Posted by jumadi on February 19, 2009 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri |
Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya.
Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,
“Ooo… saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!” Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.
Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya
pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh.
Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, “Ooo… ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak.” Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.
Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia.
Ia berkata, “Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak.” Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, “Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.”
Mitra profesional, kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata
yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk kerja yang realistis.
Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang- orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa saja menyeret kita dalam keterpurukan.
Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.
Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus
Tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali, Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, hingga Tukul Arwana, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.
Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:
1. Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.
2. Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.
3. Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka inginkan. Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras, dan mental yang kuat.
Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi.
Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.
Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik. Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum. [js]
Posted by jumadi on December 18, 2008 under Ideas @ Work, Motivasi & Pengb. Diri |
Rafting, what is inside?
Seru … itulah kalimat yang muncul dari teman-teman yang mengikuti arung jeram di sungai Progo, Magelang, beberapa waktu lalu.
Setelah sehari sebelumnya mengikuti Pelatihan Excellent Customer Service di Semarang, pagi harinya Tim Reps. Pekalongan berangkat ke Magelang, tepatnya menuju kawasan Hotel Puri Asri. Di sanalah petualangan ini dimulai.
Melakukan aktivitas arung jeram ternyata sangat mengasyikkan. Banyak tantangan tak terduga selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam. Ditengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk istirahat sejenak..Awalnya, beberapa orang merasa ragu-ragu apakah sanggup mengikuti aktivitas ini atau tidak. Apalagi malam sebelumnya diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan begitu beratnya tantangan dalam arung jeram. Namun setelah setengah perjalanan kami sangat menikmati perjalanan mengarungi sungai progo ini, bahkan merasa penasaran untuk mengulang kemblai.
Banyak pelajaran yang kita dapatkan dalam sebuah ekspedisi arung jeram, antara lain:
· Trust, saling percaya.
· Melatih berpikir out of the box.
· Melatih mental untuk siap dalam menghadapi tantangan.
· Melatih kewaspadaan. Dari awal hingga akhir perjalanan, kita tidak boleh lengah sedikit pun, karena cukup banyak hal-hal tak terduga bisa saja terjadi.
· Pentingnya team bulding. Setidaknya setiap peserta harus saling menjaga keseimbangan dan saling membantu agar temannya jangan sampai terjatuh.
· Taat pada pimpinan. Setiap anggota tim harus patuh dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh pimpinan perahu, karena jika tidak dapat membuat perahu oleng atau bahkan terbalik
· Melatih diri untuk selaras dan harmonis dengan alam. Tidak boleh ada kesombongan sedikitpun dalam hati kita. Karena di saat seperti itu, terasa sekali betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT, Sang Maha Pencipta alam semesta ini.
Itulah sekelumit pengalaman yang bisa saya sharing. Saya anjurkan, sesekali cobalah melakukan aktivitas yang di luar kebiasaan, terutama kegiatan di alam bebas. Saya yakin Anda akan menemukan banyak hikmah dan pelajaran baru. Selamat beraktivitas. [js]
Posted by jumadi on December 16, 2008 under Ideas @ Work |
Rita adalah karyawan yang baru bergabung dalam timnya Panji. Belum ada 2 bulan Rita pindah dari cabang lain dan bergabung bersama tim yang oleh Panji disebut ‘the dream team’ karena kekompakan dan restasi yang sering dibuat oleh timnya itu. Panji juga sebenarnya belum lama. Belum ada setahun ia memegang sebagai area sales manager di kota ini. Meski begitu, sejak ia pegang, area ini selalu menjadi juara dalam berbagai kompetisi baik terkait dengan sales performance maupun non sales performance.
Namun sejak kahadiran Rita, ada sesuatu yang lain terjadi disini. Gadis yang asli kota ini baru dipindah dari cabang lain dan memegang salah satu fungsi di sales support officer . Sebenarnya tugasnya tidak terlalu berat, hanya melakukan follow up customer yang sudah deal dengan sales, melengkapi dan melakukan verifikasi data dan membuat janji untuk serah terima barang dengan customer.
Yang membuat karyawan lain agak gerah adalah sikap Rita yang terkesan seenaknya. Kadang datang terlambat -meskipun sudah ijin sebelumnya-, pulang lebih cepat, tiba-tiba sakit atau sikap kepada pelanggan yang terkadang kurang mencerminkan good service. Beberapa kali juga sempat clash dengan rekan lain akibat dari perbedaan pendapat yang sepele.
Panji menghawatirkan jika sikap Rita yang demikian akan menimbulkan ketidakharmonisan bahkan menimbulkan ‘penyakit’ bagi timnya yang sudah solid. Kehadiran Rita ibarat toxid dalam timnya. Eny, salah satu team leadernya yang membawahi corporate sales bahkan menyebutnya the toxid employee.
Apa itu toxid employee?
Toxic employee sering didefinisikan sebagai karyawan yang menjadi racun bagi organisasi/ perusahaan tempat bekerja dan karyawan lain dalam timnya. Sesuai dengan sifatnya, racun jika diberikan dengan kadar dibawah dosis tidak akan memberikan efek apa-apa, jika kadarnya sesuai dosis akan menjadi obat, namun jika kadarnya diatas dosis akan menjadi sangat berbahaya, sangat merugikan bahkan dapat mematikan.
Menurut Anthony Dio Martin, seorang psikolog sekaligus penulis buku EQ Motivator, yang menguatkan pendapat Dr.Robert K Bitting (toxic employee) bahwa karyawan seperti ini biasanya menunjukkan sifat-sifat sebagai berikut:
Pertama, adalah negaholic yaitu kecenderung selalu berpikir negatif dan pesimistis. Untuk setiap gagasan yang sebenarnya baik dan progresif, namun bila mereka ditanya pendapatnya, mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan.
Kedua, mereka menjadi duri dalam daging bagi tim. Akibatnya, energi tim lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan dan melaksanakan ide kemajuan proyek. Pikiran, sikap, dan tindak-tanduknya menyita banyak perhatian dan energi tim. Orang-orang tidak fokus lagi pada memajukan proyek, justru terbekap dan energinya habis untuk meladeni pikiran dan kritikan dari si toxic employee ini. Intinya, toxic employee mengurangi laju perkembangan kerja tim.
Ketiga, mereka lebih banyak menjadi masalah ketimbang memberikan solusi. Kadang, mereka bisa menjadi sangat kritis dan jeli dalam melihat permasalahan. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ke situ. Mereka melihat masalah, menyebutkan masalah, dan menciptakan masalah.
Keempat, egosentris (self centered). Dalam berbagai situasi, mereka bisa tampak melontarkan ide cemerlang yang bertujuan demi kepentingan banyak orang dan perusahaan.
Kelima, emosional. Urusan menjengkelkan dengan orang tipe ini adalah temperamennya yang emosional. Bila ditegur atau dikritik, mereka bisa menjadi sangat sensitif dan defensif. Kritik dinilai sebagai serangan pada dirinya. Akibatnya, orang-orang ini menjadi sulit menerima masukan dan feedback dari orang lain.
Keenam, suka menyebarkan gosip dan berita negatif. Gosip yang mereka lontarkan mampu memengaruhi semangat dan kultur buruk kinerja. Akibatnya, aroma kecurigaan menguat di dalam timnya. Orang mudah berprasangka negatif. Dalam situasi macam ini, justru dialah yang sering dijadikan tempat curhat. Inilah momentum baginya menyebarkan virus pikiran negatif dan kecurigaan kepada semakin banyak orang.
Yang ketujuh, dia tidak pernah bersyukur. Saat mendapatkan hal-hal baik, orang macam ini tidak mampu mengungkapkan rasa syukur. Mereka berdalih perusahaan memang sepantasnya berlaku seperti itu.
Mitra profesional, berinteraksi dengan rekan kerja semacam ini, kita harus berhati-hati. Jangan terburu-buru untuk memberi stigma buruk dan langsung menyikapinya secara negatif. Tidak jarang, toxic employee lahir karena kekecewaan yang menumpuk dan tidak ada saluran ekspresinya.
Karena itu, dialog menjadi lebih penting dan sikap dewasa, lebih dibutuhkan di awal-awal dalam menghadapi mereka ini. Tak jarang juga, setelah didialogkan dan kekecewaannya mendapatkan jawaban, mereka bisa sembuh.
Baik sebagai rekan kerja maupun atasan bagi karyawan semisal Rita, kita harus tetap berlaku bijak. Terlalu cepat memberikan ’judment’ atau stigma negatif kepadanya akan menghilangkan potensi yang mungkin dimiliki yang bersangkutan, namun membiarkan menebarkan virus dalam lingkungan kerja juga akan mempengaruhi kinerja tim.
Seorang pimpinan dalam tim pun perlu peka untuk melokalisir ruang gerak dan pengaruh negatif dari mereka. Akhirnya, jika memang segala upaya dicoba dan mereka juga tidak sembuh, lebih baik kehilangan satu atau beberapa karyawan yang toxic daripada seluruh organisasi rusak.
Jadi berhati-hatilah, jangan-jangan ada toxic employee di sekitar Anda! [js]