Aa Gym Berkata : Saya tidak ingin kaya tapi harus kaya

Posted by jumadi on December 22, 2008 under Wirausaha | 5 Comments to Read

Sebagaimana Aa Gym, ketika menulis buku “Siapa Bilang Saya tidak Ingin Kaya?” dilandasi pemikiran dengan keprihatinan yang mendalam pada sanubari, buah dari perenungan mengapa masyarakat muslim di dunia rata-rata kurang makmur walaupun negaranya memiliki sumber daya melimpah ruah.

Ironinya, bersamaan dengan itu, di negara-negara yang warganya tidak mayoritas Islam, meskipun alamnya tidak kaya, mereka berhasil membangun kemakmuran.

Dalam Islam, bekerja mencari nafkah sebanyak-banyaknya adalah ibadah. Jadi jelas, bekerja pasti berpahala besar sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Dengan kelebihan hartanya, seorang muslim akan dapat beramal lebih banyak lagi. Seorang yang mampu secara harta akan mudah melakukan sejumlah ibadah yang membutuhkan biaya besar, ibadah yang tidak akan dapat dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai uang. Namun harus diyakini bahwa kaya dalam pandangan Islam tidak identik dengan kemewahan, sebaliknya kaya itu identik dengan infaq dan shadaqah. Maka orang yang bermegah-megahan belum tentu dia adalah orang kaya, sebab orang yang pas-pasanpun bisa berbuat demikian.

Ketika genderang jihad mulai diproklamirkan dalam Islam, maka ahlu dutsur (orang-orang kaya) dari kalangan sahabat semakin proaktif memelihara dan mengembang kan hartanya. Mereka bersiap-siap jika sewaktu-waktu ada panggilan jihad yang membutuhkan perlengkapan senjata dan perbekalan makanan serta membutuhkan banyak biaya, kaum muslimin tidak kerepotan.

Contoh nyata bagaimana pengorbanan harta para sahabat dalam menghadapi jihad terlihat menjelang terjadinya perang Tabuk. Kala itu tahun 9 Hijriyah, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat yang kaya supaya menyediakan perbekalan bagi para sahabat yang tidak mampu.

Maka bersegera para sahabat menyambut seruan jihad maali Nabi SAW. Sahabat Abu Bakar ra mendermakan seluruh hartanya, Umar bin Khattab ra mendermakan sebahagian miliknya, Utsman bin Affan ra mengeluarkan harta sebanyak 10.000 dinar ditambah 300 ekor kuda lengkap dengan perbekalannya serta 50 ekor kuda, Abdurrahman bin ‘Auf ra mendermakan 100 uqiyyah emas, sahabat Al-Abbar ra dan Thalhah ra mendermakan hartanya yang jumlahnya cukup banyak, Ashim bin Adiy ra menyedekahkan 70 wasaq kurma.

Demikian pula sahabat-sahabat yang lain, mereka berbuat serupa. Bahkan para sahabiyah juga tidak ketinggalan, mereka memberikan berbagai perhiasan pribadinya.

Inilah potret sebahagian kecil para sahabat Rasulullah SAW yang memadukan antara dakwah dan kerja, sampai-sampai Umar bin Khattab ra mengatakan bahwa di pasar adalah tempat yang lebih ia senangi apabila kematian menjemputnya, setelah kematian di medan jihad. Oleh karena itu, mengutamakan salah satunya dan menafikan yang lainnya tidak dibenarkan dalam Islam.

Mari kita renungkan hikmah atas peristiwa berikut. Ada seorang sahabat yang senantiasa beribadah dan berzikir terus menerus didalam mesjid. Sahabat ahli ibadah ini tidak bekerja. Seluruh kebutuhan makan minumnya dicukupi oleh saudara-saudaranya. Menjumpai hal demikian, Nabi SAW menjelaskan bahwa kedudukan saudaranya itu, jauh lebih mulia ketimbang yang beribadah terus menerus tanpa bekerja.

Saudaraku sekalian, bagaimana anda memahami firman Allah :

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”.(Ash-Shaaf:10-11)

Jika kita renungkan, ada makna tersirat –sebenarnya juga tersurat- dari ayat diatas yang sering terabaikan. Ketika Allah SWT mengatakan dengan harta berarti kaum muslimin dituntut untuk kuat secara finansial. Demikian pula, ketika Allah menyatakan dan jiwa berarti kaum muslimin dituntut secara jasmani dan rohani nya. Boleh jadi aspek kedua lebih sering mendapat perhatian dari kaum muslimin sekarang, sementara aspek pertama yaitu tentang kekuatan finansial, masih kurang mendapat perhatian. Padahal sejarah membuktikan bahwa tidak ada satu peperanganpun kecuali pasti menghabiskan biaya yang sangat besar.

Siapa Bilang Dai Tidak Ingin Kaya? Kalimat ini tersirat di benak saya ketika mendengar sebuah tausyiah seorang sahabat mengenai hidup sederhana. Memang benar kesederhanaan harus menjadi akhlak utama yang dimiliki para dai, namun hidup sederhana tidak berarti terkungkung dalam kemiskinan dan belenggu hutang. Sebaliknya kaya tidak berarti kesombongan. Sungguh, tidak ada kaitannya kesederhanaan dan kesombongan dengan jumlah kepemilikan harta.

Sungguh, banyak karunia Allah yang menyiratkan bahwa kekayaan bukanlah mustahil dan kekayaan itu bukanlah semata-mata kaya harta. Masih menurut Aa Gym –dan saya setuju dengan pendapat beliau ini- bahwa kaya bisa berupa kaya ilmu, kaya ikhtiar, kaya hati dan sebagainya.

Allah memberikan banyak pelajaran bagi kita dengan adanya fenomena sukses di dunia ini. Lihatlah bangsa Cina yang begitu kuat karena keberhasilan mereka dalam bisnis, hingga menyebar ke seluruh dunia. Lihat juga bagaimana bangsa Jepang dan Korea yang meraih kejayaan dengan etos kerja yang luar biasa.

Saatnya kita berfikir bersama bagaimana membangun dakwah beriringan dengan membangun ekonomi. Kenyataannya dakwah, sejak dimulakannya di masa Rasul hingga sekarang, selalu membutuhkan biaya. Kekuatan ekonomi membuat kita tidak banyak bergantung pada pihak lain atau sesama manusia, karena gantungan kita yang tertinggi hanya kepada Allah. Sedangkan manusia hanya menjadi jalan datangnya pertolongan Allah. Kekuatan ekonomi ini harus selalu dibarengi dengan kekuatan ilmu dan kekuatan akhlak. Sebagaimana kata Aa Gym “Saya tidak Ingin Kaya, tapi Saya Harus Kaya”

Nilai Sebuah Kejujuran

Posted by jumadi on November 17, 2008 under Ideas @ Work, Marketing Ideas, Wirausaha | 4 Comments to Read

 

Agus tiba-tiba kelihatan marah. Durian yang barusan dibelinya tidak sebagus yang diharapkan. Bahkan boleh dibilang buruk. Di bulan-bulan ini memang buah durian sedang banyak dijual, harganya menjadi murah. Sambil ngomel Agus menyesal membeli durian di pasar Doro. Padahal pedagangnya bilang ini durian bagus. Kualitas terbaik.

 

Melihat hal tersebut Antin, teman kerjanya, mendatangi Agus dan berkata “Makanya kalo beli durian di Jalan Nusantara aja, dekat simpang. Bapaknya yang jual baik banget.” Antin menceritakan pengalamannya di tempat yang dimaksud. Penjualnya mengatakan kualitas barangnya dengan sebenarnya. Jika bagus, ia bilang bagus. Jika memang tidak bagus, juga ia katakan kepada calon pembelinya, bahkan menunjukkan letak cacatnya dan ia tidak memberikan kecuali yang terbaik. Begitu cerita itu tersebar sehingga para pelanggannya bertambah. Hampir semua orang di Pekalongan tahu tempat Bapak penjual durian yang jujur itu. Dekat masjid Baitul Karim, tempat ia sholat setiap waktunya tiba.

 

Seorang anak terlihat serius menyemir sepatu di ruang tunggu terminal Pekalongan. Di depannya, seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi sambil membaca koran lokal. Sesekali laki-laki itu mengajak bicara tukang semir tersebut. Setelah selesai, sepatu itu dikembalikan kepada pemiliknya. Laki-laki itu menyodorkan uang dua ribu rupiah sambil mengucapkan terima kasih.

 

Namun lelaki muda itu kaget ketika sang anak mengembalikan uangnya “”Kebanyakan Om… ongkosnya seribu saja.”

 

Dug ! Lelaki muda ini terhenyak. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatinya. It-just-does-not-compute-with-my-logic!” Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

 

Kejujuran.

Sebuah nilai yang agung dan terbukti menjadi kunci segala keberhasilan. Dalam buku The Corporate Mystic, Gay Hendricks dan Kate Ludeman memasukkan Kejujuran sebagai poin pertama dari 12 ciri pemimpin abad 21. Setiap pemimpin korporasi yang diwawancarai mengatakan hal yang sama: Rahasia sukses dalam bisnis adalah berkata jujur.

 

Mega-entrepreneur Indonesia, AA Gym sering menyinggung dalam setiap ceramahnya tentang menjadi orang terpercaya sebagai modal utama dalam bisnis. Ippho Santosa, marketer muda Batam yang sedang naik daun memasukkan Be Credible sebagai poin pertama dalam Eternity Marketing-nya. Hermawan Kertajaya memasukkan Guard Your Name, Be Clear and Who Your Are dalam “The 10 Credos of Compassionate Marketing”-nya.

 

Dan semuanya mencontoh pada kesuksesan Nabi Muhammad dalam berdakwah dan berbisnis dengan modal kejujurannya. Al Amin. Itulah julukan yang diberikan kawan maupun pesaingnya. Jauh lebih bermakna daripada Mr. Clean atau Mister Trusty.

 

Nilai Insan Gemilang yang menjadi salah satu value dalam melakukan bisnis yang dimiliki Indosat memasukkan Kejujuran dalam poin pertama : Integritas. Bank BRI juga memasukkan Integritas sebagai nilai-nilai penting dalam perusahaan. Dan saya yakin hampir semua korporasi mengungkap hal ini.

 

Seorang marketer yang jujur akan mendapatkan keuntungan ganda, meraih pelanggan, produknya terjual dan meraih kepercayaan orang lain. Jika ada pepatah. Juallah diri sebelum menjual produk, itu memang benar adanya. Sebaliknya seorang marketer tanpa memiliki kejujuran akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Lebih dari itu kredibilitas pribadinya akan hancur.

 

Dalam agama, seorang marketer yang jujur dan terpercaya akan mendapatkan limpahan karunia dan berkah dari-Nya. Bahkan pedagang yang jujur mendapatkan kemulian yang setara dengan para syuhada.

Jadi, bersikaplah Jujur! [js]

 

 

Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?

Posted by jumadi on November 12, 2008 under Ideas @ Work, Wirausaha | Be the First to Comment

 

Ada yang bilang menjadi karyawan susah untuk bisa kaya. Setiap gaji diterima selalu habis bulan itu juga, bahkan sebelum waktu gajian berikutnya. Jika demikian berarti memang susah untuk memiliki harta lebih untuk berinvestasi atau menabung. Yang diperlukan adalah bagaimana berpikir kreatif untuk menjadi lebih kaya, tidak dengan mendapatkan gaji yang lebih besar, tapi dengan sedikit lebih cerdas mengelola keuangan kita.

 

Dalam sebuah bukunya yang berjudul “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?” Safir Senduk, seorang ahli perencanaan keuangan memberikan tips agar bisa kaya dengan menjadi karyawan. Beliau menitikberatkan pada pentingnya Money Management yang kuncinya pada dua point utama : Saving dan Investment.

 

Lima kiat yang ditekankan oleh Mas Safir adalah :

 

1. Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif

Harta produktif adalah harta yang memberikan penghasilan pasif bagi kita. Apa artinya? Meskipun Anda bukanlah seorang pengusaha, Anda harus belajar untuk menjadikan harta Anda sebagai aset yang bekerja untuk Anda. Menjadi kaya tidak harus berpenghasilan besar, kata Safir Senduk. Menjadi kaya adalah permasalahan mengelola harta Anda dan menjadikannya sebagai aset yang bekerja, berapapun penghasilan Anda. Salah satu caranya adalah dengan melakukan saving dan menjadikan harta Anda sebagai aset / investasi bisnis.

.

 2. Atur Pos Pengeluaran

Buatlah catatan seluruh pos pengeluaran. Bedakan dan kualifikasikan pos pengeluaran menjadi biaya hidup, cicilan utang dan premi asuransi (jika punya). Urutan yang harus Anda penuhi terlebih dahulu justru : cicilan utang, premi asuransi, baru biaya hidup.

 

3. Hati-hati dengan Utang

Di dalam Islam, utang bisa mencegah tertundanya pahala syahid seorang syuhada. Dari sini seseorang harus benar-benar paham, utang harus dilakukan secara hati-hati dan penuh dengan pertimbangan dan perhitungan. Safir akan mengingatkan untuk berhati-hati melakukan utang.

 

4. Sisihkan Pos Pengeluaran Masa Depan

Jangan berpikir terlalu sederhana menghadapi pos pengeluaran. Pastikan Anda tidak melewatkan pos-pos pokok berikut, bila Anda memang menghargai kerja keras Anda selama ini: pendidikan anak, pensiun, properti (rumah), bisnis, liburan dan perjalanan ibadah

 

5. Miliki Proteksi

Asuransi adalah hal yang kurang lazim, umumnya di kalangan warga kota menengah dan kecil. Safir memberikan gambaran yang cukup sederhana mengapa perlu proteksi terhadap aset yang kita miliki. [js]

 

Semua Orang berhak Menjadi Pengusaha

Posted by jumadi on November 11, 2008 under Wirausaha | Read the First Comment

Manusia diciptakan dengan segala kelebihannya daripada penciptaan mahluk-mahluk yang lain agar manusia mampu menggunakan segala potensinya untuk melaksanakan tugas besarnya di dunia, menjadi pemimpin (khalifah).

 

Tiga  potensi uatama yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah :

 

1.        Potensi Akal (Kecerdasan)

Akal atau pikiran adalah kelebihan yang diberikan Tuhan kepada manusia dan tidak diberikan kepada mahluk-Nya yang lain. Hal ini dimaksudkan agar manusia mampu mempergunakan segala kemampuan intelektual, pola pikir dan daya imajinasinya untuk meningkatkan daya cipta usaha (kreasi) dan melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam menjaga kelangsungan hidupnya.

 

Keajaiban otak manusia adalah kemampuan menampung miliran informasi bahkan lebih, kecepatan pemrosesan data jauh melebihi kemampuan komputer paling canggih sekalipun. Daya ingat, daya olahdata, daya  imajinasi adalah kemampuan yang tidak dimiliki oleh mahluk lain di dunia ini.

 

Jika manusia memiliki kemampuan luar biasa seperti itu, apalagi yang menjadikan ia harus merasa kekurangan atau mengapa ada yang terjatuh dalam ketidakberdayaan?

 

2.        Potensi Fisik (Jasmani)

Kemampuan fisik yang dimiliki manusia juga merupakan sumber daya yang sangat luar biasa. Mobilitas yang tinggi adalah daya kemampuan manusia yang tiada taranya. Seorang manusia sanggup melakukan perjalanan jauh, memiliki daya tahan fisik dan kemampuan berusaha.

 

3.        Potensi Mental (Ruhani)

Siapapun orangnya, apapun agamanya selalu meyakini bahwa ada yang menciptakan dirinya. Itulah aspek ruhani seseorang, mengenal dan meyakini Tuhannya. Modal besar yang menjadikan spirit dalam dirinya adalah ketika seseorang meyakini bahwa semua yang ia lakukan adalah dalam rangka mendekatkan dirinya kepada penciptanya, mengabdi kepada Tuhan.

 

Inilah faktor penting yang menjadikan manusia mampu mengoptimalkan segala potensinya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka mengabdi kepada-Nya. Kekuatan ini juga yang memotivasi manusia sehingga sanggup berkorban untuk apa yang diyakini kebenarannya.

 

Demikianlah saya yakin bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia sebagai mahluk yang potensial, istimewa, bebas dan merdeka. Kebebasan dan kemerdekaan ini tidak dapat dirampas oleh siapapun karena ia adalah anugerah langsung dari Tuhan. Manusia adalah ‘kalifatullah’. Karena itu setiap orang adalah ‘entrepreneur’. Semua orang berhak menjadi pengusaha. Sebagaimana Allah sebagai Maha Kuasa atau Maha Entrepreneur.[js]

home top