Bangkit Di Masa Sulit

Posted by jumadi on February 19, 2009 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri | Read the First Comment

Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya.

 

Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,

 

“Ooo… saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!” Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.

 

Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya
pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh.

 

Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, “Ooo… ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak.” Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.

 

Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia.

 

Ia berkata, “Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak.”  Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, “Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.”

 

Mitra profesional, kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata
yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk kerja yang realistis.

 

Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan.  Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang- orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa  saja menyeret kita dalam keterpurukan.

 

Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.

 

Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam  bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus

 

Tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali,  Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, hingga Tukul Arwana, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.

 

Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:

1.  Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.

2.  Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah  dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.

3.   Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka inginkan. Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras, dan mental yang kuat.

 

Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi.

 

Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.

 

Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik.  Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum. [js]

 

 

 

8 Tips Menjadi Orang Kreatif

Posted by jumadi on January 14, 2009 under Ideas @ Work | Be the First to Comment

 

Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.

 

Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun dalam film ini terlalu banyak adegan kekerasan yang disajikan sehingga tidak baik untuk perkembangan mental anak.

 

Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Satu hal yang menarik dalam film ini adalah selalu saja ada cara bagi si Tom untuk berusaha mengalahkan si kecil Jerry, dan sebaliknya, selalu ada cara si Jerry dalam memperdaya Tom, si kucing yang selalu jadi pecundang itu. Bahkan seringkali dengan cara-cara di luar yang kita pikirkan. Mereka selalu kreatif dalam mencari cara.

 

Ya selalu menemukan cara di luar hal yang biasa. Itulah yang ingin saya bahas. Thinking out of the box, begitu orang mengisitilahkan.

 

Dalam situasi krisis seperti ini, budget yang terbatas, target yang tidak pernah turun, sebagai karyawan kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Kreatif dalam melaksanakan program kerja dan inovatif dalam mencari cara-cara baru untuk mensiasati situasi kritis seperti ini.

 

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif bukalah selalu menemukan hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari cara-cara yang biasa. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, bermanfaat, meskipun kadang tetapi dapat diimplementasikan.

 

Pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi orang yang kreatif?

 

Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:

 

1.  Buka mata, buka telinga


Kemampuan kita untuk selalu terbuka terhadap berbagai hal akan memberikan energi yang luar biasa untuk mampu mencintai segala sesuatu, termasuk mencintai profesi kita.

 

Dan mencintai itu harus kita lakukan dengan penuh ketulusan. Kalau kita dengan tulus melakukan pekerjaan, maka tidak akan ada beban sedikitpun yang mengganjal terhadap apapun yang ”ingin” kita lakukan.

 

I never, ever thought of myself as a businessman. I was interested in creating things I would be proud of (Richard Branson)

2. Percaya diri


Kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi keistimewaan kita merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Karena itu ada istilah “mempercayai kemampuan kreatifitas anda adalah separo dari sukses itu sendiri”


Untuk bisa kreatif, kita harus bisa ber”mimpi” besar untuk menggapai sesuatu.
Hidup kita tidak akan bergairah kalau kita tidak memiliki impian dan target. Orang yang percaya diri akan selalu menyusun mimpi dalam dalams ebuah cita-cita hidup.


3. Tanamkan semangat belajar


Look through the eyes of a child. The art of “listening” has been mostly forgotten. God creates human with two ears and only one mouth for a good reason.

Belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan melalui cara apa saja. Anda bisa bertanya pada yang ahli, membaca buku, jalan-jalan, menonton film, mengikuti pelatihan dan kursus, seminar, browsing internet dan banyak lagi.


Dalam kaidah Islam sering mengenal ungkapan-ungkapan seperti: ”belajarlah sampai ke negeri cina”, ”belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”.

 

Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.


4. Berhubungan dengan orang-orang kreatif

 

Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkaan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman.

 

“Sahabat terbaik adalah dia yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda” (Henry Ford)

 

Apabila Anda selalu bersama orang yang suka menyanyi, lama-kelamaan Anda juga akan senang menyanyi. Jika Anda sering berkumpul dengan para penulis atau sastrawan, paling tidak Anda akan menyukai dunia sastra. Maka jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif. Anda akan menjadi orang kreatif.


5.  Jadilah komunikator yang baik


Saat ini dunia begitu sempit, apa yang terjadi di belahan bumi lain akan bisa kita ketahui sekarang juga dan dimana kita berada. Jadi, untuk menumbuhkan kreatifitas kita harus bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.

 

Di zaman digital seperti ini, berbagai sarana komunikasi dapat Anda manfaatkan untuk membangun relasi dengan orang lain. Blog, friendster,  flickr, facebook, website adalah sarana-saran komunikasi yang bisa mendukung Anda mendapatkan wawasan dan teman baru.


6. Ciptakan suasana yang menyenangkan


Bermain mendorong anda dalam suatu pikiran yang berisi banyak elemen
yang anda butuhkan untuk kreatif, misalnya keingintahuan, imajinasi, experimentasi, fantasi, spekulasi, atau apa saja


Saya tidak pernah memiliki hari kerja dalam hidup saya. Semuanya merupakan kegembiraan” (Thomas A. Edison)


7
. Ciptakan lingkungan yang kondusif

Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.

Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.

8.  Keluar dari rutinitas

Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena  penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya. 

Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.

Selamat mencoba. [js]

 

Spiritualitas dalam bekerja

Posted by jumadi on December 22, 2008 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri | Be the First to Comment

Spiritualitas dalam bekerja

 

Mas Syaiful adalah salah satu teman dekat Panji. Ia hanya seorang laki-laki biasa yang profesinya pedagang kecil-kecilan. Ia menjual majalah dan agen buku-buku agama. Ia juga memiliki kesibukan lain, mengajar di beberapa pengajian dan sesekali menjadi mentor di sekolah untuk pembinaan akhlak dan kepribadian.

 

Panji menganggap Mas Syaiful sebagai teman sekaligus pembimbing ruhaninya. Mereka punya jadwal pertemuan rutin. Minimal seminggu sekali mereka bertemu untuk diskusi.

 

Meskipun begitu Mas Syaiful memiliki wawasan yang luas. Isu politik, ekonomi dan masalah sosial selalu ia cermati. Termasuk juga bidang pemasaran. Bahkan ia memiliki buku-buku pemasaran dan pengembangan diri yang cukup banyak. Robert T Kiyosaki, Steven R Covey, Andreas Harefa, Renald Kasali, Gede Prama adalah nama-nama yang tidak asing baginya. Literatur Arab juga menjadi koleksinya yang tidak kalah penting.

 

Dari Mas Syaiful juga Panji mendapat masukan banyak hal tentang pentingnya spiritualitas dalam bidang pemasaran.

 

“Spiritualitas hampir tak henti diperbincangkan. Seiring perkembangan pemikiran manusia, spiritualitas semakin diakui keberadaannya. Padahal selama ini banyak ilmuwan bahkan masyarakat, khususnya Barat, hampir mengabaikan dan tak mengakui keberadaannya.” Mas Syaiful memulai penjelasannya kepada Panji.

 

“Oh iya Mas, saya mengerti.” Panji menimpali.

 

“Beberapa tahun silam, misalnya, dunia psikologi geger dengan ditemukannya sebuah kecerdasan baru dalam diri manusia. Manusia ternyata tak hanya memiliki dua kecerdasan, intelektual (IQ) dan emosional (EQ). Ia juga memiliki kecerdasan spiritual (SQ). Ditandai dengan adanya titik Tuhan (God spot) di dalam otak.“ sambungnya.

 

“Tepat sekali, Panji”.

 

“Dan di era pasar global sekarang ini, etika dan nilai-nilai spiritual juga tumbuh dari negeri Barat, menjadi panduan untuk menjalankan roda perusahaan dan organiasi modern. Pengusaha dan para eksekutif perusahaan menghadirkan jiwa dan hatinya dalam bekerja. Mereka sangat menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual” jelas Mas Syaiful.

 

Panji mengingat kembali buku yang sedang ia baca The Corporate Mystic. Ia juga ingat teori Eternity Marketing yang ditulis Ippho Santosa. Apalagi konsep Berbisnis dengan Hati-nya AA Gym. Dipadukan dengan The 10 Credos of Compassionate Marketing yang digagas Hermawan Kertajaya. Semuanya klop.

 

Panji menyadari sejarah tokoh-tokoh bisnis dunia. Mereka telah mampu meraih kesuksesan dalam bisnis, tanpa mengorbankan keseimbangan dan keselarasan hidup. Maka mereka menjadi sejahtera tidak saja secara finansial, melainkan juga secara spiritual.

 

Jauh empat belas abad sebelum ini, pebisnis kondang sepanjang zaman, Nabi Muhammad telah mempraktekkan bersama para sahabat, bagaimana melakukan aktivitas bisnis dalam bingkai ajaran agama. Bahkan ajaran Islam telah menempatkan bahwa mencari nafkah dan bekerja adalah bagian integral dari ibadah. Bahkan banyak kemuliaan yang diberikan kepada pekerja daripada orang yang hanya beribadah saja. Pebisnis yang jujur disetarakan dengan mujahid yang berjuang untuk agama.

 

Secara integral, spiritualitas dalam bisnis ini meliputi semua aspek ruhani manusia. Didalamnya ada cinta, pengorbanan, empati, kasih sayang, motivasi, kearifan, manajemen emosi, visi, kejujuran, ketaatan, nilai-nilai ketuhanan dan aspek kearifan universal yang diajarkan oleh agama. Inilah sesungguhnya kecerdasan hakiki manusia.

 

Mulai sekarang, cerdaskan spiritual anda. [js]

 

Rafting, what is inside?

Posted by jumadi on December 18, 2008 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri | Be the First to Comment

Rafting, what is inside?

Seru … itulah kalimat yang muncul dari teman-teman yang mengikuti arung jeram di sungai Progo, Magelang, beberapa waktu lalu. Setelah sehari sebelumnya mengikuti Pelatihan Excellent Customer Service di Semarang, pagi harinya Tim Reps. Pekalongan berangkat ke Magelang, tepatnya menuju kawasan Hotel Puri Asri. Di sanalah petualangan ini dimulai.

 

 

Melakukan aktivitas arung jeram ternyata sangat mengasyikkan. Banyak tantangan tak terduga selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam. Ditengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk istirahat sejenak..Awalnya, beberapa orang merasa ragu-ragu apakah sanggup mengikuti aktivitas ini atau tidak. Apalagi malam sebelumnya diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan begitu beratnya tantangan dalam arung jeram. Namun setelah setengah perjalanan kami sangat menikmati perjalanan mengarungi sungai progo ini, bahkan merasa penasaran untuk mengulang kemblai.

Banyak pelajaran yang kita dapatkan dalam sebuah ekspedisi arung jeram, antara lain:

 

·         Trust, saling percaya.

·         Melatih berpikir out of the box.

·         Melatih mental untuk siap dalam menghadapi tantangan.

·         Melatih kewaspadaan. Dari awal hingga akhir perjalanan, kita tidak boleh lengah sedikit pun, karena cukup banyak hal-hal tak terduga bisa saja terjadi.

·         Pentingnya team bulding. Setidaknya setiap peserta harus saling menjaga keseimbangan dan saling membantu agar temannya jangan sampai terjatuh.

·         Taat pada pimpinan. Setiap anggota tim harus patuh dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pimpinan perahu, karena jika tidak dapat membuat perahu oleng atau bahkan terbalik

·         Melatih diri untuk selaras dan harmonis dengan alam. Tidak boleh ada kesombongan sedikitpun dalam hati kita. Karena di saat seperti itu, terasa sekali betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT, Sang Maha Pencipta alam semesta ini.

 

Itulah sekelumit pengalaman yang bisa saya sharing. Saya anjurkan, sesekali cobalah melakukan aktivitas yang di luar kebiasaan, terutama kegiatan di alam bebas. Saya yakin Anda akan menemukan banyak hikmah dan pelajaran baru. Selamat beraktivitas. [js]

 

Menikmati Penolakan

Posted by jumadi on December 17, 2008 under Ideas @ Work, Marketing Ideas | Be the First to Comment

 

Sedih, pilu, gundah mungkin juga marah. Itulah yang dirasakan orang yang ditolak. Ditolak cintanya, ditolak lamaran pada suatu pekerjaan atau ditolak proposalnya. Yang paling sering terjadi adalah ditolak penawarannya. Hampir semua penjual pernah mengalami penolakan. Namun yang berbeda adalah cara menghadapi penolakan itu.

 

Ada yang larut dalam kesedihan lalu menjadikannya putus asa. Ada yang yang justru menjadikan kata ‘tidak’ sebagai pemicu semangat untuk melakukan usaha lebih keras lagi. Sebagaimana Kolonel Sanders yang ratusan bahkan ribuan kali ditolak ketika menawarkan resep ayam gorengnya. Namun ia tidak menyerah. Kini kita lihat kedai yang menjual ayam goreng dengan label Kentucky Fried Chicken hampir ada di semua kota di dunia, termasuk Indonesia. Buah dari ketekunan menghadapi penolakan mengantarkan banyak sales pada posisi puncak karier dengan penghasilan milyaran rupiah.

 

Kata ‘tidak’ bukan akhir segalanya. Penolakan tidak berarti dunia ini sudah kiamat. Barangkali dengan mengatakan ‘tidak’, calon pelanggan ingin mengatakan ‘tidak saat ini’ atau ‘tidak yang ini’. Artinya masih banyak kesempatan. Mungkin juga mereka mengatakan tidak karena kurang memahami produk kita. Atau memang budget yang tidak sesuai dengan penawaran kita. Bisa jadi karena prospek belum mengetahui kelebihan dari produk yang ditawarkan.

 

Berpikir positif, itulah jawabannya. Caranya adalah memandang bahwa masih ada kesempatan. Langkah selanjutnya adalah membuat persiapan untuk melakukan hal lebih baik lagi. Belajar dari apa yang dilakukan para marketer MLM yang hampir tidak pernah mengenal kata menyerah. Mereka melakukan upgrading diri sendiri, bahkan dengan biaya mereka sendiri. Meningkatkan kemampuan negosiasi, kemampuan presentasi, penguasaan produk hingga ketrampilan memahami karakter personal seseorang hingga mudah melakukan pendekatan.

 

Selanjutnya adalah mengubah cara pandang. Menempatkan posisi pada orang yang melakukan penolakan. Proposal yang diajukan ditolak. Biasanya disikapi dengan nada negatif. Begitulah dia memang sentimen sama saya, setiap mengajukan sesuatu ditolak. Atau aneka prasangka lain yang justru akan menambah beban pikiran kita. Cobalah untuk berpikir terbalik. Seandainya saya pada posisi orang tersebut, apa yang membuat saya menolak penawaran ini. Dengan demikian kita akan menemukan jawaban. Proposal kurang lengkap. Biayanya terlalu besar. Saatnya belum tepat. Gali ide lebih kreatif lagi. Terlalu mahal. Kurang efisien dan seterusnya.

 

Kemudian mensikapi penolakan sebagai sebuah dinamika profesi. Nikmatilah. Karena itulah jalan keindahan yang akan membawa kita untuk mencintai profesi kita. Lihatlah orang-orang yang menikmati penolakan. Penjual koran dijalanan, tukang semir sepatu yang berkeliling menawarkan jasanya ke semua orang. Tukang sol sepatu, mbak jamu, tukang ojek di pangkalannya. Juga sopir taksi dan tukang obat. Tidak terhitung berapa kali mereka ditolak oleh prospek mereka. Bisakah Anda bayangkan seandainya mereka menyerah lalu ngambeg dan pulang ke rumah?

 

Resepnya adalah kuasai penolakan sebelum Anda dikuasai oleh penolakan, demikian yang diungkapkan oleh Richard Denny dalam bukunya Succeed for Yourself. Jika kita sudah bisa menguasai penolakan, kita tidak perlu takut lagi untuk mencoba mengajukan penawaran. Dengan keterampilan kita menguasai penolakan, kita bisa mengubah kata ”tidak” menjadi ”ya”. Selamat mencoba! [js]

Toxic employee di sekitar kita

Posted by jumadi on December 16, 2008 under Ideas @ Work | Be the First to Comment

 

Rita adalah karyawan yang baru bergabung dalam timnya Panji. Belum ada 2 bulan Rita pindah dari cabang lain dan bergabung bersama tim yang oleh Panji disebut ‘the dream team’ karena kekompakan dan restasi yang sering dibuat oleh timnya itu. Panji juga sebenarnya belum lama. Belum ada setahun ia memegang sebagai area sales manager di kota ini. Meski begitu, sejak ia pegang, area ini selalu menjadi juara dalam berbagai kompetisi baik terkait dengan sales performance maupun non sales performance.

 

Namun sejak kahadiran Rita, ada sesuatu yang lain terjadi disini. Gadis yang asli kota ini baru dipindah dari cabang lain dan memegang salah satu fungsi di sales support officer . Sebenarnya tugasnya tidak terlalu berat, hanya melakukan follow up customer yang sudah deal dengan sales, melengkapi dan melakukan verifikasi data dan membuat janji untuk serah terima barang dengan customer.

 

Yang membuat karyawan lain agak gerah adalah sikap Rita yang terkesan seenaknya. Kadang datang terlambat -meskipun sudah ijin sebelumnya-, pulang lebih cepat, tiba-tiba sakit atau sikap kepada pelanggan yang terkadang kurang mencerminkan good service. Beberapa kali juga sempat clash dengan rekan lain akibat dari perbedaan pendapat yang sepele.

 

Panji menghawatirkan jika sikap Rita yang demikian akan menimbulkan ketidakharmonisan bahkan menimbulkan ‘penyakit’ bagi timnya yang sudah solid. Kehadiran Rita ibarat toxid dalam timnya. Eny, salah satu team leadernya yang membawahi corporate sales bahkan menyebutnya the toxid employee.

 

Apa itu toxid employee?

 

Toxic employee sering didefinisikan sebagai karyawan yang menjadi racun bagi organisasi/ perusahaan tempat bekerja dan karyawan lain dalam timnya. Sesuai dengan sifatnya, racun jika diberikan dengan kadar dibawah dosis tidak akan memberikan efek apa-apa, jika kadarnya sesuai dosis akan menjadi obat, namun jika kadarnya diatas dosis akan menjadi sangat berbahaya, sangat merugikan bahkan dapat mematikan.

 

Menurut Anthony Dio Martin, seorang psikolog sekaligus penulis buku EQ Motivator, yang menguatkan pendapat Dr.Robert K Bitting (toxic employee) bahwa karyawan seperti ini biasanya menunjukkan sifat-sifat sebagai berikut:

 

Pertama, adalah negaholic yaitu kecenderung selalu berpikir negatif dan pesimistis. Untuk setiap gagasan yang sebenarnya baik dan progresif, namun bila mereka ditanya pendapatnya, mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan.

 

Kedua, mereka menjadi duri dalam daging bagi tim. Akibatnya, energi tim lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan dan melaksanakan ide kemajuan proyek. Pikiran, sikap, dan tindak-tanduknya menyita banyak perhatian dan energi tim. Orang-orang tidak fokus lagi pada memajukan proyek, justru terbekap dan energinya habis untuk meladeni pikiran dan kritikan dari si toxic employee ini. Intinya, toxic employee mengurangi laju perkembangan kerja tim.

 

Ketiga, mereka lebih banyak menjadi masalah ketimbang memberikan solusi. Kadang, mereka bisa menjadi sangat kritis dan jeli dalam melihat permasalahan. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ke situ. Mereka melihat masalah, menyebutkan masalah, dan menciptakan masalah.

 

Keempat, egosentris (self centered). Dalam berbagai situasi, mereka bisa tampak melontarkan ide cemerlang yang bertujuan demi kepentingan banyak orang dan perusahaan.

 

Kelima, emosional. Urusan menjengkelkan dengan orang tipe ini adalah temperamennya yang emosional. Bila ditegur atau dikritik, mereka bisa menjadi sangat sensitif dan defensif. Kritik dinilai sebagai serangan pada dirinya. Akibatnya, orang-orang ini menjadi sulit menerima masukan dan feedback dari orang lain.

 

Keenam, suka menyebarkan gosip dan berita negatif. Gosip yang mereka lontarkan mampu memengaruhi semangat dan kultur buruk kinerja. Akibatnya, aroma kecurigaan menguat di dalam timnya. Orang mudah berprasangka negatif. Dalam situasi macam ini, justru dialah yang sering dijadikan tempat curhat. Inilah momentum baginya menyebarkan virus pikiran negatif dan kecurigaan kepada semakin banyak orang.

 

Yang ketujuh, dia tidak pernah bersyukur. Saat mendapatkan hal-hal baik, orang macam ini tidak mampu mengungkapkan rasa syukur. Mereka berdalih perusahaan memang sepantasnya berlaku seperti itu.

 

Mitra profesional, berinteraksi dengan rekan kerja semacam ini, kita harus berhati-hati. Jangan terburu-buru untuk memberi stigma buruk dan langsung menyikapinya secara negatif. Tidak jarang, toxic employee lahir karena kekecewaan yang menumpuk dan tidak ada saluran ekspresinya.

 

Karena itu, dialog menjadi lebih penting dan sikap dewasa, lebih dibutuhkan di awal-awal dalam menghadapi mereka ini. Tak jarang juga, setelah didialogkan dan kekecewaannya mendapatkan jawaban, mereka bisa sembuh.

 

Baik sebagai rekan kerja maupun atasan bagi karyawan semisal Rita, kita harus tetap berlaku bijak. Terlalu cepat memberikan ’judment’ atau stigma negatif kepadanya akan menghilangkan potensi yang mungkin dimiliki yang bersangkutan, namun membiarkan menebarkan virus dalam lingkungan kerja juga akan mempengaruhi kinerja tim.

 

Seorang pimpinan dalam tim  pun perlu peka untuk melokalisir ruang gerak dan pengaruh negatif dari mereka. Akhirnya, jika memang segala upaya dicoba dan mereka juga tidak sembuh, lebih baik kehilangan satu atau beberapa karyawan yang toxic daripada seluruh organisasi rusak.

 

Jadi berhati-hatilah, jangan-jangan ada toxic employee di sekitar Anda! [js]

 

 

Decision Making: Tugas Kepemimpinan

Posted by jumadi on December 9, 2008 under Ideas @ Work, Leadership | Be the First to Comment

 

Beberapa saat lagi kereta akan tiba di stasiun Semarang. Semua penumpang telah bersiap-siap dengan masing-masing barang bawaan. Panji menyapa kembali kenalan di sebelahnya yang kemudian ia ketahui bersama Farid. Sebagai teman perjalanan, mereka telah berbincang sejak berangkat dari stasiun Gambir, Jakarta. Keduanya lalu bertukar nomor telepon dan saling menanyakan melanjutkan ke kota tujuan.

 

Kereta tiba di Semarang. Ini adalah stasiun terakhir kereta Argo Muria, artinya semua penumpang akan turun disini untuk melanjutkan ke tempat tujuan masing-masing. Biasanya penumpang kereta ini punya tujuan beragam, ada yang memang mau ke Semarang, ke Salatiga, Kendal atau kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Kudus, yang menjadi tujuan Panji.

 

Keluar dari stasiun riuh rendah suara penjemput berbaur dengan para sopir yang menawari jasa sewa kendaraan. Panji sempat berdiri di pinggir halaman parkir sejenak. Ia masih berpikir akan melanjutkan perjalanan dengan apa? Naik bis biasa atau sewa mobil. Bisa juga pakai taksi, atau naik ojek ke terminal. Banyak pilihan. Ia tampak agak ragu untuk memutuskan.

 

Sementara masih bingung, Panji duduk di kursi tunggu stasiun. Satu persatu orang meninggalkan tempat itu. Ada yang dijemput keluarganya, ada yang naik taksi, ada yang ke jalan raya menunggu bis di luar stasiun, ada juga yang naik taksi bahkan ojek dan becak. Semua telah melanjutkan perjalanannya sesuai dengan pilihan masing-masing.

 

Stasiun telah mulai sepi. Panji berdiri. Ia tidak boleh bingung. Ia harus memutuskan untuk memilih ke mana melanjutkan perjalanannya.

 

Mitra profesional, mengambil keputusan adalah salah satu tugas yang menjadi tanggungjawab pemimpin. Seorang leader sering dihadapkan pada pilihan-pilihan, bisa jadi pilihan itu mudah untuk diputuskan, namun tidak jarang pula dihadapkan pada pilihan sulit. Dan untuk itulah ia harus mengambil sikap tegas, keputusan mana yang ia pilih untuk dijalankan.

 

Sebagian keputusan yang kita ambil merupakan campuran berbagai macam ingatan, gagasan, perasaan, dan fakta yang kadang-kadang saling bertentangan. Sehingga “sentuhan” intuitif itu memungkinkan kita membiarkan data intuisi itu melengkapi data lain yang akan kita gunakan untuk mengambil keputusan. Jadi keputusan bisa diambil dengan menggunakan rasio maupun intuisi.          

 

Menurut Quinn Spitser dan Ron Evans, intuisi adalah analisa kilat dari fakta dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter. Dalam bisnis, memang dikenal adanya intuisi bisnis. Di dalamnya ada wawasan, pengalaman, mental, dan perasaan. Bagi mereka yang memiliki intuisi bisnis yang tajam, maka dia tidak hanya mampu mengandalkan perasaan, tapi ada juga wawasan yang luas, pengalaman banyak, dan mental yang dalam. Intuisi ada empat tingkatan, yaitu bisa muncul melalui fisik, emosi, mental, dan spiritual.

 

Banyak cara mengembangkan intuisi, di antaranya seperti yang dikembangkan oleh Robert K. Cooper, Phd, yaitu: terjun ke dalam pengalaman, kerahkan kemampuan sedikit lebih banyak, tetap terbuka terhadap segala kemungkinan, atasi rasa takut, kenali dan cari cara untuk mengatasi apapun yang menghalanginya. Selain itu Cooper juga menyarankan, supaya peluang penginderaan harus ke luar dunia binis, berikan perhatian ekstra kepada tanggapan pertama terhadap pertanyaan-pertanyaan, perhatikan bagaimana intuisi berkomunikasi dengan diri kita, luangkan waktu beberapa menit saja dalam sehari untuk catatan kecerdasan emosional, dan jangan lupa memperluas rasa percaya diri.

 

Bersikap ragu-ragu ketika membuat keputusan adalah satu hal yang bisa mengurangi ketegasan sikap kepemimpinan seseorang. Dengan dilatih sedari dini, hal ini justru bisa menjadi satu keterampilan yang dibutuhkan di setiap pemimpin.

 

Dari kerangka berpikir tersebut juga akan dihasilkan beberapa alternatif pengambilan keputusan dengan memikirkan kemungkinan baik-buruknya berikut konsekuensi yang akan dijalani nantinya. Sebaiknya, sertailah argumen yang akurat dan tepat sebagai latar belakang dari setiap alternatif keputusan. Biasanya, sebuah keputusan akan mendapatkan berbagai respons dari teman sekerja atau anak buah. Apabila memiliki argumen yang kuat, tentu keputusan seseorang bisa diterima.

 

Selain itu, akan lebih bijaksana bila seorang pemimpin membuat tenggat waktu sendiri kapan harus menjatuhkan pilihan dari beberapa alternatif yang ada. Dengan demikian, ia pun tidak terlalu lama berkutat dalam mencari alternatif dan pedoman lain dalam membuat keputusan. Membuat keputusan yang tepat di waktu yang dibutuhkan adalah kunci utamanya. Patut diketahui, hal ini juga menjadi faktor pendukung bagi kesuksesan karir di kemudian hari serta memberi nilai lebih bagi seorang pemimpin seperti Anda.

 

Panji segera bergegas ke jalan raya, memberhentikan bis dan melanjutkan perjalanannya. Sekarang ia telah mengambil keputusan itu. [js]

Berani Berbeda

Posted by jumadi on December 2, 2008 under Ideas @ Work | 2 Comments to Read

 

Mitra profesional, saya yakin Anda sering melihat iklan di televisi kan? Iklan mana yang Anda ingat? Tentu diantara berbagai macam iklan tersebut ada beberapa yang yang Anda ingat bahkan nempel  di benak Anda. Barangkali itu iklan produk rumah tangga, kartu telepon sampai rokok. Menurut Anda apa yang membuat iklan tersebut selalu Anda ingat, kenapa bukan merek lain yang sejenis?

 

Salah satu hal yang membuat sebuah iklan diingat pemirsanya adalah karena menampilkan sesuatu yang berbeda.

 

Di antara banyak bintang di langit, biasanya ada satu-dua bintang yang lebih menonjol dibanding dengan yang lainnya. Mungkin karena lebih terang cahayanya atau letaknya yang menyendiri di antara bintang lainnya. Demikian juga di tempat kerja. Mungkin banyak ‘bintang’ bersinar di tempat kerja Anda, tapi bagaimana agar ‘cahaya’ Anda bisa lebih ‘bersinar’?

 

Ya. Milikilah sesuatu yang berbeda. Be different. Dalam prinsip pemasaran disebut diferensiasi. Bahkan seorang pakar pemasaran, Jack Trout, menyebut pentingnya sesuatu yang berbeda dalam sebuah buku Differentiate or Die. Bentuklah citra diri Anda agar menjadi ‘sesuatu’ yang berbeda diantara seluruh karyawan yang ada dalam unit kerja Anda.

 

Bagaimana cara membangun citra diri? Hermawan Kertajaya dalam Marketing Yourself menjelaskan penerapan P-D-B dalam membangun citra diri ini.

Langkah awal adalah membangun positioning, yakni bagaimana Anda mampu secara tepat memposisikan diri Anda di benak pelanggan atau target pasar.

Elemen pertama ini harus ditentukan agar Anda memiliki identitas yang jelas di benak orang lain.

 

Nah, dalam konteks sebagai seorang karyawan, seperti tulisan saya sebelumnya (baca: Personal Branding, perlukah?) posisikanlah diri Anda dalam benak atasan, rekan kerja atau bawahan Anda sebagaimana yang Anda inginkan. Identitas inilah yang akan melekat dalam diri rekan Anda, bahkan sampai jika suatu saat akan berpisah dengan Anda.

 

Kedua adalah diferensiasi bagaimana Anda menampilkan perbedaan yang khas, unik dan kokoh hingga dapat terbedakan dengan orang lain meski dengan orang yang mirip sekalipun dengan Anda. Diferensiasi yang kokoh akan memperkuat positioning kita. Biarkanlah rekan kerja Anda melihat apa yang berbeda dalam diri Anda. Namun sekali lagi hati-hati dalam menafsirkan perbedaan, ada yang dikenal karena baik sekali atau sebaliknya, karena jelek sekali (lihat Tipe Karyawan di Kantor Kita).

 

Sedang yang ketiga adalah branding, yaitu bagaimana Anda membangun ekuitas merek diri Anda secara berkelanjutan.

 

Sesuatu yang berbeda kadang cenderung kontroversional. Masih ingat beberapa waktu lalu muncul ada iklan menirukan proklamasi? Atau iklan partai politik yang menampilkan gambar Soeharto dan menyebutnya guru bangsa? Iklan-iklan tersebut menjadi pembicaraan bahkan memenuhi banyak kolom dalam suratkabar karena pemberitaan yang kontroversional. Kontroversional ini berbeda tipis dengan kreativitas. Maka untuk menjadikan diri Anda berbeda dari yang lain kata kuncinya adalah kreativitas.

 

Jadi, agar sikap dan langkah kontroversi kita mengarah ke hal yang lebih baik, maka kuncinya adalah kita harus dapat berkontroversi yang didasari oleh pemikiran yang matang, sehingga tidak hanya sekedar beda, ngawur, atau bahkan orang lain bisa jadi menyebut kita pemberontak.

 

Yang harus dipahami, mendapat pengakuan atas penampilan beda kita, dan diterima di kalangan yang berbeda, seringkali itu butuh perjuangan ekstra keras.  Tapi jangan menyerah, jangan mutung, apalagi sampai bunuh diri. Jangan! Kalo mau tampil beda, memang awalnya dibilang gendeng, kalo itu dari busana, mungkin awalnya dibilang sableng, kalo dari pemikiran. Tapi kalo kita yakin itu positif. Kenapa tidak?

 

Maka tampilkan diri Anda sebagai seorang karyawan yang berbeda dari yang lainnya, namun sekali lagi bukan sekedar beda. Wujudkan perbedaan itu dalam bentuk kreativitas. Dengan demikian Anda akan menjadi seorang yang dikenal oleh banyak orang dalam lingkungan kerja, baik itu rekan, bawahan, atasan bahkan sampai CEO atau karyawan perusahaan Anda dalam lingkup yang lebih besar.

 

So, be different!

Menjadi ’Bintang’ di Tempat Kerja

Posted by jumadi on November 25, 2008 under Ideas @ Work | Be the First to Comment

 

Di dunia kerja, membangun hubungan baik sesama rekan kerja jelas sangat penting. Bagaimana pun, bersosialisasi dengan rekan kerja tak hanya membuat suasana kerja terasa lebih nyaman, tetapi produktivitas pun dijamin akan meningkat.

 

Berdasarkan pengalaman banyak orang, ide cemerlang seringkali mencuat karena adanya interaksi yang bagus dengan rekan kerja. Apalagi, sekarang ini penilaian kerja seseorang tidak melulu karena kecerdasan dan ketrampilannya sebagai individu. Dalam polling terakhir yang dilakukan oleh sebuah harian terkenal, mayoritas karyawan menganggap bahwa tampil serius dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan saja tidak cukup untuk mendongkrak karir seseorang. Kemampuannya bekerja sama dengan tim juga menjadi pertimbangan penting.

 

Nah, jika ingin sukses berkarir, salah satu syaratnya Anda harus bisa membangun hubungan yang baik dengan rekan kerja. Salah satu cara yang lebih efektif bila anda ingin mendapatkan kesempatan ke jenjang karir yang lebih baik, yaitu menjalin kontak (baik secara eksternal maupun internal), dan mencari tugas-tugas yang menantang namun potensial.

 

Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan agar sukses di tempat kerja, bukan cuma berhasil menyelesaikan pekerjaan dan membangun hubungan dengan rekan kerja, namun juga Anda bisa menjadi ’bintang’ di antara sesama pekerja di kantor Anda.

 

1. Bangunlah relationship.

Membangun kerjasama bukan hanya dengan rekan se-departemen anda, tapi juga lintas departemen. Jalinlah hubungan dengan rekan Anda di departemen lain. Bangunlah relationship dengan orang sebanyak mungkin dalam lingkup pekerjaan Anda. Dengan menjalin hubungan persahabatan dengan rekan kerja dari bagian lain, hal itu akan membuat anda dikenal sebagai figur yang supel, dan pada akhirnya akan membuka kesempatan anda mendapat promosi di masa datang atau kenaikan gaji.

 

Bila kelak anda ditunjuk untuk mengepalai suatu proyek, menjadi team-leader atau memimpin suatu unit kerja misalnya, luasnya pergaulan anda akan memudahkan anda untuk memilih orang-orang yang memang capable/ mampu dalam pekerjaannya.

 

2. Menjalin networking.

Memiliki jaringan koneksi ke perusahaan atau instansi lain akan membuat profil anda di mata rekan-rekan menjadi tinggi. Anda mungkin akan menjadi orang yang paling diandalkan karena mengetahui perkembangan dunia luar perusahaan.  Dengan memiliki jaringan yang luas, Anda akan semakin dikenal dan dianggap  memiliki kredibilitas. Selain itu, secara tidak langsung anda akan dianggap sebagai juru bicara tidak resmi perusahaan bagi orang lain, yang menunjukkan kemampuan leadership anda.

 

3. Berpikiran luas dan menguasai teknologi.

Jangan hanya melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri. Lihat dengan cara yang lebih luas dan sesuaikan dengan cara pikir orang lain. Selalu menambah wawasan di luar spesialisasi dan mempelajari hal-hal baru adalah ciri orang yang berpikiran luas.

 

Apalagi saat ini ada tren baru yang berlaku di dunia bisnis : siapa yang menguasai teknologi, maka dialah yang menguasai dunia. Menjadi orang yang gemar belajar menjadi nilai lebih bagi Anda. Bisa lebih dulu menguasai salah satu kemajuan teknologi seperti program-program komputer yang beredar sekarang ini akan membuat profil anda semakin tinggi di mata rekan-rekan kerja.

 

4. Aktif dan berani ambil resiko

Bangunlah dasar yang kokoh ketika memulai suatu pekerjaan atau menyampaikan gagasan. Itu memberikan kesan yang baik kepada rekan, bos, dan klien Anda. Karenanya inisiatif merupakan langkah utama untuk menjadi bintang. Inisiatif memiliki empat elemen yaitu melakukan hal di luar deskripsi kerja, membantu yang lain, berani mengambil resiko dan melakukan pekerjaan sampai tuntas.

 

Mungkin dalam karir anda akan menjumpai tugas sulit sehingga rekan-rekan kerja anda jadi enggan untuk dipilih sebagai project officer. Cermati baikbaik, mungkin pekerjaan ini bisa menjadi tiket utama anda mendapat kesempatan.  Jangan takut gagal, sebab meski nanti akhirnya pekerjaan tersebut hanya bisa diselesaikan setengahnya saja, nama anda akan dikenal sebagai orang yang berani mengambil resiko dan mau bekerja keras.

 

5. Memiliki Jiwa Kepemimpinan

Para bintang dalam suatu pekerjaan memiliki kemampuan mempersatukan orang untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan dengan cara memecat, menaikkan gaji, atau memberi jabatan. Mereka punya tiga komponen seorang pemimpin yang baik yaitu berpengetahuan, membawa energi ke tempat kerja dan lingkungan serta selalu memberikan perhatian pada setiap orang alam timnya.

 

6. Kenali perusahaan Anda

Jadilah orang yang paling memahami seluk beluk perusahaan Anda. Ketahuilah informasi selengkapnya tentang perusahaan, siapa yang dapat dipercaya dan yang sebaiknya dihindari serta bagaimana mengatur kompetisi dalam organisasi, perlu mendapat perhatian. Buka mata dan cari tahu. Apa pandangan atasan dan pekerja yang lebih lama dari Anda mengenai hal-hal yang sedang terjadi. Jadilah guru sendiri. Jadilah murid di tempat kerja.

 

7. Menjadi Komunikator yang baik

Seorang bintang di tempat kerja adalah ahli komunikasi yang hebat. Mereka tahu bagaimana cara membentuk percakapan, membatasinya dan menarik perhatian orang. Untuk itu, gunakan bahasa yang tepat dengan pendengar yang tepat pada waktu yang tepat.

 

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah diri kita dari karyawan biasa menjadi seorang bintang ditempat kerja. Dan jika kita  sudah bisa menjadi karyawan seperti itu, maka manajemen puncak akan  menempatkan kita didalam sebuah daftar ‘khusus’. Daftar yang akan digunakan dalam pemilihan talent terbaik untuk suatu posisi tertentu. [js]

 

Menikmati Pekerjaan

Posted by jumadi on November 19, 2008 under Ideas @ Work | Read the First Comment

 

Bangun difajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat diterik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesukuran terpahat di bibir senyuman

(Kahlil Gibran)

 

Setiap hari kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Ada uang bekerja di kantor, di warung, di toko, bengkel, terminal, di jalan sebagai sopir, di pasar, sawah, lapangan atau di manapun kita berada. Hampir sepertiga waktu kita habiskan untuk bekerja, bahkan lebih.

 

Beruntung orang yang mempunyai pekerjaan. Apapun profesinya itu asalkan baik dan halal merupakan upaya yang benar untuk mencari nafkah. Setidaknya, lebih mempunyai aktivitas dalam mencari penghasilan dibanding dengan (maaf), seorang pengangguran. Namun, ada kalanya orang bekerja dibawah tekanan, dalam arti tidak merasa nyaman ketika melakukan pekerjaan itu.

 

Seorang karyawan misalnya, rata-rata ia akan menghabiskan waktu 8 jam setiap hari. Waktu yang sangat panjang dan melelahkan bila kita tidak menikmati pekerjaan, tidak nyaman, tidak bersemangat, apalgi sedih, malas, lesu bahkan mengantuk. Orang yang dalam keadaan seperti ini tidak memiliki produktivitas. Bahkan dipaksa sekalipun hanya akan membuang waktu dan tenaga, karena hasilnya tidak akan maksimal.


Bosan, jenuh dan tidak menikmati pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Apalagi jika pekerjaan sudah menjadi rutinitas semata. Business as usual. Perasaan tidak nyaman dengan keadaan, rekan sekerja atau atasan, dalam keadaan tertentu kerap menjadi faktor pemicu kejenuhan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar hal tersebut tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kita.

 

Dari beberapa literatur dan pengalaman dalam bekerja, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita bahagia menikmati pekerjaan kita.. Mudah-mudahan kita bisa menikmati pekerjaaan. Penghasilan dapat, hatipun senang.


1. Yakinlah bahwa bekerja adalah ibadah

Sebagaimana ajaran semua agama, bahwa bekerja adalah ibadah. Hal ini terkait dengan niat kita, apa yang kita lakukan, peras keringat, banting tulang, ketika diniatkan untuk ibadah, insya Allah akan memberikan semangat tersendiri dalam hati dan diri kita.

 

Seorang kepala keluarga misalnya, sungguh mulia jika niatan ini selalu ada dalam hatinya. Setiap melangkahkan kaki menuju tempat bekerja, ia niatkan untuk ibadah, mencari nafkah agar bisa menunaikan kewajiban dalam keluarganya, membantu sesama dan menguatkan ibadahnya. Hati menjadi ringan ketika melakukan pekerjaan

 

Tentu akan menumbuhkan semangat dalam diri Anda untuk selalu bekerja dan bekerja.


2. Cintailah pekerjaan Anda

Jika kita encintai sesuatu maka kita akan senang melakukan apapun untuknya. Demikian juga dalam bekerja. Berusahalah untuk mencintai pekerjaan Anda. Menjiwai apapun pekerjaan yang Anda lakukan akan menumbuhkan kecintaan pada profesi yang Anda jalani. Nikmatilah apapun yang bisa Anda lakukan untuk pilihan pekerjaan Anda.

 

Bila anda tetap saja tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan di lingkungan pekerjaan. Maka pekerjaan itu pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

 

Jika anda juga tidak bisa melakukan hal itu, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja.

 

3. Jalinlah persaudaraan di lingkungan kerja.

Tidak jarang dalam lingkup kerja, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda suku dan agama, datang dari tempat yang jauh dan sama-sama merantau. Kita memang tak saling kenal sebelumnya. Tetapi alangkah indahnya ketika kita memperlakukan rekan kerja sebagai seorang saudara.

 

Dengan menganggap rekan kita sebagai saudaraa, akan sulit bagi kita untuk terlalu iri, saling curiga berlebihan, apalagi saling menjatuhkan. Tak akan terbesit sikap demikian karena sama saja dengan manghancurkan saudara sendiri. Kalau kita melihat sesama karyawan misalnya melakukan kesalahan, tentu tak ada sikap lain bagi kita untuk mengingatkannya, tentunya dengan cara personal dari hati ke hati, bukan di tempat umum karena bisa menyakitkannya. Atau jadikan atasan sebagai perantara untuk mengingatkan. Dengan ketulusan, hal seperti ini akan menumbuhkan keindahan.

 

4. Ciptakan suasana yang nyaman.

Ciptakan suasana yang nyaman dalam setiap situasi kerja Anda. Ruang kerja, dekorasi ruangan maupun suasana interaksi antar sesama. Membangun komunikasi empatik juga cara yang baik menciptakan kenyamanan. Seperti saling menanyakan kabar baru, menjaga seyuman dan sapaan-sapaan ramah lainnya, termasuk canda tawa kadang diperlukan asalkan tak berlebihan. Ada canda tawa yang membuat suasana cair, tak hanya di level bawah, jajaran pimpinan pun kerap terlibat dalam canda tawa itu sehingga suasana kantor mengasyikkan. Begitulah, hari-hari begitu menyenangkan

 

Sesekali pergilah bersama rekan kerja Anda, nonton bareng, nge-bakso, jalan-jalan atau sekedar ngobrol di halaman kantor saat selesai jam kerja. Nikmatilah kebersamaan dan rasakanlah kenyamanan dalam bekerja. [js]

 

« previous home top