Posted by jumadi on December 22, 2008 under Wirausaha |
Sebagaimana Aa Gym, ketika menulis buku “Siapa Bilang Saya tidak Ingin Kaya?” dilandasi pemikiran dengan keprihatinan yang mendalam pada sanubari, buah dari perenungan mengapa masyarakat muslim di dunia rata-rata kurang makmur walaupun negaranya memiliki sumber daya melimpah ruah.
Ironinya, bersamaan dengan itu, di negara-negara yang warganya tidak mayoritas Islam, meskipun alamnya tidak kaya, mereka berhasil membangun kemakmuran.
Dalam Islam, bekerja mencari nafkah sebanyak-banyaknya adalah ibadah. Jadi jelas, bekerja pasti berpahala besar sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Dengan kelebihan hartanya, seorang muslim akan dapat beramal lebih banyak lagi. Seorang yang mampu secara harta akan mudah melakukan sejumlah ibadah yang membutuhkan biaya besar, ibadah yang tidak akan dapat dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai uang. Namun harus diyakini bahwa kaya dalam pandangan Islam tidak identik dengan kemewahan, sebaliknya kaya itu identik dengan infaq dan shadaqah. Maka orang yang bermegah-megahan belum tentu dia adalah orang kaya, sebab orang yang pas-pasanpun bisa berbuat demikian.
Ketika genderang jihad mulai diproklamirkan dalam Islam, maka ahlu dutsur (orang-orang kaya) dari kalangan sahabat semakin proaktif memelihara dan mengembang kan hartanya. Mereka bersiap-siap jika sewaktu-waktu ada panggilan jihad yang membutuhkan perlengkapan senjata dan perbekalan makanan serta membutuhkan banyak biaya, kaum muslimin tidak kerepotan.
Contoh nyata bagaimana pengorbanan harta para sahabat dalam menghadapi jihad terlihat menjelang terjadinya perang Tabuk. Kala itu tahun 9 Hijriyah, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat yang kaya supaya menyediakan perbekalan bagi para sahabat yang tidak mampu.
Maka bersegera para sahabat menyambut seruan jihad maali Nabi SAW. Sahabat Abu Bakar ra mendermakan seluruh hartanya, Umar bin Khattab ra mendermakan sebahagian miliknya, Utsman bin Affan ra mengeluarkan harta sebanyak 10.000 dinar ditambah 300 ekor kuda lengkap dengan perbekalannya serta 50 ekor kuda, Abdurrahman bin ‘Auf ra mendermakan 100 uqiyyah emas, sahabat Al-Abbar ra dan Thalhah ra mendermakan hartanya yang jumlahnya cukup banyak, Ashim bin Adiy ra menyedekahkan 70 wasaq kurma.
Demikian pula sahabat-sahabat yang lain, mereka berbuat serupa. Bahkan para sahabiyah juga tidak ketinggalan, mereka memberikan berbagai perhiasan pribadinya.
Inilah potret sebahagian kecil para sahabat Rasulullah SAW yang memadukan antara dakwah dan kerja, sampai-sampai Umar bin Khattab ra mengatakan bahwa di pasar adalah tempat yang lebih ia senangi apabila kematian menjemputnya, setelah kematian di medan jihad. Oleh karena itu, mengutamakan salah satunya dan menafikan yang lainnya tidak dibenarkan dalam Islam.
Mari kita renungkan hikmah atas peristiwa berikut. Ada seorang sahabat yang senantiasa beribadah dan berzikir terus menerus didalam mesjid. Sahabat ahli ibadah ini tidak bekerja. Seluruh kebutuhan makan minumnya dicukupi oleh saudara-saudaranya. Menjumpai hal demikian, Nabi SAW menjelaskan bahwa kedudukan saudaranya itu, jauh lebih mulia ketimbang yang beribadah terus menerus tanpa bekerja.
Saudaraku sekalian, bagaimana anda memahami firman Allah :
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”.(Ash-Shaaf:10-11)
Jika kita renungkan, ada makna tersirat –sebenarnya juga tersurat- dari ayat diatas yang sering terabaikan. Ketika Allah SWT mengatakan dengan harta berarti kaum muslimin dituntut untuk kuat secara finansial. Demikian pula, ketika Allah menyatakan dan jiwa berarti kaum muslimin dituntut secara jasmani dan rohani nya. Boleh jadi aspek kedua lebih sering mendapat perhatian dari kaum muslimin sekarang, sementara aspek pertama yaitu tentang kekuatan finansial, masih kurang mendapat perhatian. Padahal sejarah membuktikan bahwa tidak ada satu peperanganpun kecuali pasti menghabiskan biaya yang sangat besar.
Siapa Bilang Dai Tidak Ingin Kaya? Kalimat ini tersirat di benak saya ketika mendengar sebuah tausyiah seorang sahabat mengenai hidup sederhana. Memang benar kesederhanaan harus menjadi akhlak utama yang dimiliki para dai, namun hidup sederhana tidak berarti terkungkung dalam kemiskinan dan belenggu hutang. Sebaliknya kaya tidak berarti kesombongan. Sungguh, tidak ada kaitannya kesederhanaan dan kesombongan dengan jumlah kepemilikan harta.
Sungguh, banyak karunia Allah yang menyiratkan bahwa kekayaan bukanlah mustahil dan kekayaan itu bukanlah semata-mata kaya harta. Masih menurut Aa Gym –dan saya setuju dengan pendapat beliau ini- bahwa kaya bisa berupa kaya ilmu, kaya ikhtiar, kaya hati dan sebagainya.
Allah memberikan banyak pelajaran bagi kita dengan adanya fenomena sukses di dunia ini. Lihatlah bangsa Cina yang begitu kuat karena keberhasilan mereka dalam bisnis, hingga menyebar ke seluruh dunia. Lihat juga bagaimana bangsa Jepang dan Korea yang meraih kejayaan dengan etos kerja yang luar biasa.
Saatnya kita berfikir bersama bagaimana membangun dakwah beriringan dengan membangun ekonomi. Kenyataannya dakwah, sejak dimulakannya di masa Rasul hingga sekarang, selalu membutuhkan biaya. Kekuatan ekonomi membuat kita tidak banyak bergantung pada pihak lain atau sesama manusia, karena gantungan kita yang tertinggi hanya kepada Allah. Sedangkan manusia hanya menjadi jalan datangnya pertolongan Allah. Kekuatan ekonomi ini harus selalu dibarengi dengan kekuatan ilmu dan kekuatan akhlak. Sebagaimana kata Aa Gym “Saya tidak Ingin Kaya, tapi Saya Harus Kaya”
Posted by jumadi on December 18, 2008 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri |
Rafting, what is inside?
Seru … itulah kalimat yang muncul dari teman-teman yang mengikuti arung jeram di sungai Progo, Magelang, beberapa waktu lalu.
Setelah sehari sebelumnya mengikuti Pelatihan Excellent Customer Service di Semarang, pagi harinya Tim Reps. Pekalongan berangkat ke Magelang, tepatnya menuju kawasan Hotel Puri Asri. Di sanalah petualangan ini dimulai.
Melakukan aktivitas arung jeram ternyata sangat mengasyikkan. Banyak tantangan tak terduga selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam. Ditengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk istirahat sejenak..Awalnya, beberapa orang merasa ragu-ragu apakah sanggup mengikuti aktivitas ini atau tidak. Apalagi malam sebelumnya diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan begitu beratnya tantangan dalam arung jeram. Namun setelah setengah perjalanan kami sangat menikmati perjalanan mengarungi sungai progo ini, bahkan merasa penasaran untuk mengulang kemblai.
Banyak pelajaran yang kita dapatkan dalam sebuah ekspedisi arung jeram, antara lain:
· Trust, saling percaya.
· Melatih berpikir out of the box.
· Melatih mental untuk siap dalam menghadapi tantangan.
· Melatih kewaspadaan. Dari awal hingga akhir perjalanan, kita tidak boleh lengah sedikit pun, karena cukup banyak hal-hal tak terduga bisa saja terjadi.
· Pentingnya team bulding. Setidaknya setiap peserta harus saling menjaga keseimbangan dan saling membantu agar temannya jangan sampai terjatuh.
· Taat pada pimpinan. Setiap anggota tim harus patuh dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pimpinan perahu, karena jika tidak dapat membuat perahu oleng atau bahkan terbalik
· Melatih diri untuk selaras dan harmonis dengan alam. Tidak boleh ada kesombongan sedikitpun dalam hati kita. Karena di saat seperti itu, terasa sekali betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT, Sang Maha Pencipta alam semesta ini.
Itulah sekelumit pengalaman yang bisa saya sharing. Saya anjurkan, sesekali cobalah melakukan aktivitas yang di luar kebiasaan, terutama kegiatan di alam bebas. Saya yakin Anda akan menemukan banyak hikmah dan pelajaran baru. Selamat beraktivitas. [js]
Posted by jumadi on December 17, 2008 under Ideas @ Work, Marketing Ideas |
Sedih, pilu, gundah mungkin juga marah. Itulah yang dirasakan orang yang ditolak. Ditolak cintanya, ditolak lamaran pada suatu pekerjaan atau ditolak proposalnya. Yang paling sering terjadi adalah ditolak penawarannya. Hampir semua penjual pernah mengalami penolakan. Namun yang berbeda adalah cara menghadapi penolakan itu.
Ada yang larut dalam kesedihan lalu menjadikannya putus asa. Ada yang yang justru menjadikan kata ‘tidak’ sebagai pemicu semangat untuk melakukan usaha lebih keras lagi. Sebagaimana Kolonel Sanders yang ratusan bahkan ribuan kali ditolak ketika menawarkan resep ayam gorengnya. Namun ia tidak menyerah. Kini kita lihat kedai yang menjual ayam goreng dengan label Kentucky Fried Chicken hampir ada di semua kota di dunia, termasuk Indonesia. Buah dari ketekunan menghadapi penolakan mengantarkan banyak sales pada posisi puncak karier dengan penghasilan milyaran rupiah.
Kata ‘tidak’ bukan akhir segalanya. Penolakan tidak berarti dunia ini sudah kiamat. Barangkali dengan mengatakan ‘tidak’, calon pelanggan ingin mengatakan ‘tidak saat ini’ atau ‘tidak yang ini’. Artinya masih banyak kesempatan. Mungkin juga mereka mengatakan tidak karena kurang memahami produk kita. Atau memang budget yang tidak sesuai dengan penawaran kita. Bisa jadi karena prospek belum mengetahui kelebihan dari produk yang ditawarkan.
Berpikir positif, itulah jawabannya. Caranya adalah memandang bahwa masih ada kesempatan. Langkah selanjutnya adalah membuat persiapan untuk melakukan hal lebih baik lagi. Belajar dari apa yang dilakukan para marketer MLM yang hampir tidak pernah mengenal kata menyerah. Mereka melakukan upgrading diri sendiri, bahkan dengan biaya mereka sendiri. Meningkatkan kemampuan negosiasi, kemampuan presentasi, penguasaan produk hingga ketrampilan memahami karakter personal seseorang hingga mudah melakukan pendekatan.
Selanjutnya adalah mengubah cara pandang. Menempatkan posisi pada orang yang melakukan penolakan. Proposal yang diajukan ditolak. Biasanya disikapi dengan nada negatif. Begitulah dia memang sentimen sama saya, setiap mengajukan sesuatu ditolak. Atau aneka prasangka lain yang justru akan menambah beban pikiran kita. Cobalah untuk berpikir terbalik. Seandainya saya pada posisi orang tersebut, apa yang membuat saya menolak penawaran ini. Dengan demikian kita akan menemukan jawaban. Proposal kurang lengkap. Biayanya terlalu besar. Saatnya belum tepat. Gali ide lebih kreatif lagi. Terlalu mahal. Kurang efisien dan seterusnya.
Kemudian mensikapi penolakan sebagai sebuah dinamika profesi. Nikmatilah. Karena itulah jalan keindahan yang akan membawa kita untuk mencintai profesi kita. Lihatlah orang-orang yang menikmati penolakan. Penjual koran dijalanan, tukang semir sepatu yang berkeliling menawarkan jasanya ke semua orang. Tukang sol sepatu, mbak jamu, tukang ojek di pangkalannya. Juga sopir taksi dan tukang obat. Tidak terhitung berapa kali mereka ditolak oleh prospek mereka. Bisakah Anda bayangkan seandainya mereka menyerah lalu ngambeg dan pulang ke rumah?
Resepnya adalah kuasai penolakan sebelum Anda dikuasai oleh penolakan, demikian yang diungkapkan oleh Richard Denny dalam bukunya Succeed for Yourself. Jika kita sudah bisa menguasai penolakan, kita tidak perlu takut lagi untuk mencoba mengajukan penawaran. Dengan keterampilan kita menguasai penolakan, kita bisa mengubah kata ”tidak” menjadi ”ya”. Selamat mencoba! [js]
Posted by jumadi on December 16, 2008 under Ideas @ Work |
Rita adalah karyawan yang baru bergabung dalam timnya Panji. Belum ada 2 bulan Rita pindah dari cabang lain dan bergabung bersama tim yang oleh Panji disebut ‘the dream team’ karena kekompakan dan restasi yang sering dibuat oleh timnya itu. Panji juga sebenarnya belum lama. Belum ada setahun ia memegang sebagai area sales manager di kota ini. Meski begitu, sejak ia pegang, area ini selalu menjadi juara dalam berbagai kompetisi baik terkait dengan sales performance maupun non sales performance.
Namun sejak kahadiran Rita, ada sesuatu yang lain terjadi disini. Gadis yang asli kota ini baru dipindah dari cabang lain dan memegang salah satu fungsi di sales support officer . Sebenarnya tugasnya tidak terlalu berat, hanya melakukan follow up customer yang sudah deal dengan sales, melengkapi dan melakukan verifikasi data dan membuat janji untuk serah terima barang dengan customer.
Yang membuat karyawan lain agak gerah adalah sikap Rita yang terkesan seenaknya. Kadang datang terlambat -meskipun sudah ijin sebelumnya-, pulang lebih cepat, tiba-tiba sakit atau sikap kepada pelanggan yang terkadang kurang mencerminkan good service. Beberapa kali juga sempat clash dengan rekan lain akibat dari perbedaan pendapat yang sepele.
Panji menghawatirkan jika sikap Rita yang demikian akan menimbulkan ketidakharmonisan bahkan menimbulkan ‘penyakit’ bagi timnya yang sudah solid. Kehadiran Rita ibarat toxid dalam timnya. Eny, salah satu team leadernya yang membawahi corporate sales bahkan menyebutnya the toxid employee.
Apa itu toxid employee?
Toxic employee sering didefinisikan sebagai karyawan yang menjadi racun bagi organisasi/ perusahaan tempat bekerja dan karyawan lain dalam timnya. Sesuai dengan sifatnya, racun jika diberikan dengan kadar dibawah dosis tidak akan memberikan efek apa-apa, jika kadarnya sesuai dosis akan menjadi obat, namun jika kadarnya diatas dosis akan menjadi sangat berbahaya, sangat merugikan bahkan dapat mematikan.
Menurut Anthony Dio Martin, seorang psikolog sekaligus penulis buku EQ Motivator, yang menguatkan pendapat Dr.Robert K Bitting (toxic employee) bahwa karyawan seperti ini biasanya menunjukkan sifat-sifat sebagai berikut:
Pertama, adalah negaholic yaitu kecenderung selalu berpikir negatif dan pesimistis. Untuk setiap gagasan yang sebenarnya baik dan progresif, namun bila mereka ditanya pendapatnya, mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan.
Kedua, mereka menjadi duri dalam daging bagi tim. Akibatnya, energi tim lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan dan melaksanakan ide kemajuan proyek. Pikiran, sikap, dan tindak-tanduknya menyita banyak perhatian dan energi tim. Orang-orang tidak fokus lagi pada memajukan proyek, justru terbekap dan energinya habis untuk meladeni pikiran dan kritikan dari si toxic employee ini. Intinya, toxic employee mengurangi laju perkembangan kerja tim.
Ketiga, mereka lebih banyak menjadi masalah ketimbang memberikan solusi. Kadang, mereka bisa menjadi sangat kritis dan jeli dalam melihat permasalahan. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ke situ. Mereka melihat masalah, menyebutkan masalah, dan menciptakan masalah.
Keempat, egosentris (self centered). Dalam berbagai situasi, mereka bisa tampak melontarkan ide cemerlang yang bertujuan demi kepentingan banyak orang dan perusahaan.
Kelima, emosional. Urusan menjengkelkan dengan orang tipe ini adalah temperamennya yang emosional. Bila ditegur atau dikritik, mereka bisa menjadi sangat sensitif dan defensif. Kritik dinilai sebagai serangan pada dirinya. Akibatnya, orang-orang ini menjadi sulit menerima masukan dan feedback dari orang lain.
Keenam, suka menyebarkan gosip dan berita negatif. Gosip yang mereka lontarkan mampu memengaruhi semangat dan kultur buruk kinerja. Akibatnya, aroma kecurigaan menguat di dalam timnya. Orang mudah berprasangka negatif. Dalam situasi macam ini, justru dialah yang sering dijadikan tempat curhat. Inilah momentum baginya menyebarkan virus pikiran negatif dan kecurigaan kepada semakin banyak orang.
Yang ketujuh, dia tidak pernah bersyukur. Saat mendapatkan hal-hal baik, orang macam ini tidak mampu mengungkapkan rasa syukur. Mereka berdalih perusahaan memang sepantasnya berlaku seperti itu.
Mitra profesional, berinteraksi dengan rekan kerja semacam ini, kita harus berhati-hati. Jangan terburu-buru untuk memberi stigma buruk dan langsung menyikapinya secara negatif. Tidak jarang, toxic employee lahir karena kekecewaan yang menumpuk dan tidak ada saluran ekspresinya.
Karena itu, dialog menjadi lebih penting dan sikap dewasa, lebih dibutuhkan di awal-awal dalam menghadapi mereka ini. Tak jarang juga, setelah didialogkan dan kekecewaannya mendapatkan jawaban, mereka bisa sembuh.
Baik sebagai rekan kerja maupun atasan bagi karyawan semisal Rita, kita harus tetap berlaku bijak. Terlalu cepat memberikan ’judment’ atau stigma negatif kepadanya akan menghilangkan potensi yang mungkin dimiliki yang bersangkutan, namun membiarkan menebarkan virus dalam lingkungan kerja juga akan mempengaruhi kinerja tim.
Seorang pimpinan dalam tim pun perlu peka untuk melokalisir ruang gerak dan pengaruh negatif dari mereka. Akhirnya, jika memang segala upaya dicoba dan mereka juga tidak sembuh, lebih baik kehilangan satu atau beberapa karyawan yang toxic daripada seluruh organisasi rusak.
Jadi berhati-hatilah, jangan-jangan ada toxic employee di sekitar Anda! [js]
Posted by jumadi on December 9, 2008 under Ideas @ Work, Leadership |
Beberapa saat lagi kereta akan tiba di stasiun Semarang. Semua penumpang telah bersiap-siap dengan masing-masing barang bawaan. Panji menyapa kembali kenalan di sebelahnya yang kemudian ia ketahui bersama Farid. Sebagai teman perjalanan, mereka telah berbincang sejak berangkat dari stasiun Gambir, Jakarta. Keduanya lalu bertukar nomor telepon dan saling menanyakan melanjutkan ke kota tujuan.

Kereta tiba di Semarang. Ini adalah stasiun terakhir kereta Argo Muria, artinya semua penumpang akan turun disini untuk melanjutkan ke tempat tujuan masing-masing. Biasanya penumpang kereta ini punya tujuan beragam, ada yang memang mau ke Semarang, ke Salatiga, Kendal atau kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Kudus, yang menjadi tujuan Panji.
Keluar dari stasiun riuh rendah suara penjemput berbaur dengan para sopir yang menawari jasa sewa kendaraan. Panji sempat berdiri di pinggir halaman parkir sejenak. Ia masih berpikir akan melanjutkan perjalanan dengan apa? Naik bis biasa atau sewa mobil. Bisa juga pakai taksi, atau naik ojek ke terminal. Banyak pilihan. Ia tampak agak ragu untuk memutuskan.
Sementara masih bingung, Panji duduk di kursi tunggu stasiun. Satu persatu orang meninggalkan tempat itu. Ada yang dijemput keluarganya, ada yang naik taksi, ada yang ke jalan raya menunggu bis di luar stasiun, ada juga yang naik taksi bahkan ojek dan becak. Semua telah melanjutkan perjalanannya sesuai dengan pilihan masing-masing.
Stasiun telah mulai sepi. Panji berdiri. Ia tidak boleh bingung. Ia harus memutuskan untuk memilih ke mana melanjutkan perjalanannya.
Mitra profesional, mengambil keputusan adalah salah satu tugas yang menjadi tanggungjawab pemimpin. Seorang leader sering dihadapkan pada pilihan-pilihan, bisa jadi pilihan itu mudah untuk diputuskan, namun tidak jarang pula dihadapkan pada pilihan sulit. Dan untuk itulah ia harus mengambil sikap tegas, keputusan mana yang ia pilih untuk dijalankan.
Sebagian keputusan yang kita ambil merupakan campuran berbagai macam ingatan, gagasan, perasaan, dan fakta yang kadang-kadang saling bertentangan. Sehingga “sentuhan” intuitif itu memungkinkan kita membiarkan data intuisi itu melengkapi data lain yang akan kita gunakan untuk mengambil keputusan. Jadi keputusan bisa diambil dengan menggunakan rasio maupun intuisi.
Menurut Quinn Spitser dan Ron Evans, intuisi adalah analisa kilat dari fakta dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter. Dalam bisnis, memang dikenal adanya intuisi bisnis. Di dalamnya ada wawasan, pengalaman, mental, dan perasaan. Bagi mereka yang memiliki intuisi bisnis yang tajam, maka dia tidak hanya mampu mengandalkan perasaan, tapi ada juga wawasan yang luas, pengalaman banyak, dan mental yang dalam. Intuisi ada empat tingkatan, yaitu bisa muncul melalui fisik, emosi, mental, dan spiritual.
Banyak cara mengembangkan intuisi, di antaranya seperti yang dikembangkan oleh Robert K. Cooper, Phd, yaitu: terjun ke dalam pengalaman, kerahkan kemampuan sedikit lebih banyak, tetap terbuka terhadap segala kemungkinan, atasi rasa takut, kenali dan cari cara untuk mengatasi apapun yang menghalanginya. Selain itu Cooper juga menyarankan, supaya peluang penginderaan harus ke luar dunia binis, berikan perhatian ekstra kepada tanggapan pertama terhadap pertanyaan-pertanyaan, perhatikan bagaimana intuisi berkomunikasi dengan diri kita, luangkan waktu beberapa menit saja dalam sehari untuk catatan kecerdasan emosional, dan jangan lupa memperluas rasa percaya diri.
Bersikap ragu-ragu ketika membuat keputusan adalah satu hal yang bisa mengurangi ketegasan sikap kepemimpinan seseorang. Dengan dilatih sedari dini, hal ini justru bisa menjadi satu keterampilan yang dibutuhkan di setiap pemimpin.
Dari kerangka berpikir tersebut juga akan dihasilkan beberapa alternatif pengambilan keputusan dengan memikirkan kemungkinan baik-buruknya berikut konsekuensi yang akan dijalani nantinya. Sebaiknya, sertailah argumen yang akurat dan tepat sebagai latar belakang dari setiap alternatif keputusan. Biasanya, sebuah keputusan akan mendapatkan berbagai respons dari teman sekerja atau anak buah. Apabila memiliki argumen yang kuat, tentu keputusan seseorang bisa diterima.
Selain itu, akan lebih bijaksana bila seorang pemimpin membuat tenggat waktu sendiri kapan harus menjatuhkan pilihan dari beberapa alternatif yang ada. Dengan demikian, ia pun tidak terlalu lama berkutat dalam mencari alternatif dan pedoman lain dalam membuat keputusan. Membuat keputusan yang tepat di waktu yang dibutuhkan adalah kunci utamanya. Patut diketahui, hal ini juga menjadi faktor pendukung bagi kesuksesan karir di kemudian hari serta memberi nilai lebih bagi seorang pemimpin seperti Anda.
Panji segera bergegas ke jalan raya, memberhentikan bis dan melanjutkan perjalanannya. Sekarang ia telah mengambil keputusan itu. [js]
Posted by jumadi on December 2, 2008 under Ideas @ Work |
Mitra profesional, saya yakin Anda sering melihat iklan di televisi kan? Iklan mana yang Anda ingat? Tentu diantara berbagai macam iklan tersebut ada beberapa yang yang Anda ingat bahkan nempel di benak Anda. Barangkali itu iklan produk rumah tangga, kartu telepon sampai rokok. Menurut Anda apa yang membuat iklan tersebut selalu Anda ingat, kenapa bukan merek lain yang sejenis?
Salah satu hal yang membuat sebuah iklan diingat pemirsanya adalah karena menampilkan sesuatu yang berbeda.
Di antara banyak bintang di langit, biasanya ada satu-dua bintang yang lebih menonjol dibanding dengan yang lainnya. Mungkin karena lebih terang cahayanya atau letaknya yang menyendiri di antara bintang lainnya. Demikian juga di tempat kerja. Mungkin banyak ‘bintang’ bersinar di tempat kerja Anda, tapi bagaimana agar ‘cahaya’ Anda bisa lebih ‘bersinar’?
Ya. Milikilah sesuatu yang berbeda. Be different. Dalam prinsip pemasaran disebut diferensiasi. Bahkan seorang pakar pemasaran, Jack Trout, menyebut pentingnya sesuatu yang berbeda dalam sebuah buku Differentiate or Die. Bentuklah citra diri Anda agar menjadi ‘sesuatu’ yang berbeda diantara seluruh karyawan yang ada dalam unit kerja Anda.
Bagaimana cara membangun citra diri? Hermawan Kertajaya dalam Marketing Yourself menjelaskan penerapan P-D-B dalam membangun citra diri ini.
Langkah awal adalah membangun positioning, yakni bagaimana Anda mampu secara tepat memposisikan diri Anda di benak pelanggan atau target pasar.
Elemen pertama ini harus ditentukan agar Anda memiliki identitas yang jelas di benak orang lain.
Nah, dalam konteks sebagai seorang karyawan, seperti tulisan saya sebelumnya (baca: Personal Branding, perlukah?) posisikanlah diri Anda dalam benak atasan, rekan kerja atau bawahan Anda sebagaimana yang Anda inginkan. Identitas inilah yang akan melekat dalam diri rekan Anda, bahkan sampai jika suatu saat akan berpisah dengan Anda.
Kedua adalah diferensiasi bagaimana Anda menampilkan perbedaan yang khas, unik dan kokoh hingga dapat terbedakan dengan orang lain meski dengan orang yang mirip sekalipun dengan Anda. Diferensiasi yang kokoh akan memperkuat positioning kita. Biarkanlah rekan kerja Anda melihat apa yang berbeda dalam diri Anda. Namun sekali lagi hati-hati dalam menafsirkan perbedaan, ada yang dikenal karena baik sekali atau sebaliknya, karena jelek sekali (lihat Tipe Karyawan di Kantor Kita).
Sedang yang ketiga adalah branding, yaitu bagaimana Anda membangun ekuitas merek diri Anda secara berkelanjutan.
Sesuatu yang berbeda kadang cenderung kontroversional. Masih ingat beberapa waktu lalu muncul ada iklan menirukan proklamasi? Atau iklan partai politik yang menampilkan gambar Soeharto dan menyebutnya guru bangsa? Iklan-iklan tersebut menjadi pembicaraan bahkan memenuhi banyak kolom dalam suratkabar karena pemberitaan yang kontroversional. Kontroversional ini berbeda tipis dengan kreativitas. Maka untuk menjadikan diri Anda berbeda dari yang lain kata kuncinya adalah kreativitas.
Jadi, agar sikap dan langkah kontroversi kita mengarah ke hal yang lebih baik, maka kuncinya adalah kita harus dapat berkontroversi yang didasari oleh pemikiran yang matang, sehingga tidak hanya sekedar beda, ngawur, atau bahkan orang lain bisa jadi menyebut kita pemberontak.
Yang harus dipahami, mendapat pengakuan atas penampilan beda kita, dan diterima di kalangan yang berbeda, seringkali itu butuh perjuangan ekstra keras. Tapi jangan menyerah, jangan mutung, apalagi sampai bunuh diri. Jangan! Kalo mau tampil beda, memang awalnya dibilang gendeng, kalo itu dari busana, mungkin awalnya dibilang sableng, kalo dari pemikiran. Tapi kalo kita yakin itu positif. Kenapa tidak?
Maka tampilkan diri Anda sebagai seorang karyawan yang berbeda dari yang lainnya, namun sekali lagi bukan sekedar beda. Wujudkan perbedaan itu dalam bentuk kreativitas. Dengan demikian Anda akan menjadi seorang yang dikenal oleh banyak orang dalam lingkungan kerja, baik itu rekan, bawahan, atasan bahkan sampai CEO atau karyawan perusahaan Anda dalam lingkup yang lebih besar.
So, be different!
Posted by jumadi on November 25, 2008 under Ideas @ Work |
Di dunia kerja, membangun hubungan baik sesama rekan kerja jelas sangat penting. Bagaimana pun, bersosialisasi dengan rekan kerja tak hanya membuat suasana kerja terasa lebih nyaman, tetapi produktivitas pun dijamin akan meningkat.

Berdasarkan pengalaman banyak orang, ide cemerlang seringkali mencuat karena adanya interaksi yang bagus dengan rekan kerja. Apalagi, sekarang ini penilaian kerja seseorang tidak melulu karena kecerdasan dan ketrampilannya sebagai individu. Dalam polling terakhir yang dilakukan oleh sebuah harian terkenal, mayoritas karyawan menganggap bahwa tampil serius dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan saja tidak cukup untuk mendongkrak karir seseorang. Kemampuannya bekerja sama dengan tim juga menjadi pertimbangan penting.
Nah, jika ingin sukses berkarir, salah satu syaratnya Anda harus bisa membangun hubungan yang baik dengan rekan kerja. Salah satu cara yang lebih efektif bila anda ingin mendapatkan kesempatan ke jenjang karir yang lebih baik, yaitu menjalin kontak (baik secara eksternal maupun internal), dan mencari tugas-tugas yang menantang namun potensial.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan agar sukses di tempat kerja, bukan cuma berhasil menyelesaikan pekerjaan dan membangun hubungan dengan rekan kerja, namun juga Anda bisa menjadi ’bintang’ di antara sesama pekerja di kantor Anda.
1. Bangunlah relationship.
Membangun kerjasama bukan hanya dengan rekan se-departemen anda, tapi juga lintas departemen. Jalinlah hubungan dengan rekan Anda di departemen lain. Bangunlah relationship dengan orang sebanyak mungkin dalam lingkup pekerjaan Anda. Dengan menjalin hubungan persahabatan dengan rekan kerja dari bagian lain, hal itu akan membuat anda dikenal sebagai figur yang supel, dan pada akhirnya akan membuka kesempatan anda mendapat promosi di masa datang atau kenaikan gaji.
Bila kelak anda ditunjuk untuk mengepalai suatu proyek, menjadi team-leader atau memimpin suatu unit kerja misalnya, luasnya pergaulan anda akan memudahkan anda untuk memilih orang-orang yang memang capable/ mampu dalam pekerjaannya.
2. Menjalin networking.
Memiliki jaringan koneksi ke perusahaan atau instansi lain akan membuat profil anda di mata rekan-rekan menjadi tinggi. Anda mungkin akan menjadi orang yang paling diandalkan karena mengetahui perkembangan dunia luar perusahaan. Dengan memiliki jaringan yang luas, Anda akan semakin dikenal dan dianggap memiliki kredibilitas. Selain itu, secara tidak langsung anda akan dianggap sebagai juru bicara tidak resmi perusahaan bagi orang lain, yang menunjukkan kemampuan leadership anda.
3. Berpikiran luas dan menguasai teknologi.
Jangan hanya melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri. Lihat dengan cara yang lebih luas dan sesuaikan dengan cara pikir orang lain. Selalu menambah wawasan di luar spesialisasi dan mempelajari hal-hal baru adalah ciri orang yang berpikiran luas.
Apalagi saat ini ada tren baru yang berlaku di dunia bisnis : siapa yang menguasai teknologi, maka dialah yang menguasai dunia. Menjadi orang yang gemar belajar menjadi nilai lebih bagi Anda. Bisa lebih dulu menguasai salah satu kemajuan teknologi seperti program-program komputer yang beredar sekarang ini akan membuat profil anda semakin tinggi di mata rekan-rekan kerja.
4. Aktif dan berani ambil resiko
Bangunlah dasar yang kokoh ketika memulai suatu pekerjaan atau menyampaikan gagasan. Itu memberikan kesan yang baik kepada rekan, bos, dan klien Anda. Karenanya inisiatif merupakan langkah utama untuk menjadi bintang. Inisiatif memiliki empat elemen yaitu melakukan hal di luar deskripsi kerja, membantu yang lain, berani mengambil resiko dan melakukan pekerjaan sampai tuntas.
Mungkin dalam karir anda akan menjumpai tugas sulit sehingga rekan-rekan kerja anda jadi enggan untuk dipilih sebagai project officer. Cermati baikbaik, mungkin pekerjaan ini bisa menjadi tiket utama anda mendapat kesempatan. Jangan takut gagal, sebab meski nanti akhirnya pekerjaan tersebut hanya bisa diselesaikan setengahnya saja, nama anda akan dikenal sebagai orang yang berani mengambil resiko dan mau bekerja keras.
5. Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Para bintang dalam suatu pekerjaan memiliki kemampuan mempersatukan orang untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan dengan cara memecat, menaikkan gaji, atau memberi jabatan. Mereka punya tiga komponen seorang pemimpin yang baik yaitu berpengetahuan, membawa energi ke tempat kerja dan lingkungan serta selalu memberikan perhatian pada setiap orang alam timnya.
6. Kenali perusahaan Anda
Jadilah orang yang paling memahami seluk beluk perusahaan Anda. Ketahuilah informasi selengkapnya tentang perusahaan, siapa yang dapat dipercaya dan yang sebaiknya dihindari serta bagaimana mengatur kompetisi dalam organisasi, perlu mendapat perhatian. Buka mata dan cari tahu. Apa pandangan atasan dan pekerja yang lebih lama dari Anda mengenai hal-hal yang sedang terjadi. Jadilah guru sendiri. Jadilah murid di tempat kerja.
7. Menjadi Komunikator yang baik
Seorang bintang di tempat kerja adalah ahli komunikasi yang hebat. Mereka tahu bagaimana cara membentuk percakapan, membatasinya dan menarik perhatian orang. Untuk itu, gunakan bahasa yang tepat dengan pendengar yang tepat pada waktu yang tepat.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah diri kita dari karyawan biasa menjadi seorang bintang ditempat kerja. Dan jika kita sudah bisa menjadi karyawan seperti itu, maka manajemen puncak akan menempatkan kita didalam sebuah daftar ‘khusus’. Daftar yang akan digunakan dalam pemilihan talent terbaik untuk suatu posisi tertentu. [js]
Posted by jumadi on November 19, 2008 under Ideas @ Work |
Bangun difajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat diterik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesukuran terpahat di bibir senyuman
(Kahlil Gibran)
Setiap hari kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Ada uang bekerja di kantor, di warung, di toko, bengkel, terminal, di jalan sebagai sopir, di pasar, sawah, lapangan atau di manapun kita berada. Hampir sepertiga waktu kita habiskan untuk bekerja, bahkan lebih.
Beruntung orang yang mempunyai pekerjaan. Apapun profesinya itu asalkan baik dan halal merupakan upaya yang benar untuk mencari nafkah. Setidaknya, lebih mempunyai aktivitas dalam mencari penghasilan dibanding dengan (maaf), seorang pengangguran. Namun, ada kalanya orang bekerja dibawah tekanan, dalam arti tidak merasa nyaman ketika melakukan pekerjaan itu.
Seorang karyawan misalnya, rata-rata ia akan menghabiskan waktu 8 jam setiap hari. Waktu yang sangat panjang dan melelahkan bila kita tidak menikmati pekerjaan, tidak nyaman, tidak bersemangat, apalgi sedih, malas, lesu bahkan mengantuk. Orang yang dalam keadaan seperti ini tidak memiliki produktivitas. Bahkan dipaksa sekalipun hanya akan membuang waktu dan tenaga, karena hasilnya tidak akan maksimal.
Bosan, jenuh dan tidak menikmati pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Apalagi jika pekerjaan sudah menjadi rutinitas semata. Business as usual. Perasaan tidak nyaman dengan keadaan, rekan sekerja atau atasan, dalam keadaan tertentu kerap menjadi faktor pemicu kejenuhan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar hal tersebut tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kita.
Dari beberapa literatur dan pengalaman dalam bekerja, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita bahagia menikmati pekerjaan kita.. Mudah-mudahan kita bisa menikmati pekerjaaan. Penghasilan dapat, hatipun senang.
1. Yakinlah bahwa bekerja adalah ibadah
Sebagaimana ajaran semua agama, bahwa bekerja adalah ibadah. Hal ini terkait dengan niat kita, apa yang kita lakukan, peras keringat, banting tulang, ketika diniatkan untuk ibadah, insya Allah akan memberikan semangat tersendiri dalam hati dan diri kita.
Seorang kepala keluarga misalnya, sungguh mulia jika niatan ini selalu ada dalam hatinya. Setiap melangkahkan kaki menuju tempat bekerja, ia niatkan untuk ibadah, mencari nafkah agar bisa menunaikan kewajiban dalam keluarganya, membantu sesama dan menguatkan ibadahnya. Hati menjadi ringan ketika melakukan pekerjaan
Tentu akan menumbuhkan semangat dalam diri Anda untuk selalu bekerja dan bekerja.
2. Cintailah pekerjaan Anda
Jika kita encintai sesuatu maka kita akan senang melakukan apapun untuknya. Demikian juga dalam bekerja. Berusahalah untuk mencintai pekerjaan Anda. Menjiwai apapun pekerjaan yang Anda lakukan akan menumbuhkan kecintaan pada profesi yang Anda jalani. Nikmatilah apapun yang bisa Anda lakukan untuk pilihan pekerjaan Anda.
Bila anda tetap saja tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan di lingkungan pekerjaan. Maka pekerjaan itu pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.
Jika anda juga tidak bisa melakukan hal itu, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja.
3. Jalinlah persaudaraan di lingkungan kerja.
Tidak jarang dalam lingkup kerja, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda suku dan agama, datang dari tempat yang jauh dan sama-sama merantau. Kita memang tak saling kenal sebelumnya. Tetapi alangkah indahnya ketika kita memperlakukan rekan kerja sebagai seorang saudara.
Dengan menganggap rekan kita sebagai saudaraa, akan sulit bagi kita untuk terlalu iri, saling curiga berlebihan, apalagi saling menjatuhkan. Tak akan terbesit sikap demikian karena sama saja dengan manghancurkan saudara sendiri. Kalau kita melihat sesama karyawan misalnya melakukan kesalahan, tentu tak ada sikap lain bagi kita untuk mengingatkannya, tentunya dengan cara personal dari hati ke hati, bukan di tempat umum karena bisa menyakitkannya. Atau jadikan atasan sebagai perantara untuk mengingatkan. Dengan ketulusan, hal seperti ini akan menumbuhkan keindahan.
4. Ciptakan suasana yang nyaman.
Ciptakan suasana yang nyaman dalam setiap situasi kerja Anda. Ruang kerja, dekorasi ruangan maupun suasana interaksi antar sesama. Membangun komunikasi empatik juga cara yang baik menciptakan kenyamanan. Seperti saling menanyakan kabar baru, menjaga seyuman dan sapaan-sapaan ramah lainnya, termasuk canda tawa kadang diperlukan asalkan tak berlebihan. Ada canda tawa yang membuat suasana cair, tak hanya di level bawah, jajaran pimpinan pun kerap terlibat dalam canda tawa itu sehingga suasana kantor mengasyikkan. Begitulah, hari-hari begitu menyenangkan
Sesekali pergilah bersama rekan kerja Anda, nonton bareng, nge-bakso, jalan-jalan atau sekedar ngobrol di halaman kantor saat selesai jam kerja. Nikmatilah kebersamaan dan rasakanlah kenyamanan dalam bekerja. [js]
Posted by jumadi on November 17, 2008 under Ideas @ Work, Marketing Ideas, Wirausaha |
Agus tiba-tiba kelihatan marah. Durian yang barusan dibelinya tidak sebagus yang diharapkan. Bahkan boleh dibilang buruk. Di bulan-bulan ini memang buah durian sedang banyak dijual, harganya menjadi murah. Sambil ngomel Agus menyesal membeli durian di pasar Doro. Padahal pedagangnya bilang ini durian bagus. Kualitas terbaik.

Melihat hal tersebut Antin, teman kerjanya, mendatangi Agus dan berkata “Makanya kalo beli durian di Jalan Nusantara aja, dekat simpang. Bapaknya yang jual baik banget.” Antin menceritakan pengalamannya di tempat yang dimaksud. Penjualnya mengatakan kualitas barangnya dengan sebenarnya. Jika bagus, ia bilang bagus. Jika memang tidak bagus, juga ia katakan kepada calon pembelinya, bahkan menunjukkan letak cacatnya dan ia tidak memberikan kecuali yang terbaik. Begitu cerita itu tersebar sehingga para pelanggannya bertambah. Hampir semua orang di Pekalongan tahu tempat Bapak penjual durian yang jujur itu. Dekat masjid Baitul Karim, tempat ia sholat setiap waktunya tiba.
Seorang anak terlihat serius menyemir sepatu di ruang tunggu terminal Pekalongan. Di depannya, seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi sambil membaca koran lokal. Sesekali laki-laki itu mengajak bicara tukang semir tersebut. Setelah selesai, sepatu itu dikembalikan kepada pemiliknya. Laki-laki itu menyodorkan uang dua ribu rupiah sambil mengucapkan terima kasih.
Namun lelaki muda itu kaget ketika sang anak mengembalikan uangnya “”Kebanyakan Om… ongkosnya seribu saja.”
Dug ! Lelaki muda ini terhenyak. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatinya. “It-just-does-not-compute-with-my-logic!” Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.
Kejujuran.
Sebuah nilai yang agung dan terbukti menjadi kunci segala keberhasilan. Dalam buku The Corporate Mystic, Gay Hendricks dan Kate Ludeman memasukkan Kejujuran sebagai poin pertama dari 12 ciri pemimpin abad 21. Setiap pemimpin korporasi yang diwawancarai mengatakan hal yang sama: Rahasia sukses dalam bisnis adalah berkata jujur.
Mega-entrepreneur Indonesia, AA Gym sering menyinggung dalam setiap ceramahnya tentang menjadi orang terpercaya sebagai modal utama dalam bisnis. Ippho Santosa, marketer muda Batam yang sedang naik daun memasukkan Be Credible sebagai poin pertama dalam Eternity Marketing-nya. Hermawan Kertajaya memasukkan Guard Your Name, Be Clear and Who Your Are dalam “The 10 Credos of Compassionate Marketing”-nya.
Dan semuanya mencontoh pada kesuksesan Nabi Muhammad dalam berdakwah dan berbisnis dengan modal kejujurannya. Al Amin. Itulah julukan yang diberikan kawan maupun pesaingnya. Jauh lebih bermakna daripada Mr. Clean atau Mister Trusty.
Nilai Insan Gemilang yang menjadi salah satu value dalam melakukan bisnis yang dimiliki Indosat memasukkan Kejujuran dalam poin pertama : Integritas. Bank BRI juga memasukkan Integritas sebagai nilai-nilai penting dalam perusahaan. Dan saya yakin hampir semua korporasi mengungkap hal ini.
Seorang marketer yang jujur akan mendapatkan keuntungan ganda, meraih pelanggan, produknya terjual dan meraih kepercayaan orang lain. Jika ada pepatah. Juallah diri sebelum menjual produk, itu memang benar adanya. Sebaliknya seorang marketer tanpa memiliki kejujuran akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Lebih dari itu kredibilitas pribadinya akan hancur.
Dalam agama, seorang marketer yang jujur dan terpercaya akan mendapatkan limpahan karunia dan berkah dari-Nya. Bahkan pedagang yang jujur mendapatkan kemulian yang setara dengan para syuhada.
Jadi, bersikaplah Jujur! [js]
Posted by jumadi on under Ideas @ Work |
Dalam dunia kerja, ada kesepakatan yang menjadi rahasia umum yang disebut aturan si Bos. Aturan ini memiliki 3 pasal. Pasal 1, bahwa bos selalu benar. Pasal 2, jika Bos salah, lihat pasal 1. Pasal 3, habis perkara.
Itu hanya anekdot yang kita temukan dalam keseharian kita saat berkerja. Namun dalam kenyataannya memang kita tidak memungkiri bahwa posisi atasan kita sebagai bos memiliki peranan yang menentukan. Hampir semua pendapatnya mendekati keputusan. Dalam dunia modern seperti sekarang model kepemimpinan sudah banyak berubah meskipun dalam hal pengambilan keputusan bos memang berperan penting, namun ide, gagasan dan pendapat bawahan juga menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Inilah saatnya bagi Anda untuk memberikan kontribusi. Gunakan saat yang tepat untuk menyampaikan ide atau gagasan Anda kepada atasan. Jika si bos sudah setuju dengan ide Anda, dijamin, ide-ide tersebut bisa diterima juga oleh yang lain.
Nah, bagaimana cara mempengaruhi si bos agar menerima ide-ide Anda? Untuk memperlancar diterimanya ide Anda oleh bos, ada beberapa tips yang layak Anda jadikan pertimbangan, yaitu:
Pilih waktu yang tepat
Ide yang baik disampaikan pada saat yang tepat. Forum rapat, diskusi terbatas dan saat briefing adalah sebagian waktu yang biasanya dimanfaatkan oleh para bos untuk menerima masukan dari bawahannya. Manfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Di samping itu juga sebagian perusahan atau organisasi menyediakan kotak saran khusus untuk para karyawan. Fasilitas online seperti intranet juga biasanya menyediakan forum untuk menyampaikan ide. Anda juga menggunakan waktu menghadap face to face dengan bos untuk menyampaikan ide dengan baik.
Perhatikan body-language si bos.
Pakar jiwa mengatakan, seseorang yang mood nya sedang bagus, akan memandang lingkungannya secara positif. Perhatikan mood si bos dari wajah dan gerak geriknya.
Jika dalam seharian ia tidak tersenyum, bahkan menghindari tatapan mata dengan anak buahnya, berarti saat itu bukan waktu yang tepat untuk mengemukakan ide. Hati-hati dengan kondisi seperti ini. Jangan paksakan untuk menyampaikan pendapat, karena dalam situasi tersebut bos sedang tidak nyaman menerima masukan, salah-salah anda akan mendapat sikap sinis atau paling tidak di-cuekin.
Namun sebaliknya kalau wajah bos tampak sumringah dan rajin menyapa anak buah, inilah saat Anda mengajak bos untuk mendengarkan ide Anda. Kondisi jiwa yang sedang senang akan lebih mudah menerima masukan dan pendapat orang lain. Jadi kondisi psikologis atau mood sangat menentukan diterima dan tidaknya masukan yang Anda berikan.
Pilih suasana yang tepat
Sering dengar alasan kenapa bos suka main golf? Sebagiannya karena pada saat di lapangan golf mereka melakukan lobi dengan relasi. Saat seperti itu memang waktu yang sering dipilih untuk melakukan lobi karena kondisinya rileks. Carilah waktu saat bos Anda melakukan aktifitas hobinya, saat itulah waktu yang tepat untuk memberikan masukan kepadanya.
Jika atasan Anda suka olahraga, mancing atau bersepeda, saat seperti itulah dia sering mendengarkan pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan tidak jarang keputusan diambil pada saat para bos sedang melakukan hobinya.
Sentuhlah emosinya baru jelaskan alasan rasionalnya
Untuk kita ketahui bersama, 90 persen keputusan didasarkan oleh emosi yang dibenarkan oleh rasio. Maka jika mengungkapkan ide, kemukakan keuntungan dan kelebihan ide Anda terlebih dahulu. Lalu berikan alasan rasional tentang ide tersebut.
Bos lebih suka diminta pendapat
Meskipun kadang menerima pendapat, pada dasarnya bos lebih suka diminta pendapat. Oleh akrena itu, walapun Anda mengungkapkan ide dengan antusias dan percaya diri, jangan lupa untuk minta pendapat bos tentang ide Anda.
Tanpa meminta pendapat, bos akan menganggap Anda terlalu sombong dan tidak menghargai keberadaan bos. Jangan lupa juga untuk sedikit menyanjungnya, misalnya dengan mengatakan bahwa ide Anda itu tidak ada artinya tanpa dukungan bos. Tidak perlu khawatir Anda dianggap mencari muka. Sanjungan yang wajar berbeda dengan mencari muka, bukan?
Biarkan bos yang menilai
Serahkan keputusan kepada bos untuk menilai ide Anda. Karena membiarkan orang lain menilai pendapat Anda menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang ‘reasonable’. Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa Anda pandai menghargai orang lain, terlebih orang itu adalah seorang bos yang cukup besar pengaruhnya terhadap anak buah.
Jadi, jika Anda sudah melakukan semua hal tadi, tunggulah keputusan apakah ide Anda akan diterima, ditampung atau ditolak. Tapi apapun hasilnya, yang penting Anda sudah berani mengungkapkan ide. Dan yang lebih penting, kalau ide Anda ditolak jangan berhenti untuk menyampaikan ide yang lebih berbobot di lain kesempatan. [js]