Posted by jumadi on January 30, 2009 under Politik & Budaya |
Setelah tulisan saya Political Marketing (sebenarnya ada subjudulnya ‘cara cerdas menggaet pemilih’) dimuat di Nirmala Post beberapa hari lalu, saya mendapatkan banyak masukan, komentar dan pertanyaan dari para pembaca. Sebagian menunjukkan dukungan, konfirmasi lanjutan sampai permintaaan untuk membuat tulisan lanjutan yang mendetailkan konsep tersebut.
Sebenarnya konsep political marketing sudah banyak dibahas oleh beberapa ahli marketing di Indonesia. Tidak kurang Hermawan Kartajaya, Hendi Irawan sampai majalah Marketing juga mengulas hal tersebut. Demikian pula buku-buku yang membahas hal yang sama, salah satunya adalah The Political Campaigning Handbook yang ditulis Lionel Zetter berdasarkan pengalaman dan pengamatannya dalam pelaksanaan Pemilu Inggris selama beberapa dekade.
Ketika kita sudah memahami konsep tersebut, tahapan selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikannya di lapangan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, untuk mengkomunikasikan brand kita (Parpol atau Caleg) adalah melalui aktivitas promosi, iklan, pemasangan porster dan lain-lain. Namun dalam situasi yang crowd seperti ini diperlukan cara dan stratgei kampanye yang lebih kreatif.
Membangun Relationship dengan Pemilih
Salah satu hal penting agar brand kita selalu diingat dan menjadi top of mind dalam benak audiens, dalam hal ini pemilih, adalah dengan membangun hubungan yang terus menerus dengan audiens. Banyak media, sarana dan aktivitas yang bisa kita lakukan dalam mebangun hubungan antara lain:
Kantor Sekretariat/Posko
Semua parpol pasti memiliki kantor sekretariat sebagai pusat aktivitas mereka. Seharusnya kantor ini dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai sarana berkomunikasi dengan pemilih. Kegiatan temu kader, pelatihan, sarasehan, acara kepedulian, sampai pertemuan-pertemuan kecil bisa menjadi sarana untuk menggalang dukungan. Rumah caleg atau posko khusus yang disiapkan juga bisa menjadi sarana untuk itu.
Publikasi/Press Release/Talkshow
Parpol atau caleg juga bisa memanfaatkan media untuk publikasi kegiatannya dengan membuat release berita. Media apapun akan senang mendapatkan release berita. Dan jika apa yang Anda tulis informatif, dilengkapi foto yang berkualitas, acaranya juga sesuatu yang menarik, fenomenal atau tentang wacana baru (bahkan kontroversi) maka media akan memuat publikasi Anda. Hal ini lebih mudah dilakukan dan Anda tidak membutuhkan biaya untuk pasang iklan. Atau Anda bisa melakukan talkshow di radio demgan tema-tema yang tepat dan Anda kuasai. Melalui media on air dan off air Anda bisa melakukan publikasi dengan murah.
Saya tertartik dengan yang dilakukan Tung Desem Waringin ketika meluncurkan bukunya. Ia betul-betul pandai membuat publisitas. Masih ingat orang yang membagikan uang 100 juta melalui pesawat terbang? Itulah Tung ketika mempromosikan bukunya Marketing Revolution. Semua media nasional bahkan internasional memuat beritanya, bahkan menjadi headline. Jika dibanding publisitas di media, nilai 100 juta tentu menjadi tidak besar lagi. Demikian juga ketika ia naik kuda di jalan protokol Jakarta saat meluncurkan bukunya Financial Revolution.
Hubungan personal melalui surat pribadi
Agar lebih dekat dengan audiens, lakukanlah hal-hal yang sifatnya personal kepada para calon pemilih kita. Setiap orang akan senang jika diperlakukan secara personal. Caranya, berkunjunglah dari rumah ke rumah atau menyapa dengan menyebutkan namanya secara tepat. Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah mengirimkan surat secara pribadi (direct mail). Bandingkan dengan selebaran yang kita bagikan, alih-alih mendapatkan dukunga, selebaran, brosur, flyer dan sejenisnya hanya akan dibaca sekilas.
Coba anda kirim selembar surat yang Anda tandatangani sendiri, sampaikan salam, sebutkan secara singkat visi, pemikiran dan harapan Anda, lalu tunjukkan bahwa Anda membutuhkan dukungan yang bersangkutan.
Pesan Singkat/SMS
Hampir semua usia pemilih saat ini memiliki sarana komunikasi handphone. Anda bisa mendata nomor-nomor yang Anda kenal atau dari relawan Anda. Kirimkanlah pesan-pesan singkat yang berisi salam dan permintaan dukungan. Bayangkan jika Anda bisa mengirimkan SMS ke 100 orang setiap hari, dengan biaya yang ringan, berapa banyak orang yang akan mengenal Anda dan bukan tidak mungkin mereka akan memberikan pilihan untuk Anda.
Memanfaatkan Media Digital
Sekarang sudah eranya digital. Internet dan email sudah bukan barang baru. Pemilih pemula yang rata pelajar dan mahasiswa jumlahnya cukup signifikan. Dan bagi mereka internet sudah menjadi bagian dari kehidpannya sehari-hari. Bahkan di sekolah, sebagian mata pelajaran mempergunakan sarana internet untuk pembelajaran mereka. Belum lagi para pekerja di kantor dan instansi yang memiliki fasilitas internet, berapa banyak jumlahnya? Ladang suara yang menggiurkan bukan?
Nah, bagaimana meraih dukungan dari mereka? Mau tidak mau kita harus ikut masuk ke dalam ‘dunia’ maya ini. Disamping biaya yang murah, publisitas yang luas juga begitu mudahnya melakukan kampanye di dunia maya ini. Apa saja yang bisa kita lakukan?
Blog dan Email
Biasanya fasilitas internet yang digunakan hanya sebatas membuat website dan email. Memiliki situs di internet saja belum cukup. Karena disana hanya berisi informasi searah. Saat ini orang lebih senang bisa melakukan interaksi, meskipun hanya lewat internet. Blog adalah sarana yang tepat untuk menyampaikan pemikiran Anda. Penggunaannya sangat mudah dan biayanya sangat murah. Bahkan Anda bisa mendapatkan kases blog dengan gratis. Email juga menjadi sarana yang bisa digunakan untuk menjalin hubungan pribadi.
Facebook, Komunitas Online dan Mesin Pencari
Salah satu media yang sedang jadi favorit di media digital saat ini adalah facebook dan komunitas online lainnya seperti flickr, yahoo messanger dan sarana komunikasi lainnya. Melalui perangkat blackberry Anda bisa memanfaatkan semua fasilitas online melalui genggaman Anda. Mesin pencari juga sangat powerful saat ini. Jika sedang mengakses internet, coba ketikkan nama Anda atau partai anda di google, apakah muncul di peringkat atas informasi yang tampil aatau tidak, itulah salahsatu gambaran tingkat popularitas kita. Coba bayangkan jika ada pemilih yang bingung untuk menentukan pilihannya, lalu mencari informasi di internet, dan diketik disana: ‘caleg dapil 2’ di wilayah Anda, apakah tidak ingin nama Anda yang akan muncul disana?
Zaman sudah berubah, media informasi juga berubah. Maka kita juga harus merubah cara berkomunikasi dengan audiens dan masyarakat di sekitar kita. Jika untuk membuat poster, memasang iklan membutuhkan banyak dana, maka melalui kreativitas cara berberkomunikasi, kita bisa mengalokasikan dana untuk kegiatan lain. Dan bagi yang memiliki keterbatasan biaya, bisa tetap berlomba meraih dukungan tanpa harus bingung mencari tambahan dana. Maka kreatiflah dalam berkampanye.[js]
Posted by jumadi on January 23, 2009 under Politik & Budaya |
Kemenangan Barrack Obama dalam pemilihan presiden Amerika beberapa waktu lalu bukan hanya sekedar kepiawaian dalam negosiasi politik semata, namun juga karena Obama berhasil menjalankan pemasaran secara maksimal. Salah satu kunci keberhasilannya adalah karena ia dan timnya melakukan kampanye secara online secara optimal. Hughes, salah satu tim kampanyenya adalah seorang pendiri komunitas facebook. Melalui media ini Obama meraih banyak simpati massanya. Ia juga menjalankan kaidah pemasaran secara baik. Tim suksesnya membuat perencanaan P-D-B atau positioning, differentiating dan brand dengan seksama dan menjalankan program marketing dengan optimal.
Begitu juga dengan keberhasilan calon-calon gubernur, walikota dan bupati dalam banyak Pilkada yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir. Sebutlah misalnya, keberhasilan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Jawa Barat, Syamsul Arifin-Gatot Pujonugroho di Sumatera Utara adalah salah satu keberhasilan sosialisasi yang optimal. Atau sebelumnya kampanye politik based on research yang dilakukan Ismet Abdullah di Kepulauan Riau. Demikian juga kesuksesan gubernur Jateng Bibit Waluyo dan walikota Tegal Ikmal Jaya tidak terlepas dari aspek-aspek pemasaran yang dibangun sebelumnya.
Jika saat ini kita lihat ratusan gambar foto-foto caleg terpampang di hampir seluruh sudat jalan, mulai dari jalan protokol sampai gang-gang dan perkampungan, banyaknya iklan di media massa baik lokal maupun nasional, apakah itu salah satu bentuk political marketing?
Marketing untuk Partai Politik
Melihat aktivitas yang dilakukan parpol dan caleg akhir-akhir ini, kita tahu bahwa semua telah menyadari bahwa partai atau caleg juga butuh marketing. Namun belum banyak yang menjalankan secara sistematis dan tepat sasaran.
Pemilu saat ini berbeda dengan pemilu tahun 2004 lalu. Apalagi jika dibanding masa Orde Baru. Dari sisi pemilih, saat ini parpol juga menghadapi pemilih yang kritis, empowered, dan situasional. Dan yang paling penting persaingan antar parpol kini sudah tidak mengenal lagi yang namanya tekanan, paksaan, tipu daya dan sejenisnya. Semuanya dilakukan secara fair dengan aturan main yang jelas dan transparan. Kalau sudah demikian maka keunggulan bersaing parpol-lah yang akan menjadi faktor penentu kemenangan parpol.
Political marketing dan aspek-aspek pendukungnya
Bukan hanya sekedar iklan dan membangun pencitraan saja, tapi parpol juga harus secara tepat membangun diferensiasi yang akan menjadi pilar keunggulan berkompetisi. Pada saatnya yang tepat parpol harus melakukan aktivitas brand-building agar dipersepsi baik dan dapat menumbuhkan loyalitas di kalangan para pemilihnya. Intinya, seperti halnya perusahaan, parpol butuh strategi marketing yang tepat secara menyeluruh. Bagaimana menerapkannya dalam konteks pemilu?
Political marketing dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada pemilih. Tujuannya adalah membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, orientasi dan perilaku pemilih. Perilaku yang diharapkan adalah secara umum mendukung, dan khususnya memilih partai kita.
Saat ini pasar pemilih yang sudah sedemikian terfragmentasi dengan pemain yang begitu banyak, hampir dapat dipastikan tidak ada parpol yang akan menjadi single majority. Pasar pemilih pasti akan terbagi-bagi ke semua partai yang jumlahnya. Karena itu parpol harus secara tegas menetapkan target pasar pemilihnya.
Yang sudah memiliki basis yang kuat di massa pemilih, dengan mengelola secara optimal massa yang niche akan memberikan dukungan yang riil. Strategi targetting dengan baik dimainkan oleh PKS dan PDIP pada pemilu yang lalu. Dengan mengelola kadernya yang militan dan terget yang fokus, PKS meraih kemenangan di kota-kota besar. Dengan target wong cilik PDIP memiliki pemilih riil dan dukungan yang signifikan.
Setelah target pasar terpilih, jalankan aspek positioning. Melalui positioning inilah parpol menempatkan diri di benak massa pemilihnya. PAN menempatkan dirinya sebagai partai reformis dan universal. PDI perjuangan dengan pembelaan kepentingan rakyat kecil. Gerindra dengan bidikanya petani dan nelayan atau PKS yang mengambil posisi sebagai partai yang bersih, peduli dan profesional.
Positioning inilah yang kemudian harus dikomunikasikan ke seluruh stakeholder partai lewat aktivitas promosi baik melalui media release, TV, radio, media online, iklan di koran, baliho, flyer atau pengenalan langsung melalui direct-selling.
Agar positioning kuat, ia harus didukung oleh diferensiasi yang kokoh. Diferensiasi ini bermacam-macam, ada yang bentuknya SDM dan para pemikir partai yang handal, dengan konsep-konsep program yang realistis. Basis massa, struktur yang kuat hingga ke ranting-ranting, atau mungkin juga pemimpin yang mumpuni dan karismatis.
Diferensiasi harus didukung konten dan konteks nyata dari partai yang bersangkutan. Kredibilitas sangat penting dalam hal ini. Jika sebuah partai menyebut dirinya anti korupsi, tapi anggota dewannya dalam periode sebelumnya terlibat korupsi, tentu tidak menjadi diferensisasi. Jika sebuah partai menyebutkan dirinya sebagai partai berasas Islam, misalnya maka anggotanya harus memperlihatkan akhlakul karimah.
Untuk mendukung semua itu, parpol perlu melengkap komunikasi pemasaran dengan membangun hal-hal sebagai berikut: mengkomunikasikan pesan dan gagasan, mengembangkan identitas jatidiri, kredibilitas dan tranparansi, interaksi dan respons dengan komunitas internal dan eksternal dengan melakukan pencitraan partai, menyediakan pelatihan, mengolah dan menganalisis data untuk kepentingan kampanye, secara terus menerus mempengaruhi dan mendorong komunitas untuk mendukung partai.
Namun bukan hanya produk politik yang harus dijual, melainkan semua unit dalam sistem kinerja partai layak dan harus dijual. Antara lain yang sering dilupakan orang: kinerja institusi partai, anggota dan perilakunya, kinerja kandidat terpilih dalam pemilu sebelumnya, dll.
Jadi praktisi political marketing tidak hanya harus canggih dalam mengelola iklan, memperbanyak gambar partai atau foto kandidat sehingga memenuhi jalanan dan gang-gang saja, namun lebih daripada itu: menerapkan prinsip pemasaran secara tepat, mengelola basis pemilih, memperbaiki kinerja partai secara umum, menampilkan kandidat yang memiliki reputasi baik, melakukan komunikasi secara tepat dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menunjukkan peran yang signifikan dalam masyarakat.
Pemilih sudah cerdas. Bisa membandingkan mana partai yang telah menunjukkan kinerja yang baik, mana yang benar-benar peduli dan mana yang hanya slogan. Kandidat mana yang telah berbuat dan mana yang hanya berjanji. Karena itu partai dan caleg juga harus lebih cerdas dalam melakukan komunikasi, jika tidak ingin disebut hanya mengumbar janji.
Jumadi Subur adalah pengamat bidang marketing dan branding,
Saat ini mengabdi di Tegal sebagai Marketing Manager di INDOSAT.
Posted by jumadi on January 14, 2009 under Ideas @ Work |
Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.
Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun dalam film ini terlalu banyak adegan kekerasan yang disajikan sehingga tidak baik untuk perkembangan mental anak.
Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Satu hal yang menarik dalam film ini adalah selalu saja ada cara bagi si Tom untuk berusaha mengalahkan si kecil Jerry, dan sebaliknya, selalu ada cara si Jerry dalam memperdaya Tom, si kucing yang selalu jadi pecundang itu. Bahkan seringkali dengan cara-cara di luar yang kita pikirkan. Mereka selalu kreatif dalam mencari cara.
Ya selalu menemukan cara di luar hal yang biasa. Itulah yang ingin saya bahas. Thinking out of the box, begitu orang mengisitilahkan.
Dalam situasi krisis seperti ini, budget yang terbatas, target yang tidak pernah turun, sebagai karyawan kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Kreatif dalam melaksanakan program kerja dan inovatif dalam mencari cara-cara baru untuk mensiasati situasi kritis seperti ini.
Menurut para ahli, seseorang yang kreatif bukalah selalu menemukan hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari cara-cara yang biasa. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, bermanfaat, meskipun kadang tetapi dapat diimplementasikan.
Pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi orang yang kreatif?
Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:
1. Buka mata, buka telinga
Kemampuan kita untuk selalu terbuka terhadap berbagai hal akan memberikan energi yang luar biasa untuk mampu mencintai segala sesuatu, termasuk mencintai profesi kita.
Dan mencintai itu harus kita lakukan dengan penuh ketulusan. Kalau kita dengan tulus melakukan pekerjaan, maka tidak akan ada beban sedikitpun yang mengganjal terhadap apapun yang ”ingin” kita lakukan.
“I never, ever thought of myself as a businessman. I was interested in creating things I would be proud of ” (Richard Branson)
2. Percaya diri
Kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi keistimewaan kita merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Karena itu ada istilah “mempercayai kemampuan kreatifitas anda adalah separo dari sukses itu sendiri”
Untuk bisa kreatif, kita harus bisa ber”mimpi” besar untuk menggapai sesuatu. Hidup kita tidak akan bergairah kalau kita tidak memiliki impian dan target. Orang yang percaya diri akan selalu menyusun mimpi dalam dalams ebuah cita-cita hidup.
3. Tanamkan semangat belajar
Look through the eyes of a child. The art of “listening” has been mostly forgotten. God creates human with two ears and only one mouth for a good reason.
Belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan melalui cara apa saja. Anda bisa bertanya pada yang ahli, membaca buku, jalan-jalan, menonton film, mengikuti pelatihan dan kursus, seminar, browsing internet dan banyak lagi.
Dalam kaidah Islam sering mengenal ungkapan-ungkapan seperti: ”belajarlah sampai ke negeri cina”, ”belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”.
Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.
4. Berhubungan dengan orang-orang kreatif
Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkaan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman.
“Sahabat terbaik adalah dia yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda” (Henry Ford)
Apabila Anda selalu bersama orang yang suka menyanyi, lama-kelamaan Anda juga akan senang menyanyi. Jika Anda sering berkumpul dengan para penulis atau sastrawan, paling tidak Anda akan menyukai dunia sastra. Maka jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif. Anda akan menjadi orang kreatif.
5. Jadilah komunikator yang baik
Saat ini dunia begitu sempit, apa yang terjadi di belahan bumi lain akan bisa kita ketahui sekarang juga dan dimana kita berada. Jadi, untuk menumbuhkan kreatifitas kita harus bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.
Di zaman digital seperti ini, berbagai sarana komunikasi dapat Anda manfaatkan untuk membangun relasi dengan orang lain. Blog, friendster, flickr, facebook, website adalah sarana-saran komunikasi yang bisa mendukung Anda mendapatkan wawasan dan teman baru.
6. Ciptakan suasana yang menyenangkan
Bermain mendorong anda dalam suatu pikiran yang berisi banyak elemen
yang anda butuhkan untuk kreatif, misalnya keingintahuan, imajinasi, experimentasi, fantasi, spekulasi, atau apa saja
”Saya tidak pernah memiliki hari kerja dalam hidup saya. Semuanya merupakan kegembiraan” (Thomas A. Edison)
7. Ciptakan lingkungan yang kondusif
Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.
Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.
8. Keluar dari rutinitas
Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.
Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.
Selamat mencoba. [js]