umar menanyakan kepada utusan gubernur, apakah semua rakyat disana memakan makanan seperti itu atau tidak.
“Tidak. Tidak semua bisa menikmatinya.” Jawab utusan itu gugup.
Wajah sang khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negerinya, Kepada gubernur ia menulis surat, “….. Makanan semanis dan selezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”
Umar bin Khaththab telah memberikan pelajaran teramat berarti. Pemimpin harus memikirkan rakyat sebelum dirinya sendiri. Dalam kesempatan lain Umar pernah menyatakan, “Saya orang pertama yang merasakan lapar kalau rakyat kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau mereka kenyang.”
Pemimpin adalah pelayan bagi umat. Pejabat adalah pelayan masyarakat. Penjual adalah pelayan bagi pelanggan. Ini telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam setiap sisi kehidupan. Dalam satu masa pemahaman ini mengalami distorsi. Bahkan tidak jarang pemimpin yang minta dilayani.
Lihatlah ketika ada kunjungan kerja dari pejabat pusat atau level lebih tinggi. Jajaran yang lebih rendah sibuk memberikan pelayanan terbaik, dari penjemputan, penyediaan tempat tinggal, kelengkapan akomodasi hingga membawakan tasnya, menyertakan oleh-oleh sampai ‘uang lelah’.
Pelayanan kepentingan masyarakat menjadi sangat sulit. Membuat passport, membuat KTP, SIM, mengurus perijinan sampai pernikahan dan perceraian semuanya serba sulit. Bahkan urusan mengubur jenazah harus membayar sejumlah uang agar semua berjalan dengan mudah. Pajak harus dibayar setiap waktu tapi pelayanan publik memprihatinkan. Sebagaimana pajak penerangan jalan yang dibayar setiap bulan namun kampung kita tetap kegelapan.
Seandainya ada pemimpin seperti Umar bin Khatab yang rela berkeliling melakukan pengawasan langsung terhadap keadaan rakyatnya. Atau presiden seperti Syafrudin Prawiranegara yang tidak tamak dengan kekuasaan. Pejabat seperti Hamka yang selalu sederhana. Panglima zuhud sebagaimana Sudirman. Tentu jiwa pelayanan kepentingan umat akan menjadi prioritas utama.
Kesadaran melayani orang lain adalah praktik yang telah dilakukan sejak dulu sampai sekarang. Bahkan telah dicontohkan para nabi. Melayani dengan ketulusan, membantu orang untuk fokus pada kekuatan yang dimiliki, membantu orang dalam menyelesaikan masalah adalah praktik-praktik melayani yang memiliki kemuliaan.
Menjadi birokrat atau pegawai di instansi atau dinas apapun Anda, adalah profesi melayani kebutuhan pelanggan. Dan rakyatlah pelanggannya. Bekal utamanya adalah menanamkan sikap helpfull terhadap keluhan pelanggan.
Perusahaan yang tidak mau melayani akan ditinggal oleh konsumennya. Karena itu hampir semua perusahaan memiliki jargon pelayanan terbaik bagi pelanggannya.
Bagaimana Singapore Airlines memperlakukan penumpang layaknya raja. Garuda Indonesia yang menjaga komitmen ketepatan waktu. Indosat yang selalu menonjolkan pelayanan meliputi customer service yang selalu menjawab tiap panggilan sampai keramahan sekuriti yang menjawab salam dengan tulus.
Melayani kebutuhan pelanggan berarti membantunya menemukan kemudahan dan manfaat dari produk yang dibeli. Jiwa melayani akan menumbuhkan empati. Melembutkan hati dan mengajarkan keterbukaan. Jiwa melayani akan membuka pintu penerimaan. Jiwa melayani mengokohkan silaturahim (networking).
Namun yang paling penting dari itu semua adalah tumbuhnya kebahagiaan dan kepuasan batin ketika dengan bantuan kita orang lain senang dengan apa yang ia dapatkan.
Kesejahteraan, kebahagiaan dan pelayanan. Bukankah itu yang paling disebut-sebut para kandidat calon Gubernur, Bupati dan Walikota saat kampanye?
Akhirnya, diperlukan pemimpin yang adil dan mandiri untuk membebaskan rakyat dari keterpurukan. Kesejahteraan yang terjadi di masa Umar bin Abdul Azis bukan hanya lantaran meningkatnya penghasilan rakyat, tapi juga tersebarnya kekayaan secara adil. Tanpa pemimpin yang adil dan peduli, kita tidak bisa berharap rakyat akan sejahtera. [js]
Posted by jumadi on under Politik & Budaya |
“Saya dulu pernah punya email, lalu saya jual.”
Begitulah jawaban seorang anggota dewan di Samarinda ketika ditanya tentang e-mail (surat elektronik) dan pemanfaatannya bagi kinerja anggota dewan. Bahkan wakil rakyat kita ini menjawab dengan meyakinkan dan percaya diri seolah-olah email adalah barang berwujud fisik yang bisa dipindahtangankan.
Seorang koleganya di kota yang sama juga setali tiga uang. Awalnya jawaban yang diberikan salah seorang Wakil Ketua DPRD tersebut terasa wajar, namun belakangan sama sekali tidak ‘nyambung.
“Secara pribadi saya belum memilikinya. Bukannya saya tidak mampu untuk memilikinya, namun saya masih cinta produk dalam negeri,” katanya seolah-seolah e-mail adalah barang dari luar negeri. “Buat apa kita membanggakan produk luar, lihat saja HP (handphone) saya masih model lama,” tuturnya sok yakin.
Menggelikan memang. Dan saya yakin ada banyak sekali anggota dewan yang terhormat belum mengenal apatah lagi memanfaatkan teknologi electronic-mail ini yang bahkan saat ini sudah banyak pelajar SMP yang mempergunakannya.
Padahal di zaman seperti ini, saat internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkankan lagi dari sisi kehidupan manusia, pemahaman dan pemanfaatan teknologi dunia maya merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dimanfaatkan, bukan hanya bisnis saja, namun tidak kalah penting dalam tata pemerintahan.
Jika saat ini sedang hangat pembahasan masalah ‘bagi-bagi laptop’ di kalangan anggota dewan baik di tingkat pusat maupun lokal, maka yang lebih penting dibahas adalah efektivitas penggunakan sarana ini untuk benar-benar menunjang kinerja anggota dewan.
Internet dalam Bisnis dan Pemerintahan
Beberapa minggu lalu, di Batam hadir seorang pakar internet Marketing dari Bandung, namanya Anne Ahira dalam seminar internet marketing (http://learn.to/InternetnetMarketingExpert). Gadis belia ini telah memanfaatkan internet untuk menghasilkan uang puluhan juta rupiah dalam sebulan. Hebatnya lagi, bisnisnya telah menjangkau sampai tingkat internasional. Hanya seorang gadis desa yang baru lulus kuliah. Menembus dunia dengan sebuah komputer di kamarnya.
Berbagai perusahaan telah memanfaatkan dunia maya untuk mempromosikan produknya sekaligus menjalankan bisnisnya dengan sangat efektif melalui komunikasi global internet ini.
Dalam bidang pemerintahan, sebenarnya banyak juga yang telah memanfaatkannya. Namun tidak semuanya efektif. Bahkan tidak jarang proyek yang terkait dengan internet ini menghabiskan anggaran yang luar biasa banyaknya meskipun hasilnya tidak seoptimal yang diinginkan.
Hanya tercatat beberapa pemerintahan daerah saja yang berhasil memanfaatkan teknologi ini dalam menunjang kinerja jajarannya sekaligus meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Pemda Kutai Kartanegara, Jembrana, Gorontalo, Yogyakarta, Kota Solo termasuk beberapa kota yang berhasil memanfaatkan teknologi ini dengan baik.
Di Batam, Pemerintah Kota, DPRD, Poltabes dan Otorita Batam merupakan contoh instansi yang telah menerapkan teknologi ini untuk menunjang kinerjanya. Nanti sama-sama kita lihat masing-masing seberapa jauh tingkat efektivitasnya di tiap instansi tersebut.
Internet dan Anggota Dewan
Sebagai seorang praktisi internet dan pemasaran, penulis termasuk orang yang setuju setiap anggota dewan memiliki laptop yang dilengkapi fasilitas internet. Harapannya setelah memiliki perangkat ini, anggota dewan bisa mendapatkan berbagai informasi yang berharga hanya melalui meja kerjanya.
Mari kita bayangkan. Dengan akses internet, seorang anggota dewan bisa mencari data-data potensi daerah yang bisa dikembangkan. Kemudian dapat mencari informasi daerah lain yang bisa dicontoh kemudian dikaji untuk diterapkan di daerahnya sendiri.
Lalu antar anggota dewan di seluruh Indonesia tergabung dalam milist (grup pengguna email) untuk bisa bertukar informasi. Antara pemda yang satu dengan pemda yang lain juga demikian.
Jika ingin studi banding tidak perlu datang jauh-jauh ke luar kota membawa serombongan tim yang berjumlah hingga puluhan orang. Tapi cukup bertukar informasi melalui email dan melihat melalui website atau video online.
Berapa banyak efisiensi anggaran yang bisa dilakukan dengan pemanfaatan teknologi ini. Sesuatu yang luar biasa, bukan?
Konsekuensinya tentu saja tidak ada lagi perjalanan ke luar negeri jika hanya untuk studi banding tentang peraturan di negeri orang. Atau kunjungan ke luar kota berhari-hari jika hanya ‘sekedar’ melihat sistem yang tengah dikerjakan di satu kota atau provinsi.
Memang penulis belum pernah menjadi anggota dewan atau walikota, sehingga tidak tahu bagaimana keadaan yang sesungguhnya. Namun sebagai praktisi di bidang ini paling tidak mengerti bagaimana cara memanfaatkannya. Semuanya tergantung itikad baik dan keinginan kita bersama. Istilah keren-nya good-will dari kita semua.
Kata Tukul Arwana, kembali ke laptop!
Semuanya bisa kita lakukan. Dengan pembekalan dan pelatihan yang memadai tentu saja akan sangat mudah menciptakan itu semua. Saya yakin anggota dewan kita adalah orang-orang intelek yang sangat mudah menerima dan menerapkan teknologi. Bukankah mereka dipilih dan duduk di sana karena kelebihan yang dimiliki dibanding rakyat biasa.
Tentu saja semua tergantung diri masing-masing anggota dewan. Kemauan untuk meningkatkan pengetahuan, keinginan untuk berbuat terbaik bagi rakyat, keinginan untuk melakukan efisiensi anggaran, keinginan untuk mengabdi. Sehingga tidak akan terjadi cerita seperti yang dikisahkan di awal tulisan ini.[js]