Political Marketing: Cara Cerdas Menggaet Pemilih
Kemenangan Barrack Obama dalam pemilihan presiden Amerika beberapa waktu lalu bukan hanya sekedar kepiawaian dalam negosiasi politik semata, namun juga karena Obama berhasil menjalankan pemasaran secara maksimal. Salah satu kunci keberhasilannya adalah karena ia dan timnya melakukan kampanye secara online secara optimal. Hughes, salah satu tim kampanyenya adalah seorang pendiri komunitas facebook. Melalui media ini Obama meraih banyak simpati massanya. Ia juga menjalankan kaidah pemasaran secara baik. Tim suksesnya membuat perencanaan P-D-B atau positioning, differentiating dan brand dengan seksama dan menjalankan program marketing dengan optimal.
Begitu juga dengan keberhasilan calon-calon gubernur, walikota dan bupati dalam banyak Pilkada yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir. Sebutlah misalnya, keberhasilan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Jawa Barat, Syamsul Arifin-Gatot Pujonugroho di Sumatera Utara adalah salah satu keberhasilan sosialisasi yang optimal. Atau sebelumnya kampanye politik based on research yang dilakukan Ismet Abdullah di Kepulauan Riau. Demikian juga kesuksesan gubernur Jateng Bibit Waluyo dan walikota Tegal Ikmal Jaya tidak terlepas dari aspek-aspek pemasaran yang dibangun sebelumnya.
Jika saat ini kita lihat ratusan gambar foto-foto caleg terpampang di hampir seluruh sudat jalan, mulai dari jalan protokol sampai gang-gang dan perkampungan, banyaknya iklan di media massa baik lokal maupun nasional, apakah itu salah satu bentuk political marketing?
Marketing untuk Partai Politik
Melihat aktivitas yang dilakukan parpol dan caleg akhir-akhir ini, kita tahu bahwa semua telah menyadari bahwa partai atau caleg juga butuh marketing. Namun belum banyak yang menjalankan secara sistematis dan tepat sasaran.
Pemilu saat ini berbeda dengan pemilu tahun 2004 lalu. Apalagi jika dibanding masa Orde Baru. Dari sisi pemilih, saat ini parpol juga menghadapi pemilih yang kritis, empowered, dan situasional. Dan yang paling penting persaingan antar parpol kini sudah tidak mengenal lagi yang namanya tekanan, paksaan, tipu daya dan sejenisnya. Semuanya dilakukan secara fair dengan aturan main yang jelas dan transparan. Kalau sudah demikian maka keunggulan bersaing parpol-lah yang akan menjadi faktor penentu kemenangan parpol.
Political marketing dan aspek-aspek pendukungnya
Bukan hanya sekedar iklan dan membangun pencitraan saja, tapi parpol juga harus secara tepat membangun diferensiasi yang akan menjadi pilar keunggulan berkompetisi. Pada saatnya yang tepat parpol harus melakukan aktivitas brand-building agar dipersepsi baik dan dapat menumbuhkan loyalitas di kalangan para pemilihnya. Intinya, seperti halnya perusahaan, parpol butuh strategi marketing yang tepat secara menyeluruh. Bagaimana menerapkannya dalam konteks pemilu?
Political marketing dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek, untuk menyebarkan makna politik kepada pemilih. Tujuannya adalah membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, orientasi dan perilaku pemilih. Perilaku yang diharapkan adalah secara umum mendukung, dan khususnya memilih partai kita.
Saat ini pasar pemilih yang sudah sedemikian terfragmentasi dengan pemain yang begitu banyak, hampir dapat dipastikan tidak ada parpol yang akan menjadi single majority. Pasar pemilih pasti akan terbagi-bagi ke semua partai yang jumlahnya. Karena itu parpol harus secara tegas menetapkan target pasar pemilihnya.
Yang sudah memiliki basis yang kuat di massa pemilih, dengan mengelola secara optimal massa yang niche akan memberikan dukungan yang riil. Strategi targetting dengan baik dimainkan oleh PKS dan PDIP pada pemilu yang lalu. Dengan mengelola kadernya yang militan dan terget yang fokus, PKS meraih kemenangan di kota-kota besar. Dengan target wong cilik PDIP memiliki pemilih riil dan dukungan yang signifikan.
Setelah target pasar terpilih, jalankan aspek positioning. Melalui positioning inilah parpol menempatkan diri di benak massa pemilihnya. PAN menempatkan dirinya sebagai partai reformis dan universal. PDI perjuangan dengan pembelaan kepentingan rakyat kecil. Gerindra dengan bidikanya petani dan nelayan atau PKS yang mengambil posisi sebagai partai yang bersih, peduli dan profesional.
Positioning inilah yang kemudian harus dikomunikasikan ke seluruh stakeholder partai lewat aktivitas promosi baik melalui media release, TV, radio, media online, iklan di koran, baliho, flyer atau pengenalan langsung melalui direct-selling.
Agar positioning kuat, ia harus didukung oleh diferensiasi yang kokoh. Diferensiasi ini bermacam-macam, ada yang bentuknya SDM dan para pemikir partai yang handal, dengan konsep-konsep program yang realistis. Basis massa, struktur yang kuat hingga ke ranting-ranting, atau mungkin juga pemimpin yang mumpuni dan karismatis.
Diferensiasi harus didukung konten dan konteks nyata dari partai yang bersangkutan. Kredibilitas sangat penting dalam hal ini. Jika sebuah partai menyebut dirinya anti korupsi, tapi anggota dewannya dalam periode sebelumnya terlibat korupsi, tentu tidak menjadi diferensisasi. Jika sebuah partai menyebutkan dirinya sebagai partai berasas Islam, misalnya maka anggotanya harus memperlihatkan akhlakul karimah.
Untuk mendukung semua itu, parpol perlu melengkap komunikasi pemasaran dengan membangun hal-hal sebagai berikut: mengkomunikasikan pesan dan gagasan, mengembangkan identitas jatidiri, kredibilitas dan tranparansi, interaksi dan respons dengan komunitas internal dan eksternal dengan melakukan pencitraan partai, menyediakan pelatihan, mengolah dan menganalisis data untuk kepentingan kampanye, secara terus menerus mempengaruhi dan mendorong komunitas untuk mendukung partai.
Namun bukan hanya produk politik yang harus dijual, melainkan semua unit dalam sistem kinerja partai layak dan harus dijual. Antara lain yang sering dilupakan orang: kinerja institusi partai, anggota dan perilakunya, kinerja kandidat terpilih dalam pemilu sebelumnya, dll.
Jadi praktisi political marketing tidak hanya harus canggih dalam mengelola iklan, memperbanyak gambar partai atau foto kandidat sehingga memenuhi jalanan dan gang-gang saja, namun lebih daripada itu: menerapkan prinsip pemasaran secara tepat, mengelola basis pemilih, memperbaiki kinerja partai secara umum, menampilkan kandidat yang memiliki reputasi baik, melakukan komunikasi secara tepat dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menunjukkan peran yang signifikan dalam masyarakat.
Pemilih sudah cerdas. Bisa membandingkan mana partai yang telah menunjukkan kinerja yang baik, mana yang benar-benar peduli dan mana yang hanya slogan. Kandidat mana yang telah berbuat dan mana yang hanya berjanji. Karena itu partai dan caleg juga harus lebih cerdas dalam melakukan komunikasi, jika tidak ingin disebut hanya mengumbar janji.
Jumadi Subur adalah pengamat bidang marketing dan branding,
Saat ini mengabdi di Tegal sebagai Marketing Manager di INDOSAT.
