Decision Making: Tugas Kepemimpinan

Posted by jumadi on December 9, 2008 under Ideas @ Work, Leadership | Be the First to Comment

 

Beberapa saat lagi kereta akan tiba di stasiun Semarang. Semua penumpang telah bersiap-siap dengan masing-masing barang bawaan. Panji menyapa kembali kenalan di sebelahnya yang kemudian ia ketahui bersama Farid. Sebagai teman perjalanan, mereka telah berbincang sejak berangkat dari stasiun Gambir, Jakarta. Keduanya lalu bertukar nomor telepon dan saling menanyakan melanjutkan ke kota tujuan.

 

Kereta tiba di Semarang. Ini adalah stasiun terakhir kereta Argo Muria, artinya semua penumpang akan turun disini untuk melanjutkan ke tempat tujuan masing-masing. Biasanya penumpang kereta ini punya tujuan beragam, ada yang memang mau ke Semarang, ke Salatiga, Kendal atau kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Kudus, yang menjadi tujuan Panji.

 

Keluar dari stasiun riuh rendah suara penjemput berbaur dengan para sopir yang menawari jasa sewa kendaraan. Panji sempat berdiri di pinggir halaman parkir sejenak. Ia masih berpikir akan melanjutkan perjalanan dengan apa? Naik bis biasa atau sewa mobil. Bisa juga pakai taksi, atau naik ojek ke terminal. Banyak pilihan. Ia tampak agak ragu untuk memutuskan.

 

Sementara masih bingung, Panji duduk di kursi tunggu stasiun. Satu persatu orang meninggalkan tempat itu. Ada yang dijemput keluarganya, ada yang naik taksi, ada yang ke jalan raya menunggu bis di luar stasiun, ada juga yang naik taksi bahkan ojek dan becak. Semua telah melanjutkan perjalanannya sesuai dengan pilihan masing-masing.

 

Stasiun telah mulai sepi. Panji berdiri. Ia tidak boleh bingung. Ia harus memutuskan untuk memilih ke mana melanjutkan perjalanannya.

 

Mitra profesional, mengambil keputusan adalah salah satu tugas yang menjadi tanggungjawab pemimpin. Seorang leader sering dihadapkan pada pilihan-pilihan, bisa jadi pilihan itu mudah untuk diputuskan, namun tidak jarang pula dihadapkan pada pilihan sulit. Dan untuk itulah ia harus mengambil sikap tegas, keputusan mana yang ia pilih untuk dijalankan.

 

Sebagian keputusan yang kita ambil merupakan campuran berbagai macam ingatan, gagasan, perasaan, dan fakta yang kadang-kadang saling bertentangan. Sehingga “sentuhan” intuitif itu memungkinkan kita membiarkan data intuisi itu melengkapi data lain yang akan kita gunakan untuk mengambil keputusan. Jadi keputusan bisa diambil dengan menggunakan rasio maupun intuisi.          

 

Menurut Quinn Spitser dan Ron Evans, intuisi adalah analisa kilat dari fakta dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter. Dalam bisnis, memang dikenal adanya intuisi bisnis. Di dalamnya ada wawasan, pengalaman, mental, dan perasaan. Bagi mereka yang memiliki intuisi bisnis yang tajam, maka dia tidak hanya mampu mengandalkan perasaan, tapi ada juga wawasan yang luas, pengalaman banyak, dan mental yang dalam. Intuisi ada empat tingkatan, yaitu bisa muncul melalui fisik, emosi, mental, dan spiritual.

 

Banyak cara mengembangkan intuisi, di antaranya seperti yang dikembangkan oleh Robert K. Cooper, Phd, yaitu: terjun ke dalam pengalaman, kerahkan kemampuan sedikit lebih banyak, tetap terbuka terhadap segala kemungkinan, atasi rasa takut, kenali dan cari cara untuk mengatasi apapun yang menghalanginya. Selain itu Cooper juga menyarankan, supaya peluang penginderaan harus ke luar dunia binis, berikan perhatian ekstra kepada tanggapan pertama terhadap pertanyaan-pertanyaan, perhatikan bagaimana intuisi berkomunikasi dengan diri kita, luangkan waktu beberapa menit saja dalam sehari untuk catatan kecerdasan emosional, dan jangan lupa memperluas rasa percaya diri.

 

Bersikap ragu-ragu ketika membuat keputusan adalah satu hal yang bisa mengurangi ketegasan sikap kepemimpinan seseorang. Dengan dilatih sedari dini, hal ini justru bisa menjadi satu keterampilan yang dibutuhkan di setiap pemimpin.

 

Dari kerangka berpikir tersebut juga akan dihasilkan beberapa alternatif pengambilan keputusan dengan memikirkan kemungkinan baik-buruknya berikut konsekuensi yang akan dijalani nantinya. Sebaiknya, sertailah argumen yang akurat dan tepat sebagai latar belakang dari setiap alternatif keputusan. Biasanya, sebuah keputusan akan mendapatkan berbagai respons dari teman sekerja atau anak buah. Apabila memiliki argumen yang kuat, tentu keputusan seseorang bisa diterima.

 

Selain itu, akan lebih bijaksana bila seorang pemimpin membuat tenggat waktu sendiri kapan harus menjatuhkan pilihan dari beberapa alternatif yang ada. Dengan demikian, ia pun tidak terlalu lama berkutat dalam mencari alternatif dan pedoman lain dalam membuat keputusan. Membuat keputusan yang tepat di waktu yang dibutuhkan adalah kunci utamanya. Patut diketahui, hal ini juga menjadi faktor pendukung bagi kesuksesan karir di kemudian hari serta memberi nilai lebih bagi seorang pemimpin seperti Anda.

 

Panji segera bergegas ke jalan raya, memberhentikan bis dan melanjutkan perjalanannya. Sekarang ia telah mengambil keputusan itu. [js]

Strategic Planning: Kemenangan Yang Direncanakan

Posted by jumadi on November 11, 2008 under Leadership | Be the First to Comment

Panji membaca sebuah koran yang ia beli di stasiun sebelum berangkat. Ia membaca berita tentang keberhasilan Taufik Hidayat menjuarai kejuaraan dunia bulu tangkis. Wah hebat, cabang bulu tangkis kita sudah mulai bangkit lagi, pikir Panji.

 

Yang menarik adalah komentar pelatih Taufik Hidayat ketika ditanya wartawan “Kemenangan ini sudah diduga sebelumnya, karena Taufik memang telah lama mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan ini.”

 

Kemenangan ini seperti telah direncanakan sebelumnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk menjadi pemenang, pasti kita memerlukan strategi. Coba saja kita tanyakan kepada para pemenang di bidang olah raga seperti Taufik Hidayat dari Bulu Tangkis, Michael Schumacher dari Balap Mobil, ataupun Lance Armstrong dari Balap Sepeda yang sudah sering meraih medali emas. Selain pemenang di bidang olah raga, kita juga bisa menanyakan rahasia sukses dari para pemenang dalam perang (misalnya oleh Jendral Sudirman, Jendral S. Patton), politik (misalnya oleh: Bill Clinton, Cory Aquino, Margaret Thatcher), bisnis (misalnya oleh Michael Dell, Bill Gates), ilmu pengetahuan (oleh para pemenang hadiah Nobel).

 

Ada tiga dasar yang harus diperhatikan oleh seorang pemenang, yaitu Hand (tangan, fisik), Head (kepala, akal, intelektual) dan Heart (hati, spirit, moral).

 

Kekuatan Fisik (Hand Power). Kekuatan fisik di sini adalah stamina sang pemenang dan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Jadi, sangat penting bagi seorang pemenang untuk memiliki stamina yang kuat, karena untuk menghasilkan mahakarya di bidangnya, diperlukan kekuatan fisik yang prima. Dalam hal ini, kesehatan penting untuk dipelihara.

 

Seorang pemimpin juga perlu ditunjang dengan sumber daya yang cukup untuk tampil sebagai pemenang: Seorang olah ragawan perlu memiliki peralatan olah raga yang diperlukan, pelatih, sparing partner, dan kesempatan untuk mengasah keterampilannya dalam pertandingan persahabatan; seorang calon presiden memerlukan dana untuk berkampanye, serta tim sukses untuk membantunya menyusun taktik menang; seorang yang akan memulai bisnis memerlukan sumber daya untuk memproduksi ataupun mengadakan barang atau jasa yang akan dijualnya, serta dukungan dana serta tim yang kuat untuk menjalankan bisnisnya tersebut.

 

Kekuatan Akal (Head Power). Kekuatan fisik saja belumlah cukup untuk menyusun strategi pemenang. Calon pemenang memerlukan kekuatan mental yang mencakup kemampuan intelektual dan pengetahuan di bidang yang akan ditekuninya. Tanpa pengetahuan dan kekuatan intelektual yang cukup, akan sulit bagi seseorang untuk memasuki suatu arena, apalagi untuk memenangkannya, karena calon pemenang perlu mengenal dan memiliki pengetahuan yang dalam mengenai ” medan perang” yang akan dimasukinya.

 

Olah ragawan perlu mengenal peraturan olah raga, peralatan olah raga, lapangan olah raga, serta para pesaing yang akan dihadapinya. Demikian juga dengan politisi dan pelaku bisnis. Keduanya perlu memiliki pengetahuan mengenai para pemain, peraturan, dan peta kekuatan di arena yang akan mereka masuki.

 

Kekuatan Moral (Heart Power). Yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemenang adalah kekuatan moral. Kekuatan moral di sini mencakup sikap dan nilai-nilai spiritual yang dianutnya. Kekuatan moral merupakan pedoman bagi sang pemenang untuk menyusun strategi yang paling tepat, dan untuk tetap bertahan dan tetap memiliki semangat juang yang tinggi ketika dalam perjalanan menuju tujuan harus mengalami berbagai rintangan dan masalah.

 

Demikian juga para pemimpin, untuk dapat mengarahkan organisasinya menjadi pemenang dalam kompetisi apapun, seorang pemimpin juga harus memiliki 3 kekuatan tersebut. Ini yang kemudian dalam perkembangan teori disebut dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

 

Ketiga kekuatan yang dimiliki oleh semua manusia ini menjadi pemicu keberhasilan mereka. Pertanyaan berikutnya, jika sama-sama memiliki kekuatan tersebut mengapa ada yang meraih kemenangan dan ada yang gagal?

 

Jawabannya adalah upaya yang dilakukan oleh para pemenang. Mereka mengolah potensi yang ada, memupuk dan mengoptimalkannya untuk meraih keberhasilan. Mereka menyusun langkah menuju kemenangan, dengan latihan, sparing partner, mengikuti perlombaan, meningkatkan kemampuan. Dengan kata lain mereka menyusun strategi untuk mencapai kemenangan tersebut. Mereka telah merencanakan kemenangan tersebut dari awal.

 

Jadi, kemenangan dan keberhasilan organisasi dalam mencapai objective (tujuan) sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya. Ketika seorang pemimpin memiliki daya intelektualitas maka ia mampu menyusun strategi yang tepat agar visi dan misi organisasi tercapai. Ketajaman berpikir dan kepintaran menangkap peluang merupakan salah satu strategi untuk merealisasikan corporate objective.

 

Sekali lagi, kemenangan tidak datang dengan sendirinya, ia datang karena direncanakan. Ia hadir karena ada langkah strategis untuk mencapainya. Kitab suci mengajarkan “Tuhan tidak akan mengubah seuatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” Dan pemimpin adalah pemegang anak kunci perubahan itu. Leader is the agent of change. [js]

Leadership and the Monkey Business

Posted by jumadi on under Leadership | Be the First to Comment

Memasuki kampung halaman, Panji melintasi hutan yang masih cukup asli. Tanpa sengaja ia melihat beberapa ekor monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Tempat ini masih seperti dulu, banyak monyet bergelantungan di pohon dan bermain-main di jalanan.

 

Monyet. Sebuah fenomena yang menarik. Pernah memperhatikan? Cobalah datang ke kebun binatang, hutan belantara atau tempat lain yang masih banyak dihuni bangsa primata ini. Lihatlah apa yang dilakukan oleh sekumpulan monyet disana.

 

Bawalah sebiji pisang atau makanan lain kesukaan monyet. Datanglah ke lokasi tersebut sambil menunjukkan bawaan Anda. Apa yang terjadi? Ya. Lihatlah monyet-monyet itu hanya celingak-celinguk saja. Melompat kesana kemari atau hanya sekedar mengintip Anda dari balik pepohonan. Padahal Anda tahu mereka ingin mendapatkan bawaan Anda. Cobalah melemparkan atau mengacungkan pisang itu ke hadapan mereka.

 

Tidak jauh berbeda.

 

Mereka tetap bersikap seperti itu, hingga salah satu diantara mereka mendekat dan mengambil pisang tersebut. Lalu yang lain akan mengerubungi Anda dan satu persatu mereka akan mendekat, ingin mendapatkan pisang yang sama. Demikianlah, para monyet akan bergerak dan melakukan sesuatu ketika ada salah satu diantara mereka yang bergerak lebih dulu. Anggaplah menjadi contoh bagi mereka.

 

Perhatikan sekali lagi, siapakah yang tadi datang duluan ke tempat Anda? Apakah badannya lebih besar dari yang lainnya? Atau lebih tinggi, atau juga lebih percaya diri diantara kumpulan mereka? Itulah pemimpin mereka.

 

Itulah yang disebut “leadership is monkey business” kepemimpinan kurang lebih seperti itu. Bahwa monyet melihat, ya. Bahwa monyet melakukan, benar. Tetapi itu semua harus dimulai oleh monyet yang pertama.

 

Inilah prinsip dasar kepemimpinan (leadership). Oleh sebab itu, menurut teori, kepemimpinan adalah suatu kemampuan (ilmu dan seni) untuk mempengaruhi orang agar mau mengerjakan apa yang kita inginkan.

 

Lantas, apakah cukup seperti itu? Tentu saja belum. Kata John C. Maxwell, pelopor belum tentu pemimpin. Seperti Dick and Maurice yang sukses dengan konsep bisnis McDonald bukanlah seorang pemimpin. Justru Ray Kroc-lah sang pemimpin. Ia membeli sebagian saham McD, menyempurnakan konsep waralaba dan jadilah McD berada hampir di seluruh penjuru dunia.

 

Hal yang sama juga kita temukan dalam mitos lain seputar kepemimpinan yang selama ini kita dengar. Seperti memimpin dan mengelola (to manage) adalah hal yang sama. Tidak selalu demikian. Pemimpinan tidak selalu manajemen.Tidak juga kesuksesan seorang dalam berwirausaha atau penguasaan dalam ilmu pengetahuan, apalagi hanya sebuah posisi atau jabatan. Lihatlah banyak orang yang memiliki jabatan dan posisi namun tidak memiliki kepemimpinan.

 

Jika demikian bagaimana kepemimpinan itu? Coba renungkan bagaimana dunia memposisikan Bunda Teresa dan Putri Diana. Apakah mereka memiliki kedudukan, jabatan, posisi atau kekuasaan? Bahkan dunia lebih mengenal Putri Diana ketika ia sudah bercerai dengan Pangeran Charles. Namun apa yang terjadi setelah itu. Dia atas nama yayasan sosial yang dipimpinnya berhasil menemui tokoh dunia sampai Presiden Bill Clinton pun ikut menyumbang untuk kegiatannya.

 

Tidak usah jauh-jauh. Mari berkaca pada sejarah kita. Anda kenal Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Tengku Ci Di Tiro, Diponegoro, Pattimura, Bung Tomo, Jendral Sudirman dan sederetan nama beken lainnya. Para pahlawan yang menorehkan namanya dalam kenangan emas justru bukan dari kalangan berada, pejabat atau orang bangsawan. Sebagian besar mereka adalah tokoh agama, imam masjid, guru atau pemimpin informal lainnya. Mereka menjadi pemimpin karena memiliki pengaruh bagi lingkungannya.

 

Lihat pula bagaimana Nabi Muhammad, Umar bin Abdul Aziz, Dalai Lama, Budha dan tokoh lainnya. Ya mereka adalah orang-orang yang berpengaruh. Bahkan Muhammad dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang zaman.

 

Anda sudah menemukan benang merah dari ini semua? Tepat. Keteladanan. Kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari keteladanan. Sebagaimana monyet yang menunggu contoh dari ‘kepalanya’, maka secara umum manusia juga menunggu contoh dari pemimpinnya. Anak-anak juga mencontoh orangtuanya. Murid mencontoh gurunya. Staf mencontoh managernya. Prajurit mencontoh komandannya.

 

Menjadi model untuk orang yang kita pimpin. Itulah kuncinya. Orang yang kita pimpin memiliki pengetahuan, ketrampilan dan keinginan maka kita perlu mengetahui apa yang diharapkan mereka, dan cara terbaik untuk memberikan informasi kepada mereka adalah menunjukkannnya. Sekali lagi, orang melakukan apa yang mereka lihat. Jadilah model sikap dan etika kerja yang Anda inginkan agar mereka terapkan. Dan kapanpun Anda dapat menyertakan mereka dalam setiap pekerjaan Anda, bawa serta mereka bersama Anda. Tidak ada cara yang lebih baik untuk membantu mereka belajar dan memahami apa yang Anda inginkan untuk mereka kerjakan. Selamat mencoba! [js]

 

home top