Posted by jumadi on November 25, 2008 under Ideas @ Work |
Di dunia kerja, membangun hubungan baik sesama rekan kerja jelas sangat penting. Bagaimana pun, bersosialisasi dengan rekan kerja tak hanya membuat suasana kerja terasa lebih nyaman, tetapi produktivitas pun dijamin akan meningkat.

Berdasarkan pengalaman banyak orang, ide cemerlang seringkali mencuat karena adanya interaksi yang bagus dengan rekan kerja. Apalagi, sekarang ini penilaian kerja seseorang tidak melulu karena kecerdasan dan ketrampilannya sebagai individu. Dalam polling terakhir yang dilakukan oleh sebuah harian terkenal, mayoritas karyawan menganggap bahwa tampil serius dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan saja tidak cukup untuk mendongkrak karir seseorang. Kemampuannya bekerja sama dengan tim juga menjadi pertimbangan penting.
Nah, jika ingin sukses berkarir, salah satu syaratnya Anda harus bisa membangun hubungan yang baik dengan rekan kerja. Salah satu cara yang lebih efektif bila anda ingin mendapatkan kesempatan ke jenjang karir yang lebih baik, yaitu menjalin kontak (baik secara eksternal maupun internal), dan mencari tugas-tugas yang menantang namun potensial.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan agar sukses di tempat kerja, bukan cuma berhasil menyelesaikan pekerjaan dan membangun hubungan dengan rekan kerja, namun juga Anda bisa menjadi ’bintang’ di antara sesama pekerja di kantor Anda.
1. Bangunlah relationship.
Membangun kerjasama bukan hanya dengan rekan se-departemen anda, tapi juga lintas departemen. Jalinlah hubungan dengan rekan Anda di departemen lain. Bangunlah relationship dengan orang sebanyak mungkin dalam lingkup pekerjaan Anda. Dengan menjalin hubungan persahabatan dengan rekan kerja dari bagian lain, hal itu akan membuat anda dikenal sebagai figur yang supel, dan pada akhirnya akan membuka kesempatan anda mendapat promosi di masa datang atau kenaikan gaji.
Bila kelak anda ditunjuk untuk mengepalai suatu proyek, menjadi team-leader atau memimpin suatu unit kerja misalnya, luasnya pergaulan anda akan memudahkan anda untuk memilih orang-orang yang memang capable/ mampu dalam pekerjaannya.
2. Menjalin networking.
Memiliki jaringan koneksi ke perusahaan atau instansi lain akan membuat profil anda di mata rekan-rekan menjadi tinggi. Anda mungkin akan menjadi orang yang paling diandalkan karena mengetahui perkembangan dunia luar perusahaan. Dengan memiliki jaringan yang luas, Anda akan semakin dikenal dan dianggap memiliki kredibilitas. Selain itu, secara tidak langsung anda akan dianggap sebagai juru bicara tidak resmi perusahaan bagi orang lain, yang menunjukkan kemampuan leadership anda.
3. Berpikiran luas dan menguasai teknologi.
Jangan hanya melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri. Lihat dengan cara yang lebih luas dan sesuaikan dengan cara pikir orang lain. Selalu menambah wawasan di luar spesialisasi dan mempelajari hal-hal baru adalah ciri orang yang berpikiran luas.
Apalagi saat ini ada tren baru yang berlaku di dunia bisnis : siapa yang menguasai teknologi, maka dialah yang menguasai dunia. Menjadi orang yang gemar belajar menjadi nilai lebih bagi Anda. Bisa lebih dulu menguasai salah satu kemajuan teknologi seperti program-program komputer yang beredar sekarang ini akan membuat profil anda semakin tinggi di mata rekan-rekan kerja.
4. Aktif dan berani ambil resiko
Bangunlah dasar yang kokoh ketika memulai suatu pekerjaan atau menyampaikan gagasan. Itu memberikan kesan yang baik kepada rekan, bos, dan klien Anda. Karenanya inisiatif merupakan langkah utama untuk menjadi bintang. Inisiatif memiliki empat elemen yaitu melakukan hal di luar deskripsi kerja, membantu yang lain, berani mengambil resiko dan melakukan pekerjaan sampai tuntas.
Mungkin dalam karir anda akan menjumpai tugas sulit sehingga rekan-rekan kerja anda jadi enggan untuk dipilih sebagai project officer. Cermati baikbaik, mungkin pekerjaan ini bisa menjadi tiket utama anda mendapat kesempatan. Jangan takut gagal, sebab meski nanti akhirnya pekerjaan tersebut hanya bisa diselesaikan setengahnya saja, nama anda akan dikenal sebagai orang yang berani mengambil resiko dan mau bekerja keras.
5. Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Para bintang dalam suatu pekerjaan memiliki kemampuan mempersatukan orang untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan dengan cara memecat, menaikkan gaji, atau memberi jabatan. Mereka punya tiga komponen seorang pemimpin yang baik yaitu berpengetahuan, membawa energi ke tempat kerja dan lingkungan serta selalu memberikan perhatian pada setiap orang alam timnya.
6. Kenali perusahaan Anda
Jadilah orang yang paling memahami seluk beluk perusahaan Anda. Ketahuilah informasi selengkapnya tentang perusahaan, siapa yang dapat dipercaya dan yang sebaiknya dihindari serta bagaimana mengatur kompetisi dalam organisasi, perlu mendapat perhatian. Buka mata dan cari tahu. Apa pandangan atasan dan pekerja yang lebih lama dari Anda mengenai hal-hal yang sedang terjadi. Jadilah guru sendiri. Jadilah murid di tempat kerja.
7. Menjadi Komunikator yang baik
Seorang bintang di tempat kerja adalah ahli komunikasi yang hebat. Mereka tahu bagaimana cara membentuk percakapan, membatasinya dan menarik perhatian orang. Untuk itu, gunakan bahasa yang tepat dengan pendengar yang tepat pada waktu yang tepat.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah diri kita dari karyawan biasa menjadi seorang bintang ditempat kerja. Dan jika kita sudah bisa menjadi karyawan seperti itu, maka manajemen puncak akan menempatkan kita didalam sebuah daftar ‘khusus’. Daftar yang akan digunakan dalam pemilihan talent terbaik untuk suatu posisi tertentu. [js]
Posted by jumadi on November 19, 2008 under Ideas @ Work |
Bangun difajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat diterik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesukuran terpahat di bibir senyuman
(Kahlil Gibran)
Setiap hari kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Ada uang bekerja di kantor, di warung, di toko, bengkel, terminal, di jalan sebagai sopir, di pasar, sawah, lapangan atau di manapun kita berada. Hampir sepertiga waktu kita habiskan untuk bekerja, bahkan lebih.
Beruntung orang yang mempunyai pekerjaan. Apapun profesinya itu asalkan baik dan halal merupakan upaya yang benar untuk mencari nafkah. Setidaknya, lebih mempunyai aktivitas dalam mencari penghasilan dibanding dengan (maaf), seorang pengangguran. Namun, ada kalanya orang bekerja dibawah tekanan, dalam arti tidak merasa nyaman ketika melakukan pekerjaan itu.
Seorang karyawan misalnya, rata-rata ia akan menghabiskan waktu 8 jam setiap hari. Waktu yang sangat panjang dan melelahkan bila kita tidak menikmati pekerjaan, tidak nyaman, tidak bersemangat, apalgi sedih, malas, lesu bahkan mengantuk. Orang yang dalam keadaan seperti ini tidak memiliki produktivitas. Bahkan dipaksa sekalipun hanya akan membuang waktu dan tenaga, karena hasilnya tidak akan maksimal.
Bosan, jenuh dan tidak menikmati pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Apalagi jika pekerjaan sudah menjadi rutinitas semata. Business as usual. Perasaan tidak nyaman dengan keadaan, rekan sekerja atau atasan, dalam keadaan tertentu kerap menjadi faktor pemicu kejenuhan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar hal tersebut tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kita.
Dari beberapa literatur dan pengalaman dalam bekerja, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita bahagia menikmati pekerjaan kita.. Mudah-mudahan kita bisa menikmati pekerjaaan. Penghasilan dapat, hatipun senang.
1. Yakinlah bahwa bekerja adalah ibadah
Sebagaimana ajaran semua agama, bahwa bekerja adalah ibadah. Hal ini terkait dengan niat kita, apa yang kita lakukan, peras keringat, banting tulang, ketika diniatkan untuk ibadah, insya Allah akan memberikan semangat tersendiri dalam hati dan diri kita.
Seorang kepala keluarga misalnya, sungguh mulia jika niatan ini selalu ada dalam hatinya. Setiap melangkahkan kaki menuju tempat bekerja, ia niatkan untuk ibadah, mencari nafkah agar bisa menunaikan kewajiban dalam keluarganya, membantu sesama dan menguatkan ibadahnya. Hati menjadi ringan ketika melakukan pekerjaan
Tentu akan menumbuhkan semangat dalam diri Anda untuk selalu bekerja dan bekerja.
2. Cintailah pekerjaan Anda
Jika kita encintai sesuatu maka kita akan senang melakukan apapun untuknya. Demikian juga dalam bekerja. Berusahalah untuk mencintai pekerjaan Anda. Menjiwai apapun pekerjaan yang Anda lakukan akan menumbuhkan kecintaan pada profesi yang Anda jalani. Nikmatilah apapun yang bisa Anda lakukan untuk pilihan pekerjaan Anda.
Bila anda tetap saja tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan di lingkungan pekerjaan. Maka pekerjaan itu pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.
Jika anda juga tidak bisa melakukan hal itu, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja.
3. Jalinlah persaudaraan di lingkungan kerja.
Tidak jarang dalam lingkup kerja, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda suku dan agama, datang dari tempat yang jauh dan sama-sama merantau. Kita memang tak saling kenal sebelumnya. Tetapi alangkah indahnya ketika kita memperlakukan rekan kerja sebagai seorang saudara.
Dengan menganggap rekan kita sebagai saudaraa, akan sulit bagi kita untuk terlalu iri, saling curiga berlebihan, apalagi saling menjatuhkan. Tak akan terbesit sikap demikian karena sama saja dengan manghancurkan saudara sendiri. Kalau kita melihat sesama karyawan misalnya melakukan kesalahan, tentu tak ada sikap lain bagi kita untuk mengingatkannya, tentunya dengan cara personal dari hati ke hati, bukan di tempat umum karena bisa menyakitkannya. Atau jadikan atasan sebagai perantara untuk mengingatkan. Dengan ketulusan, hal seperti ini akan menumbuhkan keindahan.
4. Ciptakan suasana yang nyaman.
Ciptakan suasana yang nyaman dalam setiap situasi kerja Anda. Ruang kerja, dekorasi ruangan maupun suasana interaksi antar sesama. Membangun komunikasi empatik juga cara yang baik menciptakan kenyamanan. Seperti saling menanyakan kabar baru, menjaga seyuman dan sapaan-sapaan ramah lainnya, termasuk canda tawa kadang diperlukan asalkan tak berlebihan. Ada canda tawa yang membuat suasana cair, tak hanya di level bawah, jajaran pimpinan pun kerap terlibat dalam canda tawa itu sehingga suasana kantor mengasyikkan. Begitulah, hari-hari begitu menyenangkan
Sesekali pergilah bersama rekan kerja Anda, nonton bareng, nge-bakso, jalan-jalan atau sekedar ngobrol di halaman kantor saat selesai jam kerja. Nikmatilah kebersamaan dan rasakanlah kenyamanan dalam bekerja. [js]
Posted by jumadi on November 17, 2008 under Ideas @ Work, Marketing Ideas, Wirausaha |
Agus tiba-tiba kelihatan marah. Durian yang barusan dibelinya tidak sebagus yang diharapkan. Bahkan boleh dibilang buruk. Di bulan-bulan ini memang buah durian sedang banyak dijual, harganya menjadi murah. Sambil ngomel Agus menyesal membeli durian di pasar Doro. Padahal pedagangnya bilang ini durian bagus. Kualitas terbaik.

Melihat hal tersebut Antin, teman kerjanya, mendatangi Agus dan berkata “Makanya kalo beli durian di Jalan Nusantara aja, dekat simpang. Bapaknya yang jual baik banget.” Antin menceritakan pengalamannya di tempat yang dimaksud. Penjualnya mengatakan kualitas barangnya dengan sebenarnya. Jika bagus, ia bilang bagus. Jika memang tidak bagus, juga ia katakan kepada calon pembelinya, bahkan menunjukkan letak cacatnya dan ia tidak memberikan kecuali yang terbaik. Begitu cerita itu tersebar sehingga para pelanggannya bertambah. Hampir semua orang di Pekalongan tahu tempat Bapak penjual durian yang jujur itu. Dekat masjid Baitul Karim, tempat ia sholat setiap waktunya tiba.
Seorang anak terlihat serius menyemir sepatu di ruang tunggu terminal Pekalongan. Di depannya, seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi sambil membaca koran lokal. Sesekali laki-laki itu mengajak bicara tukang semir tersebut. Setelah selesai, sepatu itu dikembalikan kepada pemiliknya. Laki-laki itu menyodorkan uang dua ribu rupiah sambil mengucapkan terima kasih.
Namun lelaki muda itu kaget ketika sang anak mengembalikan uangnya “”Kebanyakan Om… ongkosnya seribu saja.”
Dug ! Lelaki muda ini terhenyak. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatinya. “It-just-does-not-compute-with-my-logic!” Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.
Kejujuran.
Sebuah nilai yang agung dan terbukti menjadi kunci segala keberhasilan. Dalam buku The Corporate Mystic, Gay Hendricks dan Kate Ludeman memasukkan Kejujuran sebagai poin pertama dari 12 ciri pemimpin abad 21. Setiap pemimpin korporasi yang diwawancarai mengatakan hal yang sama: Rahasia sukses dalam bisnis adalah berkata jujur.
Mega-entrepreneur Indonesia, AA Gym sering menyinggung dalam setiap ceramahnya tentang menjadi orang terpercaya sebagai modal utama dalam bisnis. Ippho Santosa, marketer muda Batam yang sedang naik daun memasukkan Be Credible sebagai poin pertama dalam Eternity Marketing-nya. Hermawan Kertajaya memasukkan Guard Your Name, Be Clear and Who Your Are dalam “The 10 Credos of Compassionate Marketing”-nya.
Dan semuanya mencontoh pada kesuksesan Nabi Muhammad dalam berdakwah dan berbisnis dengan modal kejujurannya. Al Amin. Itulah julukan yang diberikan kawan maupun pesaingnya. Jauh lebih bermakna daripada Mr. Clean atau Mister Trusty.
Nilai Insan Gemilang yang menjadi salah satu value dalam melakukan bisnis yang dimiliki Indosat memasukkan Kejujuran dalam poin pertama : Integritas. Bank BRI juga memasukkan Integritas sebagai nilai-nilai penting dalam perusahaan. Dan saya yakin hampir semua korporasi mengungkap hal ini.
Seorang marketer yang jujur akan mendapatkan keuntungan ganda, meraih pelanggan, produknya terjual dan meraih kepercayaan orang lain. Jika ada pepatah. Juallah diri sebelum menjual produk, itu memang benar adanya. Sebaliknya seorang marketer tanpa memiliki kejujuran akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Lebih dari itu kredibilitas pribadinya akan hancur.
Dalam agama, seorang marketer yang jujur dan terpercaya akan mendapatkan limpahan karunia dan berkah dari-Nya. Bahkan pedagang yang jujur mendapatkan kemulian yang setara dengan para syuhada.
Jadi, bersikaplah Jujur! [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work |
Dalam dunia kerja, ada kesepakatan yang menjadi rahasia umum yang disebut aturan si Bos. Aturan ini memiliki 3 pasal. Pasal 1, bahwa bos selalu benar. Pasal 2, jika Bos salah, lihat pasal 1. Pasal 3, habis perkara.
Itu hanya anekdot yang kita temukan dalam keseharian kita saat berkerja. Namun dalam kenyataannya memang kita tidak memungkiri bahwa posisi atasan kita sebagai bos memiliki peranan yang menentukan. Hampir semua pendapatnya mendekati keputusan. Dalam dunia modern seperti sekarang model kepemimpinan sudah banyak berubah meskipun dalam hal pengambilan keputusan bos memang berperan penting, namun ide, gagasan dan pendapat bawahan juga menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Inilah saatnya bagi Anda untuk memberikan kontribusi. Gunakan saat yang tepat untuk menyampaikan ide atau gagasan Anda kepada atasan. Jika si bos sudah setuju dengan ide Anda, dijamin, ide-ide tersebut bisa diterima juga oleh yang lain.
Nah, bagaimana cara mempengaruhi si bos agar menerima ide-ide Anda? Untuk memperlancar diterimanya ide Anda oleh bos, ada beberapa tips yang layak Anda jadikan pertimbangan, yaitu:
Pilih waktu yang tepat
Ide yang baik disampaikan pada saat yang tepat. Forum rapat, diskusi terbatas dan saat briefing adalah sebagian waktu yang biasanya dimanfaatkan oleh para bos untuk menerima masukan dari bawahannya. Manfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Di samping itu juga sebagian perusahan atau organisasi menyediakan kotak saran khusus untuk para karyawan. Fasilitas online seperti intranet juga biasanya menyediakan forum untuk menyampaikan ide. Anda juga menggunakan waktu menghadap face to face dengan bos untuk menyampaikan ide dengan baik.
Perhatikan body-language si bos.
Pakar jiwa mengatakan, seseorang yang mood nya sedang bagus, akan memandang lingkungannya secara positif. Perhatikan mood si bos dari wajah dan gerak geriknya.
Jika dalam seharian ia tidak tersenyum, bahkan menghindari tatapan mata dengan anak buahnya, berarti saat itu bukan waktu yang tepat untuk mengemukakan ide. Hati-hati dengan kondisi seperti ini. Jangan paksakan untuk menyampaikan pendapat, karena dalam situasi tersebut bos sedang tidak nyaman menerima masukan, salah-salah anda akan mendapat sikap sinis atau paling tidak di-cuekin.
Namun sebaliknya kalau wajah bos tampak sumringah dan rajin menyapa anak buah, inilah saat Anda mengajak bos untuk mendengarkan ide Anda. Kondisi jiwa yang sedang senang akan lebih mudah menerima masukan dan pendapat orang lain. Jadi kondisi psikologis atau mood sangat menentukan diterima dan tidaknya masukan yang Anda berikan.
Pilih suasana yang tepat
Sering dengar alasan kenapa bos suka main golf? Sebagiannya karena pada saat di lapangan golf mereka melakukan lobi dengan relasi. Saat seperti itu memang waktu yang sering dipilih untuk melakukan lobi karena kondisinya rileks. Carilah waktu saat bos Anda melakukan aktifitas hobinya, saat itulah waktu yang tepat untuk memberikan masukan kepadanya.
Jika atasan Anda suka olahraga, mancing atau bersepeda, saat seperti itulah dia sering mendengarkan pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan tidak jarang keputusan diambil pada saat para bos sedang melakukan hobinya.
Sentuhlah emosinya baru jelaskan alasan rasionalnya
Untuk kita ketahui bersama, 90 persen keputusan didasarkan oleh emosi yang dibenarkan oleh rasio. Maka jika mengungkapkan ide, kemukakan keuntungan dan kelebihan ide Anda terlebih dahulu. Lalu berikan alasan rasional tentang ide tersebut.
Bos lebih suka diminta pendapat
Meskipun kadang menerima pendapat, pada dasarnya bos lebih suka diminta pendapat. Oleh akrena itu, walapun Anda mengungkapkan ide dengan antusias dan percaya diri, jangan lupa untuk minta pendapat bos tentang ide Anda.
Tanpa meminta pendapat, bos akan menganggap Anda terlalu sombong dan tidak menghargai keberadaan bos. Jangan lupa juga untuk sedikit menyanjungnya, misalnya dengan mengatakan bahwa ide Anda itu tidak ada artinya tanpa dukungan bos. Tidak perlu khawatir Anda dianggap mencari muka. Sanjungan yang wajar berbeda dengan mencari muka, bukan?
Biarkan bos yang menilai
Serahkan keputusan kepada bos untuk menilai ide Anda. Karena membiarkan orang lain menilai pendapat Anda menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang ‘reasonable’. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa Anda pandai menghargai orang lain, terlebih orang itu adalah seorang bos yang cukup besar pengaruhnya terhadap anak buah.
Jadi, jika Anda sudah melakukan semua hal tadi, tunggulah keputusan apakah ide Anda akan diterima, ditampung atau ditolak. Tapi apapun hasilnya, yang penting Anda sudah berani mengungkapkan ide. Dan yang lebih penting, kalau ide Anda ditolak jangan berhenti untuk menyampaikan ide yang lebih berbobot di lain kesempatan. [js]
Posted by jumadi on November 12, 2008 under Motivasi & Pengb. Diri |
Sungguh, betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu.
Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh waktu.
Padahal, kita tahu Tuhan dengan Mahacermat dan Mahaadil telah membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput satupun.
Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.
Singapura 24 jam per hari, Singocandi 24 jam per hari, Texas 60 menit per jam, Tegal 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam.
Para pimpinan perusahaan, CEO, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.
Ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah.
Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita sendiri.
Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan.
Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat terjadi tanpa dia.
Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di siang hari bolong ini.
Jawab ayahnya; “Aku letih, aku butuh istirahat”. Abdul Malik berkata; “Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu.” jawab ayahnya, “Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya”.
Anaknya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?” Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.
Waktu kita sangat terbatas untuk beramal kebaikan. Waktu kita juga terbatas untuk mencapai cita-cita kita. Karena itu, batasilah waktu Anda agar cita-cita itu bisa dicapai. Buatlah deadline dalam kehidupan Anda. Batasi keinginan Anda dengan satuan-satuan waktu. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, saat meninggal dan seterusnya. Buatlah masing-masing satuan waktu itu target yang jelas.
Batasilah pekerjaan-pekerjaan Anda. Berapa lama untuk melakukan pekerjaan ini, berapa lama untuk menyelesaikan yang lainnya. Sebagaimana wartawan yang setiap hari dikejar deadline sehingga mereka selalu berusaha mendapatkan berita yang diinginkan sebelum waktunya, maka kita juga bisa melakukan deadline kepada diri kita agar kita termotivasi untuk mencapai hasil-hasil tertentu. Dengan demikian waktu yang kita miliki akan menjadi optimal.
Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah berfirman, “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran” [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
Orang bijak mengatakan:
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju surga. [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri |
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Crismansyah Rahardi, Virgiawan Listanto, Dewi Murya Agung, Ani Setiawati, Cucu Suryaningsih, Wahyu Setianing Budi dan Rianto. Saya yakin Anda sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut, bukan?
Namun coba jika nama-nama itu saya ubah menjadi Chrisye, Iwan Fals, Dewi Persik, Anisa Bahar, Evi Tamala, Yuni Shara dan Tukul Arwana, kenal nama-nama tersebut?
Tentu tidak sulit bagi kita untuk menjelaskan siapa mereka hanya dalam beberapa detik. Mengapa kita mudah sekali mengingat identitas mereka? Jawabannya ada pada ciri khas dan perbedaan yang kuat dalam diri mereka dibanding yang lainnya.
Misalnya saja Chrisye yang terkenal dengan lagu-lagu melankolik, Iwan Fals dengan lagu balada dan nyanyian penuh kritik sosial, Dewi Persik dan Anisa Bahar yang terkenal sebagai penyanyi dangdut. Evi Tamala dengan suara merdu khas Sunda, Yuni Shara dengan tampilan lembutnya dan Tukul Arwana dengan kekhasan yang tidak dimiliki artis lain.
Jumlah penyanyi artis banyak sekali, tetapi mereka mampu menarik perhatian orang dengan diferensiasi dan ciri khasnya. Nah, ciri khas dan perbedaan yang kuat itu ternyata mampu menciptakan personal branding bagi nama-nama tersebut. Sehingga, mereka menjadi dikenal oleh banyak orang.
Napoleon Hill, penulis dan konsultan bisnis terkenal, pernah mengatakan bahwa yang dibeli konsumen adalah ide dan kepribadian Anda, jauh sebelum produk atau layanan Anda.
Lalu, apa sebenarnya personal branding itu? Dan apa keuntungan kita memiliki personal branding yang kuat?
Personal branding bukan merupakan pilihan. Karena sebenarnya, setiap orang atau perusahaan telah memiliki personal branding. Hanya saja, seberapa besar kekuatan personal branding itu mampu terekam kuat di benak orang lain. Juga, seberapa besar dampak personal personal branding itu, lebih positif atau negatif.
Timothy P. O’Brien, penulis buku The Power of Branding, menjelaskan bahwa personal branding merupakan identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut.
Sebagai contoh, ketika Anda berpikir tentang Ustadz Jefri, apa yang terlintas dalam benak Anda? Seberapa besar value dan kualitasnya menurut Anda? Bagaimana dengan tingkat kepercayaan dan kredibiltas Anda terhadap Ustadz Jefri? Coba bandingkan dengan ustadz lainnya lainnya. Maka akan terlihat diferensiasi yang kuat antara Ust. Jefri dengan penceramah lainnya.
Anda melihat Ust. Jefri sebagai ustadz yang selalu tampil trendi, flamboyan, tampil semangat dan cerdas dalam menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Bahkan selalu aktif dalam sosialisasi ilmunya ke masyarakat. Ini berbeda dengan profesi sejenis yang cenderung pasif, karena hanya akan menjawab ketika ada keluhan atau pertanyaan dari audiens atau ada undangan saja.
Nah, ciri khas seperti trendi, flamboyan, selalu semangat, dan cerdas itu yang akhirnya terekam di benak masyarakat sehingga menciptakan personal branding yang kuat bagi Ustadz Jefri. Alhasil, ketika seseorang atau lembaga membutuhkan penceramah untuk mengisi suatu acara terutama untuk menarik pemirsa atau audiens, maka yang pertama diingat atau Top of Mind (TOM) adalah Ustadz Jefri.
Ini berarti, keuntungan terbesar dari personal branding yang kuat adalah TOM, yaitu tingkatan tertinggi memori seseorang terhadap sesuatu.
Dalam bisnis, variabel TOM ini menjadi sangat penting. Mengapa? Karena ketika produk dan perusahaan Anda yang pertama kali diingat konsumen, maka sangat mungkin konsumen akan membeli produk Anda pertama kali. Ini berarti, produk Anda dapat menjadi pemenang. Sebuah impian yang selalu dicita-citakan pebisnis.
Menurut Al ries dan Laura Ries, dalam bukunya 22 Immutable Laws of Branding, proses branding sebagai sebuah umpan balik dari yang ada dalam pikiran orang lain. Karena, branding adalah semua hal yang orang lain pikirkan tentang Anda.
Dengan demikian, untuk membangun personal branding, Anda dapat memulainya dengan mengidentifikasi sebuah emosi yang ingin Anda ciptakan dalam pikiran orang lain atau konsumen Anda. Kemudian, temukan kata atau frase yang dapat mencerminkan emosi tersebut. Dan terakhir, Anda harus konsisten dalam berperilaku, promosi, dan menggunakan kata yang Anda gunakan.
Pertanyaannya, siapa yang membutuhkan personal branding?. Pada saat ini, dimana kompetisi semakin tinggi, maka setiap orang membutuhkan personal branding yang kuat. Apakah Anda seorang dokter, artis, pegawai swasta, atau bahkan politikus.
Cobalah amati, saat ini sudah banyak sekali politikus yang memanfaatkan personal branding untuk menarik massa. Misalnya saja dalam pemilihan kepala daerah akhir-akhir ini. Berbagai program telah dijalankan. Seperti ketika seorang politikus melakukan promosi dengan memasang iklan di televisi, membuat baliho dan memasangnya di sepanjang jalan pantura. Ada yang menampilkan slogan-slogan: hidup adalah perbuatan, generasi baru, yang muda yang berkarya dan lain-lain.
Karena personal branding merupakan persepsi, pendapat atau kesan seseorang terhadap kita, maka tantangan yang muncul sebagai karyawan adalah bagaimana menciptakan persepsi yang sesuai dengan yang kita inginkan.
Banyak hal yang kelihatannya sepele tetapi dapat mempengeraruhi personal brand seseorang. Sebagai contoh, seorang karyawan yang sering terlambat tiba di kantor, secara tidak langsung membuat citra terhadap diri sendiri sebagai tidak disiplin atau malas. Personal brand seperti ini akan mempersulit karyawan tersebut untuk meningkatkan kariernya di perusahaan.
Hal-hal yang positif yang dilakukan karyawan yang sudah mempunyai personal brand yang negatif, bisa saja menjadi tidak terlihat. Begitu juga sebaliknya, kalau kita sudah dapat menciptakan personal brand yang baik dan positif, maka segala urusan akan menjadi lebih mudah.
Untuk memperoleh personal brand yang baik pertama-tama yang dibutuhkan adalah “produk” yang baik. Produk di sini dapat berupa keahlian, attitude, penampilan, cara bicara dan tentu saja yang tidak kalah penting adalah reputasi.
Setelah itu, diperlukan cara mengkomunikasikan reputasi atau produk tersebut.
Dalam hal komunikasi ini terdapat banyak caranya seperti misalnya menulis artikel, menjadi pembicara, mengajar, terlibat dalam organisasi profesi, memiliki online networking atau blog dan sebagainya. Tentu saja kegiatan kiat tersebut perlu dikaitkan dengan talenta dan kesukaan kita. Seseorang yang lebih senang menulis akan lebih memilih menulis artikel dan yang senang sebagai pembicara akan memilih menjadi pembicara.
Dalam persaingan seperti sekarang, personal brand perlu dimiliki sedini mungkin sehingga hal ini dapat mempermudah kita dalam mencari kerja dan mengembangkan karier kita. Personal brand merupakan asset pribadi yang sangat berharga. Selamat menciptakan personal brand bagi diri Anda. [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work |
Perhelatan PON XVII Kalimatan Timur baru saja usai. Tidak seperti masa-masa dulu dimana PON menjadi acara menarik yang ditunggu-tunggu masyarakat luas, PON kali ini tidak begitu menyita perhatian publik. Saya ingat, sewaktu masih kecil acara olahraga multieven seperti PON, SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade selalu menjadi tontonan menarik di televisi maupun sajian unggulan media massa. 
Namun sekarang telah berubah, ternyata berita selebritis, politik dan kriminal lebih menarik daripada berita olahraga. Padahal ada banyak pelajaran berharga dari even olahraga seperti PON. Salah satunya adalah semangat berkompetisi.
Siapapun dan dimanapun hampir setiap sisi kehidupan selalu saja diwarnai dengan kompetisi. Lihatlah sopir bis dan angkutan kota yang selalu berlomba untuk merebut penumbang. Penjual koran dan penjaja makanan di terminal, sales yang berkeliling dari rumah ke rumah, toko ke toko, hingga pelajar yang selalu berlomba mencapai prestasi. Semuanya mengalami kompetisi, berusaha menjadi yang terbaik dari ‘pesaing’ mereka. Bahkan kalau kita lihat film Harun Yahya tentang pencipataan manusia, sebelum menjadi janin, sperma juga berkompetisi satu sama lain yang jumlahnya mencapai ratusan ribu, dan hanya satu yang menjadi pemenangnya.
Tidak beda dengan itu semua, dalam pekerjaan sehari-hari, di kantor kita juga seharusnya selalu dihadirkan semangat berkompetisi antar sesama karyawan. Dengan menghadirkan semangat tersebut prestasi demi prestasi akan tercipta. Situasi kerja juga akan semakin bergairah.
Sebagaimana pertandingan olahraga, sportivitas menjadi kunci utama dalam kompetisi. Kompetisi bisa tercipta di internal perusahaan atau antara perusahaan kita dengan pesaing baik dalam bisnis yang sama maupun tidak.
Nah, bagaimana kita mensikapi adanya kompetisi?
Yang pertama, bersikaplah positif. Tantangan dan kompetisi membuat kita memeras diri sampai titik saripati yang terbaik dari diri kita. Tantangan membuat kita menggunakan seluruh daya fisik, mental maupun spiritual daam diri kita. Tantangan juga menbuat sebuah perjalanan terasa begitu ‘fun” untuk dijalani. Sama seperti halnya anak kecil biasanya malas jika disuruh berlari sendirian. Tetapi, ketika diciptakan suasana lomba dengan teman-teman sebayanya untuk berlari, mereka akan berusaha berlari dengan begitu gembira. Tantangan, akhirnya membuat hidup kita ‘lebih hidup’, seperti bunyi sebuah iklan.
Kedua, jangan menghidndar dari peluang berkompetisi. Daripada menghindarinya, ceburkan diri Anda dalam situasi berkompetisi tersebut. Karena disana kita akan akan belajar, dan mulai berkembang.
Ketiga, bertanding secara sportif. Jangan berusaha membunuh, menghancurkan atau menghabisi kompetitor dengan cara-cara yang kasar, apalagi tidak etis. Bahkan jika perlu rawatlah situasi kompetisi itu.
Dan secara terus-menerus tantanglah diri Anda untuk berkembang. Jika Anda telah mencapai tujuan Anda, ciptakan tujuan dan target yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian, Anda akan terus menerus tertantang dan berkembang! [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work |
Pekerjaan rutin dan masalah yang selalu berganti kadang mendatangkan stres pada diri seorang karyawan. Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres. Perasaan was-was, frustrasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.
Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memeberi tuntutan yang berlebihan. Apa yang dapat anda lakukan untuk mengatur stres anda?

Setelah mengenal tanda-tanda stres pada diri Anda, perhatikan lingkunga sekitar anda. Lihatlah mungkin ada sesuatu yang benar-benar dapat anda ubah atau kendalikan dalam situasi tersebut.
Lalu jauhkan diri anda dari situasi-situasi yang menekan. Beri diri anda kesempatan untuk beristirahat biarpun hanya untuk beberapa saat setiap hari.
Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele. Cobalah untuk memprioritaskan beberpa hal yang benar-benar penting dan biarkan yang lainnya mengikuti.
Secara selektif ubahlah cara anda bereaksi. Fokuskan pada satu masalah dan kendalikan reaksi anda.
Hindari reaksi yang berlebihan. Mengapa harus membenci jika sedikit tidak suka sudah cukup? Mengapa harus merasa bingung jika cukup dengan hanya merasa gugup? Mengapa harus mengamuk jika marah saja sudah cukup? Mengapa harus depresi ketika cukup dengan merasa sedih?
Tidur secukupnya. Karena kurang istirahat hanya akan memperburuk stress.
Hindari alkohol dan obat-obatan karena itu tidak akan membantu memecahkan masalah.
Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri anda. Meditasi dan latihan pernafasan telah terbukti efektif dalam mengendalikan stress. Berlatihlah untuk menjernihkan pikiran anda dari pikiran-pikiran yang menggangu. Melakukan sesuatu untuk orang lain dapat melepaskan pikiran dari masalah anda sendiri.
Stres dapat dihindari dengan kegiatan-kegiatan fisik, misalnya jogging, tenis ataupun berkebun. Tingkatkan ketahanan diri anda
Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. [js]
Posted by jumadi on under Motivasi & Pengb. Diri |
Salah satu kisah yang saya dapatkan ketika mengikuti Training ESQ membuat saya terkesan. Cerita yang berjudul Rudi dan Sikat Gigi itu membuat saya mengerti tentang arti keikhlasan, integritas dan sikap memberi. Ijinkan saya menceritakan kembali kepada Anda.
Pagi itu Rudi pergi ke sebuah perusahaan dimana ia dipanggil untuk test wawancara. Saat menunggu antrian untuk dipanggil, Rudi menyempatkan diri ke toilet untuk sekedar membersihkan muka dan mencuci tangan.
Ketika di kamar mandi, Rudi melihat wastafel di kamar itu kotor dan kerak porselin disana-sini. Rudi melohat ke sekeliling dan di samping wastafel itu ia melihat ada sikat gigi bekas yang terlihat tak terpakai. Tanpa menunggu lama, Rudi membersihkan wastafel tersebut dengan sikat gigi bekas yang ia temukan.
Saat itu tanpa ia sadari, ternyata ada orang lain disampingnya yang melihat apa yang ia kerjakan. Orang tersebut adalah salah seorang pejabat bagian HRD yang merupakan salah satu dari tim pewawancara.
Pada saat giliran diwawancara, Rudi ditanya oleh orang yang melihatnya di kamar mandi, “Saudara Rudi, tadi saya lihat Anda membersihkan wastafel dengan sikat gigi bekas, boleh saya tahu, apa tujuan Anda melakukannya, padahal Anda datang kesini bukan untuk wawancara karyawan office boy, atau cleaning service, dan yang pasti, Anda belum tentu kami terima sebagai karyawan di perusahaan ini.”
”Saya melakukannya karena saya ikhlas melakukannya, dan hal itu terlepas dari masalah apakah saya akan diterima atau tidak diperusahaan ini, dan terlepas dilihat orang atau tidak saya melakukannya. Karena saya yakin Allah melihat apa yang saya kerjakan.“
Saya yakin anda tahu, siapa yang diterima diperusahaan itu? Ya, tentu saja Rudi lah orang nya.
Ary Ginanjar Agustian, dalam buku ESQ mendefiniskan loyalitas sebagai kesetiaan pada prinsip yang dianut. Sedangkan integritas, menurutnya adalah sikap jujur, konsisten, komitmen, berani dan dapat dipercaya. Integritas dengan sendirinya akan muncul dari kesadaran yang bersumber dari hati nurani. Ia tidak menipu dan tidak pernah bohong. Ia tidak memerlukan tepuk tangan orang lain dan sorak-sorai pujian.
Prinsip Malaikat, atau Angel Principle adalah seorang yang memiliki loyalitas yang tinggi, komitmen, suka mengawali dan memberi, suka menolong dan saling percaya.
Jika perusahaan memiliki karakter moral sepert yang diperagakan Rudi, saya yakin perusahaan tersebut akan menjadi leader dalam bisnisnya, karena dijalankan oleh orang-orang yang bisa bekerja dengan baik, meski tanpa ada yang mengawasinya secara kasat mata, karena ia bekerja dengan Prinsip Malaikat.! [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work |
Saya yakin kita semua pernah mengalami saat-saat dimana pekerjaan mulai terasa menyebalkan karena besarnya tekanan yang kita peroleh saat bekerja. Mungkin mulai merasa customer kita semakin rewel dan cerewet, bos yang mulai bertingkah sangat menyebalkan dengan terus-menerus tidak puas dengan pekerjaan atau bahkan mencela hasil kerja kita.
Jika Anda baru merasakan tersebut belakangan ini, hati-hati, mungkin ini pertanda anda mulai mengalami apa yang dinamakan burnout atau yang biasa kita sebut dengan kejenuhan (yang biasanya disebabkan oleh stres).
Sekali lagi, hati-hati dan jangan dianggap enteng, salah-salah bukan hanya pekerjaan tapi juga kesehatan anda yang terganggu.
Namun jika benar Anda mengalami hal tersebut, dari beberapa sumber di internet dan artikel-artikel yang saya baca, berikut beberapa aktivitas yang cukup efektif untuk mengatasi kejenuhan ini :
1. Nikmati kehidupan di luar pekerjaan
Saat anda mempunyai waktu luang/libur, nikmatilah kehidupan di luar pekerjaan Anda dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika memiliki club, komunitas sosial dan lainnya. Bergabunglah bersama mereka. Anda juga bisa memanfaatkan waktu bersama anak-anak untuk bermain bersama mereka. Dengan begitu saat kembali kerja, mudah-mudahan anda akan kembali bersemangat.
2. Kesalahan Kecil
Jika terjadi kesalahan kecil, bukan berarti dunia kiamat, jadi jangan ragu-ragu. Sesekali buatlah kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan, namun hati-hati, kesalahan yang kecil saja, artinya yang tidak mempengaruhi pekerjaan Anda. Secara tidak langsung, hal ini akan merangsang kreativitas dan imajinasi anda dalam bekerja. Plus, tantangan baru akan tercipta.
3. Curhat dengan Rekan Kerja
Kehidupan di pekerjaan dewasa ini membuat seseorang menjadi cenderung individualis. Sekedar hang-out atau makan siang bareng dengan rekan-rekan kerja anda akan menjadi obat menenangkan jiwa Anda. Siapa tahu dengan ngobrol dengan rekan kerja, anda bisa menemukan solusi masalah. Bukan tidak mungkin rekan kerja anda pernah mengalami masalah yang sama dengan yang anda alami saat ini.
4. Relaksasi
Semakin cepat anda bekerja, semakin mudah anda terserang stres. Untuk mengatasinya, selalu bawa kertas dan pensil untuk mencatat kejadian-kejadian yang membuat anda stres di sepanjang hari kerja. Kemudian setelah tiba di rumah, coba anda duduk dan renungkan hal-hal apa saja yang telah terjadi hari ini selama 5 sampai 15 menit.
5. Kenali Stres Anda
Sebagian orang membawa masalah di rumah hingga kantor. Cobalah pilah masalah Anda, apakah yang menjadikan anda merasa kesal adalah karena adanya tekanan di kantor atau bawaan dari masalah di rumah yang tidak terselesaikan. Dengan mengenali penyebab stres, maka akan lebih mudah menemukan jalan penyelesaiannya.
6. Konseling
Jika anda tetap tidak bisa menemukan cara-cara yang efektif untuk mengatasi problema anda, ada baiknya anda menemui konselor/psikolog yang memang memiliki kemampuan untuk mengatasi hal- hal seperti ini. Tidak ada yang aneh jika seseorang pergi ke psikolog. Atau jika Anda lebih yakin bisa konseling ke rohaniawan Anda.[js]